Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Pelajar 17 Tahun Temukan Kupu-Kupu Langka Saat Magang

Written By Unknown on Rabu, 11 September 2013 | 10.47


KOMPAS.com — Seorang pelajar di Inggris yang tengah magang di museum Oxford berhasil menemukan contoh kupu-kupu langka yang hilang sejak Abad 19.

Temuan ini oleh Museum Sejarah Alam Universitas Oxford dianggap sebagai "tak ternilai".

Spesimen kupu-kupu ini ditemukan di dalam museum dan diyakini berasal dari Amerika Selatan yang dibawa oleh seorang naturalis masa Victoria dulu.

Kebanyakan kupu-kupu yang dibawa tersebut sempat dinyatakan hilang di laut di tahun 1850-an.

Adalah Athena Martin yang berhasil menemukan spesies yang hilang ini. Penemuan ini berlangsung saat dia tengah magang musim panas sebagai bagian dari pengalaman kerja proyek sains.

Pelajar berusia 17 tahun yang mengaku ingin mempelajari ilmu hewan di universitas ini berhasil menemukan dan mengidentifikasi kupu-kupu yang dikumpulkan oleh naturalis Alfred Russel Wallace.

Klik Kupu-kupu ini ditemukan tertimbun di lebih dari 3.000 laci terpisah di museum.

Dan, setelah melalui proses pengumpulan, diketahui ada lebih dari 300 kupu-kupu Wallace yang berhasil dikumpulkan.

Temuan terbesar yang pernah dilakukan pelajar yang tengah magang ini adalah seekor kupu-kupu bernama Dismorphia, yang dibawa dari Amazon tetapi tidak diketahui dan dikenal di dalam museum sejak akhir Abad 19.

Kekacauan atas koleksi kupu-kupu yang dikumpulkan Wallace diawali oleh kebakaran yang melanda kapalnya saat membawa banyak spesimen dari Amerika Selatan di tahun 1852, dan diyakini banyak koleksi kupu-kupunya yang hilang dalam insiden itu.

"Penemuan kembali spesimen Amazon menjadi penting dalam pengumpulan sejarah sains dan alam di Abad 19," kata Dr James Hogan dari yayasan Koleksi Entomologi Hope di Museum Oxford.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Bila Bisa Dicium, Seperti Apa Bau Antariksa?


KOMPAS.com — Manusia biasa mencium bau diri dan sekitarnya. Mungkin, kita semua juga akan penasaran dengan bau yang akan tercium di antariksa. Riset NASA mengungkap, luar angkