Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Ilmuwan Temukan Cara untuk Membangkitkan Orang Mati

Written By Unknown on Senin, 28 Oktober 2013 | 10.47


KOMPAS.com — Para ilmuwan memiliki gagasan tentang cara untuk menyadarkan seseorang yang sudah dinyatakan meninggal.

Gagasan tersebut dibahas dalam pertemuan New York Academy of Science, menghadirkan Dr Sam Parnia dari State University of New York di Stony Brook, Stephan Meyer dari Columbia University, dan Lance Becker dari University of Pennsylvania.

Dalam pertemuan itu dibahas bahwa kunci penyadaran kembali atau resusitasi pada orang yang baru saja meninggal itu ialah proses hipotermia atau pendinginan tubuh dan pengurangan suplai oksigen.

Gagasan ilmuwan didasarkan pada pandangan baru tentang kematian. Sebelumnya, kematian didefinisikan sebagai saat di mana jantung sudah berhenti berdetak dan paru-paru berhenti bekerja sehingga individu tidak bernapas.

Dalam pandangan baru, kematian tidak dianggap sebagai peristiwa yang terjadi secara serentak di semua bagian tubuh, tetapi sebagai proses bertahap. Saat detak jantung dan napas individu terhenti, sel individu sebenarnya masih hidup.

Kematian total, kiranya bisa dikatakan demikian, baru terjadi ketika sel-sel otak kekurangan oksigen, akibat terhentinya jantung dan napas, sehingga rusak dan mengirim sinyal bagi sel-sel lain menjelang saat kematian.

Dalam gagasan ilmuwan, ada jeda antara henti jantung dan napas dengan kematian total. Jeda itu yang kemudian dimanfaatkan untuk melakukan tindakan sehingga orang yang sebelumnya dinyatakan telah mati bisa sadar kembali.

Proses tersebut harus dilakukan secara hati-hati. Salah satu perhatiannya, upaya menyadarkan orang yang telah meninggal harus tidak mengakibatkan kerusakan otak akibat jantung yang berhenti menyuplai oksigen.

Diberitakan Huffington Post, Senin (21/10/2013), kunci penyadaran kembali tanpa merusak jaringan otak salah satunya adalah hipotermia, yakni tubuh didinginkan beberapa derajat lebih rendah daripada suhu normalnya 37 derajat celsius.

Berdasarkan studi, hipotermia bisa mencegah kerusakan sel otak dengan menurunkan permintaan oksigennya. Namun, ini tetap ada batasannya. Ada momen ketika kerusakan memang sudah terlalu besar sehingga tak bisa dikembalikan.

Kemudian, setelah prosedur hipotermia dan jantung bekerja, kunci lainnya adalah menjaga suplai oksigen. Suplai oksigen yang tiba-tiba besar justru akan berdampak negatif karena akan merusak jaringan otak.

Hipotermia terbukti membantu prosedur resusitasi. Namun, bahkan di Amerika Serikat, tak semua rumah sakit menerapkan prosedur hipotermia. Hal ini menjadi keterbatasan untuk mengupayakan resusitasi yang berhasil.

Tentang suplai oksigen, Parnia menuturkan, suplai harus diatur dengan mesin agar jumlah oksigen yang dialirkan sesuai yang dibutuhkan.

Penyadaran kembali orang yang telah meninggal ini menimbulkan pertanyaan etis. Pasalnya, upaya menyadarkan kembali orang yang telah berjam-jam mengalami henti jantung berisiko pada kerusakan otak. Siapa yang kemudian bertanggung jawab melakukan proses resusitasi lebih komprehensif?

Mayer mengungkapkan, keterbatasan saat ini adalah pengetahuan tentang kerusakan otak. Ilmuwan belum mengetahui seberapa lama kerusakan bertahan dan apakah bisa dikembalikan ke kondisi semula.

Mayer mengungkapkan, masih perlu pembelajaran lebih lanjut. Namun, ia mengatakan bahwa ilmuwan juga tak bisa begitu saja mengatakan bahwa kerusakan otak tak bisa dikembalikan.

Sementara, Becker menuturkan, upaya penyadaran tidak selalu bisa dilakukan di setiap kasus. Namun, sekali dokter memutuskan, dokter harus menerapkan semua metode yang mungkin bisa dilakukan.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Menyingkap Misteri Capung dengan Tas Punggung Mini


KOMPAS.com — Dalam sebuah ruangan tak berjendela di utara Virginia, ahli saraf Anthony Leonardo akan membuka pintu. "Cepat!" katanya. "Di sini ada ribuan lalat buah dan kami tidak mau mereka semua kabur." Lalat buah bukanlah subyek dari penelitian Leonardo, melainkan makanan bagi subyek utamanya: capung.

Leonardo mempelajari bagaimana capung menangkap mangsa menggunakan perangkat yang sangat mini. Yakni berupa tas yang diletakkan di punggung capung dan berfungsi mencatat rekaman dari sistem saraf si capung kala mengejar makanan.

Leonardo dan koleganya bekerja di pusat riset Howard Hughes Medical Institute (HHMI) di Janelia Farm, Ashburn, Virginia. Lalat buah dan capung terbang di arena dalam ruangan dengan cahaya terang dan suhu lembab. Dengan demikian, capung akan merasa tinggal di ekosistem sebenarnya. Bahkan dindingnya pun dihiasi dengan foto mural yang menunjukkan lanskap di luar ruangan.

Ketika kamera dalam ruangan dinyalakan, Leonardo dan koleganya bisa melihat pergerakan dari capung. Melacak mereka saat melakukan manuver presisi dengan empat sayapnya. Bukanlah hal mudah bagi sebuah subyek menangkap subyek lain yang bergerak. Namun, ini bisa dilakukan capung dengan cukup mudah.

Meski demikian, dalam level saraf, ini membutuhkan kerja yang tidak demikian, sangatlah rumit.  Capung mampu mendeteksi keberadaan lalat dan di saat bersamaan sangat fokus hingga akhirnya mendapatkan si lalat sebagai makanan. "Kita hanya mengerti sedikit mengenai bagaimana otak mengintegrasikan informasi sensorik dan motorik," ujar Leonardo.

Secara sederhana dijelaskan mengenai cara kerja tas punggung mini ini. Leonardo merekatkan kabel perak dan serat karbon untuk membuat antena. Kemudian memotong cip kecil warna hijau dan merekatkannya bersamaan. Barulah kemudian ditempelkan di bahu si capung.

Para peneliti yang terlibat berhasil mengurangi bobot tas ini dengan membuang baterainya. Dengan demikian, berat dari tas ini hanya sekitar 40 miligram, sama seperti saat capung ini membawa dua keping beras sehingga mereka tidak akan terlalu terganggu memakainya.

Tas ini juga memiliki kabel kecil yang terhubung dengan sistem neuronnya. "Saat binatang ini menampilkan perilaku menghalang yang cukup rumit, tas ini bertindak layaknya radio yang mengirim sinyal dari neuron ke komputer kami," jelas Leonardo.

Dalam pemikiran awal manusia, tampaknya capung ini menangkap mangsanya dengan tetap terbang di lajur visualnya lalu terbang mendekat. Kini, Leonardo berasumsi bahwa cara tubuh capung bekerja menentukan pergerakannya. "Ini kerja yang luar biasa," kata Adrienne Fairhall sebagai ahli saraf komputerisasi dari University of Washington. (Helen Fields/National Geographic Indonesia)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Menhut Bikin Kebijakan soal Macan Tutul

BOGOR, KOMPAS.com — Kementerian Kehutanan bakal membangun pusat penyelamatan atau rescue center yang diperuntukkan untuk Macan Tutul. Pembangunan itu dilakukan menyusul maraknya konflik yang melibatkan macan asli Jawa itu dengan manusia.

"Dalam waktu sebulan ke depan, saya kira sudah ada kejelasan lokasi pembangunannya. Yang jelas, lokasinya harus dekat dengan habitat asli (macan tutul)," kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan seusai melihat kondisi macan tutul di ruang karantina Taman Safari Indonesia Cisarua, Bogor, Kamis (24/10/2013).

Selain menjadi tempat penampungan, Zulkifli menambahkan, pusat penyelamatan itu juga akan menjadi tempat perawatan bagi hewan bernama latin Panthera pladus melas ini untuk persiapan sebelum dilepasbebaskan. "Kita memang sudah membutuhkan rescue center," imbuhnya.

Menurut Zulkifli, pemerintah sebenarnya sudah mempunyai konsep yang bagus dalam hal penataan kehutanan. Misalnya dalam bentuk hutan konservasi, hutan lindung, maupun tatanan lainnya.

Namun beberapa kendala, menurutnya, tetap terjadi karena beberapa faktor seperti pertambahan penduduk, kebutuhan ekonomi masyarakat, maupun ketidakpedulian masyarakat sehingga menyebabkan benturan yang mengganggu habitat macan tutul.

"Habitat yang seharusnya untuk satwa, berubah menjadi perkebunan. Yang seharusnya untuk satwa, kini menjadi vila. Macan tutul juga butuh hidup layak," kata Menteri kelahiran Lampung Selatan ini sembari mengkritik pembangunan vila yang menjamur di Cisarua.

Ketua Conservation Breeding Spesialist Group Indonesia Jansen Manansang mengatakan, hingga saat ini belum diketahui pasti jumlah populasi hewan ini. Organisasi yang terdiri dari beberapa negara itu, menurut dia, tengah menyusun langkah-langkah strategis untuk memetakan populasinya.

"Sekaligus juga ada workshop untuk breeding yang sesuai dengan prosedur dari International Union for Conservation Nature (IUCN)," katanya.

Sementara itu, di tempat karantina TSI itu terdapat macan tutul yang diberi nama Jampang. Jampang sebelumnya berhasil ditangkap hidup-hidup pada pertengahan bulan Oktober lalu oleh gabungan tim dari Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI), TSI, serta dibantu warga di Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Sukabumi.

Penangkapan Jampang dilakukan menyusul adanya laporan harimau masuk kawasan permukiman dan makan ternak milik warga. Penangkapan hidup-hidup itu merupakan kabar gembira mengingat macan tutul yang masuk permukiman biasanya berakhir dengan kematian karena dibunuh.

Editor : Glori K. Wadrianto


10.47 | 0 komentar | Read More

Ilmuwan Temukan Cara untuk Membangkitkan Orang Mati

Written By Unknown on Minggu, 27 Oktober 2013 | 10.47


KOMPAS.com — Para ilmuwan memiliki gagasan tentang cara untuk menyadarkan seseorang yang sudah dinyatakan meninggal.

Gagasan tersebut dibahas dalam pertemuan New York Academy of Science, menghadirkan Dr Sam Parnia dari State University of New York di Stony Brook, Stephan Meyer dari Columbia University, dan Lance Becker dari University of Pennsylvania.

Dalam pertemuan itu dibahas bahwa kunci penyadaran kembali atau resusitasi pada orang yang baru saja meninggal itu ialah proses hipotermia atau pendinginan tubuh dan pengurangan suplai oksigen.

Gagasan ilmuwan didasarkan pada pandangan baru tentang kematian. Sebelumnya, kematian didefinisikan sebagai saat di mana jantung sudah berhenti berdetak dan paru-paru berhenti bekerja sehingga individu tidak bernapas.

Dalam pandangan baru, kematian tidak dianggap sebagai peristiwa yang terjadi secara serentak di semua bagian tubuh, tetapi sebagai proses bertahap. Saat detak jantung dan napas individu terhenti, sel individu sebenarnya masih hidup.

Kematian total, kiranya bisa dikatakan demikian, baru terjadi ketika sel-sel otak kekurangan oksigen, akibat terhentinya jantung dan napas, sehingga rusak dan mengirim sinyal bagi sel-sel lain menjelang saat kematian.

Dalam gagasan ilmuwan, ada jeda antara henti jantung dan napas dengan kematian total. Jeda itu yang kemudian dimanfaatkan untuk melakukan tindakan sehingga orang yang sebelumnya dinyatakan telah mati bisa sadar kembali.

Proses tersebut harus dilakukan secara hati-hati. Salah satu perhatiannya, upaya menyadarkan orang yang telah meninggal harus tidak mengakibatkan kerusakan otak akibat jantung yang berhenti menyuplai oksigen.

Diberitakan Huffington Post, Senin (21/10/2013), kunci penyadaran kembali tanpa merusak jaringan otak salah satunya adalah hipotermia, yakni tubuh didinginkan beberapa derajat lebih rendah daripada suhu normalnya 37 derajat celsius.

Berdasarkan studi, hipotermia bisa mencegah kerusakan sel otak dengan menurunkan permintaan oksigennya. Namun, ini tetap ada batasannya. Ada momen ketika kerusakan memang sudah terlalu besar sehingga tak bisa dikembalikan.

Kemudian, setelah prosedur hipotermia dan jantung bekerja, kunci lainnya adalah menjaga suplai oksigen. Suplai oksigen yang tiba-tiba besar justru akan berdampak negatif karena akan merusak jaringan otak.

Hipotermia terbukti membantu prosedur resusitasi. Namun, bahkan di Amerika Serikat, tak semua rumah sakit menerapkan prosedur hipotermia. Hal ini menjadi keterbatasan untuk mengupayakan resusitasi yang berhasil.

Tentang suplai oksigen, Parnia menuturkan, suplai harus diatur dengan mesin agar jumlah oksigen yang dialirkan sesuai yang dibutuhkan.

Penyadaran kembali orang yang telah meninggal ini menimbulkan pertanyaan etis. Pasalnya, upaya menyadarkan kembali orang yang telah berjam-jam mengalami henti jantung berisiko pada kerusakan otak. Siapa yang kemudian bertanggung jawab melakukan proses resusitasi lebih komprehensif?

Mayer mengungkapkan, keterbatasan saat ini adalah pengetahuan tentang kerusakan otak. Ilmuwan belum mengetahui seberapa lama kerusakan bertahan dan apakah bisa dikembalikan ke kondisi semula.

Mayer mengungkapkan, masih perlu pembelajaran lebih lanjut. Namun, ia mengatakan bahwa ilmuwan juga tak bisa begitu saja mengatakan bahwa kerusakan otak tak bisa dikembalikan.

Sementara, Becker menuturkan, upaya penyadaran tidak selalu bisa dilakukan di setiap kasus. Namun, sekali dokter memutuskan, dokter harus menerapkan semua metode yang mungkin bisa dilakukan.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Menyingkap Misteri Capung dengan Tas Punggung Mini


KOMPAS.com — Dalam sebuah ruangan tak berjendela di utara Virginia, ahli saraf Anthony Leonardo akan membuka pintu. "Cepat!" katanya. "Di sini ada ribuan lalat buah dan kami tidak mau mereka semua kabur." Lalat buah bukanlah subyek dari penelitian Leonardo, melainkan makanan bagi subyek utamanya: capung.

Leonardo mempelajari bagaimana capung menangkap mangsa menggunakan perangkat yang sangat mini. Yakni berupa tas yang diletakkan di punggung capung dan berfungsi mencatat rekaman dari sistem saraf si capung kala mengejar makanan.

Leonardo dan koleganya bekerja di pusat riset Howard Hughes Medical Institute (HHMI) di Janelia Farm, Ashburn, Virginia. Lalat buah dan capung terbang di arena dalam ruangan dengan cahaya terang dan suhu lembab. Dengan demikian, capung akan merasa tinggal di ekosistem sebenarnya. Bahkan dindingnya pun dihiasi dengan foto mural yang menunjukkan lanskap di luar ruangan.

Ketika kamera dalam ruangan dinyalakan, Leonardo dan koleganya bisa melihat pergerakan dari capung. Melacak mereka saat melakukan manuver presisi dengan empat sayapnya. Bukanlah hal mudah bagi sebuah subyek menangkap subyek lain yang bergerak. Namun, ini bisa dilakukan capung dengan cukup mudah.

Meski demikian, dalam level saraf, ini membutuhkan kerja yang tidak demikian, sangatlah rumit.  Capung mampu mendeteksi keberadaan lalat dan di saat bersamaan sangat fokus hingga akhirnya mendapatkan si lalat sebagai makanan. "Kita hanya mengerti sedikit mengenai bagaimana otak mengintegrasikan informasi sensorik dan motorik," ujar Leonardo.

Secara sederhana dijelaskan mengenai cara kerja tas punggung mini ini. Leonardo merekatkan kabel perak dan serat karbon untuk membuat antena. Kemudian memotong cip kecil warna hijau dan merekatkannya bersamaan. Barulah kemudian ditempelkan di bahu si capung.

Para peneliti yang terlibat berhasil mengurangi bobot tas ini dengan membuang baterainya. Dengan demikian, berat dari tas ini hanya sekitar 40 miligram, sama seperti saat capung ini membawa dua keping beras sehingga mereka tidak akan terlalu terganggu memakainya.

Tas ini juga memiliki kabel kecil yang terhubung dengan sistem neuronnya. "Saat binatang ini menampilkan perilaku menghalang yang cukup rumit, tas ini bertindak layaknya radio yang mengirim sinyal dari neuron ke komputer kami," jelas Leonardo.

Dalam pemikiran awal manusia, tampaknya capung ini menangkap mangsanya dengan tetap terbang di lajur visualnya lalu terbang mendekat. Kini, Leonardo berasumsi bahwa cara tubuh capung bekerja menentukan pergerakannya. "Ini kerja yang luar biasa," kata Adrienne Fairhall sebagai ahli saraf komputerisasi dari University of Washington. (Helen Fields/National Geographic Indonesia)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Menhut Bikin Kebijakan soal Macan Tutul

BOGOR, KOMPAS.com — Kementerian Kehutanan bakal membangun pusat penyelamatan atau rescue center yang diperuntukkan untuk Macan Tutul. Pembangunan itu dilakukan menyusul maraknya konflik yang melibatkan macan asli Jawa itu dengan manusia.

"Dalam waktu sebulan ke depan, saya kira sudah ada kejelasan lokasi pembangunannya. Yang jelas, lokasinya harus dekat dengan habitat asli (macan tutul)," kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan seusai melihat kondisi macan tutul di ruang karantina Taman Safari Indonesia Cisarua, Bogor, Kamis (24/10/2013).

Selain menjadi tempat penampungan, Zulkifli menambahkan, pusat penyelamatan itu juga akan menjadi tempat perawatan bagi hewan bernama latin Panthera pladus melas ini untuk persiapan sebelum dilepasbebaskan. "Kita memang sudah membutuhkan rescue center," imbuhnya.

Menurut Zulkifli, pemerintah sebenarnya sudah mempunyai konsep yang bagus dalam hal penataan kehutanan. Misalnya dalam bentuk hutan konservasi, hutan lindung, maupun tatanan lainnya.

Namun beberapa kendala, menurutnya, tetap terjadi karena beberapa faktor seperti pertambahan penduduk, kebutuhan ekonomi masyarakat, maupun ketidakpedulian masyarakat sehingga menyebabkan benturan yang mengganggu habitat macan tutul.

"Habitat yang seharusnya untuk satwa, berubah menjadi perkebunan. Yang seharusnya untuk satwa, kini menjadi vila. Macan tutul juga butuh hidup layak," kata Menteri kelahiran Lampung Selatan ini sembari mengkritik pembangunan vila yang menjamur di Cisarua.

Ketua Conservation Breeding Spesialist Group Indonesia Jansen Manansang mengatakan, hingga saat ini belum diketahui pasti jumlah populasi hewan ini. Organisasi yang terdiri dari beberapa negara itu, menurut dia, tengah menyusun langkah-langkah strategis untuk memetakan populasinya.

"Sekaligus juga ada workshop untuk breeding yang sesuai dengan prosedur dari International Union for Conservation Nature (IUCN)," katanya.

Sementara itu, di tempat karantina TSI itu terdapat macan tutul yang diberi nama Jampang. Jampang sebelumnya berhasil ditangkap hidup-hidup pada pertengahan bulan Oktober lalu oleh gabungan tim dari Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI), TSI, serta dibantu warga di Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Sukabumi.

Penangkapan Jampang dilakukan menyusul adanya laporan harimau masuk kawasan permukiman dan makan ternak milik warga. Penangkapan hidup-hidup itu merupakan kabar gembira mengingat macan tutul yang masuk permukiman biasanya berakhir dengan kematian karena dibunuh.

Editor : Glori K. Wadrianto


10.47 | 0 komentar | Read More

Menhut Bikin Kebijakan soal Macan Tutul

Written By Unknown on Sabtu, 26 Oktober 2013 | 10.47

BOGOR, KOMPAS.com — Kementerian Kehutanan bakal membangun pusat penyelamatan atau rescue center yang diperuntukkan untuk Macan Tutul. Pembangunan itu dilakukan menyusul maraknya konflik yang melibatkan macan asli Jawa itu dengan manusia.

"Dalam waktu sebulan ke depan, saya kira sudah ada kejelasan lokasi pembangunannya. Yang jelas, lokasinya harus dekat dengan habitat asli (macan tutul)," kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan seusai melihat kondisi macan tutul di ruang karantina Taman Safari Indonesia Cisarua, Bogor, Kamis (24/10/2013).

Selain menjadi tempat penampungan, Zulkifli menambahkan, pusat penyelamatan itu juga akan menjadi tempat perawatan bagi hewan bernama latin Panthera pladus melas ini untuk persiapan sebelum dilepasbebaskan. "Kita memang sudah membutuhkan rescue center," imbuhnya.

Menurut Zulkifli, pemerintah sebenarnya sudah mempunyai konsep yang bagus dalam hal penataan kehutanan. Misalnya dalam bentuk hutan konservasi, hutan lindung, maupun tatanan lainnya.

Namun beberapa kendala, menurutnya, tetap terjadi karena beberapa faktor seperti pertambahan penduduk, kebutuhan ekonomi masyarakat, maupun ketidakpedulian masyarakat sehingga menyebabkan benturan yang mengganggu habitat macan tutul.

"Habitat yang seharusnya untuk satwa, berubah menjadi perkebunan. Yang seharusnya untuk satwa, kini menjadi vila. Macan tutul juga butuh hidup layak," kata Menteri kelahiran Lampung Selatan ini sembari mengkritik pembangunan vila yang menjamur di Cisarua.

Ketua Conservation Breeding Spesialist Group Indonesia Jansen Manansang mengatakan, hingga saat ini belum diketahui pasti jumlah populasi hewan ini. Organisasi yang terdiri dari beberapa negara itu, menurut dia, tengah menyusun langkah-langkah strategis untuk memetakan populasinya.

"Sekaligus juga ada workshop untuk breeding yang sesuai dengan prosedur dari International Union for Conservation Nature (IUCN)," katanya.

Sementara itu, di tempat karantina TSI itu terdapat macan tutul yang diberi nama Jampang. Jampang sebelumnya berhasil ditangkap hidup-hidup pada pertengahan bulan Oktober lalu oleh gabungan tim dari Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI), TSI, serta dibantu warga di Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Sukabumi.

Penangkapan Jampang dilakukan menyusul adanya laporan harimau masuk kawasan permukiman dan makan ternak milik warga. Penangkapan hidup-hidup itu merupakan kabar gembira mengingat macan tutul yang masuk permukiman biasanya berakhir dengan kematian karena dibunuh.

Editor : Glori K. Wadrianto


10.47 | 0 komentar | Read More

Ilmuwan Temukan Cara untuk Membangkitkan Orang Mati


KOMPAS.com — Para ilmuwan memiliki gagasan tentang cara untuk menyadarkan seseorang yang sudah dinyatakan meninggal.

Gagasan tersebut dibahas dalam pertemuan New York Academy of Science, menghadirkan Dr Sam Parnia dari State University of New York di Stony Brook, Stephan Meyer dari Columbia University, dan Lance Becker dari University of Pennsylvania.

Dalam pertemuan itu dibahas bahwa kunci penyadaran kembali atau resusitasi pada orang yang baru saja meninggal itu ialah proses hipotermia atau pendinginan tubuh dan pengurangan suplai oksigen.

Gagasan ilmuwan didasarkan pada pandangan baru tentang kematian. Sebelumnya, kematian didefinisikan sebagai saat di mana jantung sudah berhenti berdetak dan paru-paru berhenti bekerja sehingga individu tidak bernapas.

Dalam pandangan baru, kematian tidak dianggap sebagai peristiwa yang terjadi secara serentak di semua bagian tubuh, tetapi sebagai proses bertahap. Saat detak jantung dan napas individu terhenti, sel individu sebenarnya masih hidup.

Kematian total, kiranya bisa dikatakan demikian, baru terjadi ketika sel-sel otak kekurangan oksigen, akibat terhentinya jantung dan napas, sehingga rusak dan mengirim sinyal bagi sel-sel lain menjelang saat kematian.

Dalam gagasan ilmuwan, ada jeda antara henti jantung dan napas dengan kematian total. Jeda itu yang kemudian dimanfaatkan untuk melakukan tindakan sehingga orang yang sebelumnya dinyatakan telah mati bisa sadar kembali.

Proses tersebut harus dilakukan secara hati-hati. Salah satu perhatiannya, upaya menyadarkan orang yang telah meninggal harus tidak mengakibatkan kerusakan otak akibat jantung yang berhenti menyuplai oksigen.

Diberitakan Huffington Post, Senin (21/10/2013), kunci penyadaran kembali tanpa merusak jaringan otak salah satunya adalah hipotermia, yakni tubuh didinginkan beberapa derajat lebih rendah daripada suhu normalnya 37 derajat celsius.

Berdasarkan studi, hipotermia bisa mencegah kerusakan sel otak dengan menurunkan permintaan oksigennya. Namun, ini tetap ada batasannya. Ada momen ketika kerusakan memang sudah terlalu besar sehingga tak bisa dikembalikan.

Kemudian, setelah prosedur hipotermia dan jantung bekerja, kunci lainnya adalah menjaga suplai oksigen. Suplai oksigen yang tiba-tiba besar justru akan berdampak negatif karena akan merusak jaringan otak.

Hipotermia terbukti membantu prosedur resusitasi. Namun, bahkan di Amerika Serikat, tak semua rumah sakit menerapkan prosedur hipotermia. Hal ini menjadi keterbatasan untuk mengupayakan resusitasi yang berhasil.

Tentang suplai oksigen, Parnia menuturkan, suplai harus diatur dengan mesin agar jumlah oksigen yang dialirkan sesuai yang dibutuhkan.

Penyadaran kembali orang yang telah meninggal ini menimbulkan pertanyaan etis. Pasalnya, upaya menyadarkan kembali orang yang telah berjam-jam mengalami henti jantung berisiko pada kerusakan otak. Siapa yang kemudian bertanggung jawab melakukan proses resusitasi lebih komprehensif?

Mayer mengungkapkan, keterbatasan saat ini adalah pengetahuan tentang kerusakan otak. Ilmuwan belum mengetahui seberapa lama kerusakan bertahan dan apakah bisa dikembalikan ke kondisi semula.

Mayer mengungkapkan, masih perlu pembelajaran lebih lanjut. Namun, ia mengatakan bahwa ilmuwan juga tak bisa begitu saja mengatakan bahwa kerusakan otak tak bisa dikembalikan.

Sementara, Becker menuturkan, upaya penyadaran tidak selalu bisa dilakukan di setiap kasus. Namun, sekali dokter memutuskan, dokter harus menerapkan semua metode yang mungkin bisa dilakukan.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Menyingkap Misteri Capung dengan Tas Punggung Mini


KOMPAS.com — Dalam sebuah ruangan tak berjendela di utara Virginia, ahli saraf Anthony Leonardo akan membuka pintu. "Cepat!" katanya. "Di sini ada ribuan lalat buah dan kami tidak mau mereka semua kabur." Lalat buah bukanlah subyek dari penelitian Leonardo, melainkan makanan bagi subyek utamanya: capung.

Leonardo mempelajari bagaimana capung menangkap mangsa menggunakan perangkat yang sangat mini. Yakni berupa tas yang diletakkan di punggung capung dan berfungsi mencatat rekaman dari sistem saraf si capung kala mengejar makanan.

Leonardo dan koleganya bekerja di pusat riset Howard Hughes Medical Institute (HHMI) di Janelia Farm, Ashburn, Virginia. Lalat buah dan capung terbang di arena dalam ruangan dengan cahaya terang dan suhu lembab. Dengan demikian, capung akan merasa tinggal di ekosistem sebenarnya. Bahkan dindingnya pun dihiasi dengan foto mural yang menunjukkan lanskap di luar ruangan.

Ketika kamera dalam ruangan dinyalakan, Leonardo dan koleganya bisa melihat pergerakan dari capung. Melacak mereka saat melakukan manuver presisi dengan empat sayapnya. Bukanlah hal mudah bagi sebuah subyek menangkap subyek lain yang bergerak. Namun, ini bisa dilakukan capung dengan cukup mudah.

Meski demikian, dalam level saraf, ini membutuhkan kerja yang tidak demikian, sangatlah rumit.  Capung mampu mendeteksi keberadaan lalat dan di saat bersamaan sangat fokus hingga akhirnya mendapatkan si lalat sebagai makanan. "Kita hanya mengerti sedikit mengenai bagaimana otak mengintegrasikan informasi sensorik dan motorik," ujar Leonardo.

Secara sederhana dijelaskan mengenai cara kerja tas punggung mini ini. Leonardo merekatkan kabel perak dan serat karbon untuk membuat antena. Kemudian memotong cip kecil warna hijau dan merekatkannya bersamaan. Barulah kemudian ditempelkan di bahu si capung.

Para peneliti yang terlibat berhasil mengurangi bobot tas ini dengan membuang baterainya. Dengan demikian, berat dari tas ini hanya sekitar 40 miligram, sama seperti saat capung ini membawa dua keping beras sehingga mereka tidak akan terlalu terganggu memakainya.

Tas ini juga memiliki kabel kecil yang terhubung dengan sistem neuronnya. "Saat binatang ini menampilkan perilaku menghalang yang cukup rumit, tas ini bertindak layaknya radio yang mengirim sinyal dari neuron ke komputer kami," jelas Leonardo.

Dalam pemikiran awal manusia, tampaknya capung ini menangkap mangsanya dengan tetap terbang di lajur visualnya lalu terbang mendekat. Kini, Leonardo berasumsi bahwa cara tubuh capung bekerja menentukan pergerakannya. "Ini kerja yang luar biasa," kata Adrienne Fairhall sebagai ahli saraf komputerisasi dari University of Washington. (Helen Fields/National Geographic Indonesia)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Ilmuwan Temukan Cara untuk Membangkitkan Orang Mati

Written By Unknown on Jumat, 25 Oktober 2013 | 10.47


KOMPAS.com — Para ilmuwan memiliki gagasan tentang cara untuk menyadarkan seseorang yang sudah dinyatakan meninggal.

Gagasan tersebut dibahas dalam pertemuan New York Academy of Science, menghadirkan Dr Sam Parnia dari State University of New York di Stony Brook, Stephan Meyer dari Columbia University, dan Lance Becker dari University of Pennsylvania.

Dalam pertemuan itu dibahas bahwa kunci penyadaran kembali atau resusitasi pada orang yang baru saja meninggal itu ialah proses hipotermia atau pendinginan tubuh dan pengurangan suplai oksigen.

Gagasan ilmuwan didasarkan pada pandangan baru tentang kematian. Sebelumnya, kematian didefinisikan sebagai saat di mana jantung sudah berhenti berdetak dan paru-paru berhenti bekerja sehingga individu tidak bernapas.

Dalam pandangan baru, kematian tidak dianggap sebagai peristiwa yang terjadi secara serentak di semua bagian tubuh, tetapi sebagai proses bertahap. Saat detak jantung dan napas individu terhenti, sel individu sebenarnya masih hidup.

Kematian total, kiranya bisa dikatakan demikian, baru terjadi ketika sel-sel otak kekurangan oksigen, akibat terhentinya jantung dan napas, sehingga rusak dan mengirim sinyal bagi sel-sel lain menjelang saat kematian.

Dalam gagasan ilmuwan, ada jeda antara henti jantung dan napas dengan kematian total. Jeda itu yang kemudian dimanfaatkan untuk melakukan tindakan sehingga orang yang sebelumnya dinyatakan telah mati bisa sadar kembali.

Proses tersebut harus dilakukan secara hati-hati. Salah satu perhatiannya, upaya menyadarkan orang yang telah meninggal harus tidak mengakibatkan kerusakan otak akibat jantung yang berhenti menyuplai oksigen.

Diberitakan Huffington Post, Senin (21/10/2013), kunci penyadaran kembali tanpa merusak jaringan otak salah satunya adalah hipotermia, yakni tubuh didinginkan beberapa derajat lebih rendah daripada suhu normalnya 37 derajat celsius.

Berdasarkan studi, hipotermia bisa mencegah kerusakan sel otak dengan menurunkan permintaan oksigennya. Namun, ini tetap ada batasannya. Ada momen ketika kerusakan memang sudah terlalu besar sehingga tak bisa dikembalikan.

Kemudian, setelah prosedur hipotermia dan jantung bekerja, kunci lainnya adalah menjaga suplai oksigen. Suplai oksigen yang tiba-tiba besar justru akan berdampak negatif karena akan merusak jaringan otak.

Hipotermia terbukti membantu prosedur resusitasi. Namun, bahkan di Amerika Serikat, tak semua rumah sakit menerapkan prosedur hipotermia. Hal ini menjadi keterbatasan untuk mengupayakan resusitasi yang berhasil.

Tentang suplai oksigen, Parnia menuturkan, suplai harus diatur dengan mesin agar jumlah oksigen yang dialirkan sesuai yang dibutuhkan.

Penyadaran kembali orang yang telah meninggal ini menimbulkan pertanyaan etis. Pasalnya, upaya menyadarkan kembali orang yang telah berjam-jam mengalami henti jantung berisiko pada kerusakan otak. Siapa yang kemudian bertanggung jawab melakukan proses resusitasi lebih komprehensif?

Mayer mengungkapkan, keterbatasan saat ini adalah pengetahuan tentang kerusakan otak. Ilmuwan belum mengetahui seberapa lama kerusakan bertahan dan apakah bisa dikembalikan ke kondisi semula.

Mayer mengungkapkan, masih perlu pembelajaran lebih lanjut. Namun, ia mengatakan bahwa ilmuwan juga tak bisa begitu saja mengatakan bahwa kerusakan otak tak bisa dikembalikan.

Sementara, Becker menuturkan, upaya penyadaran tidak selalu bisa dilakukan di setiap kasus. Namun, sekali dokter memutuskan, dokter harus menerapkan semua metode yang mungkin bisa dilakukan.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger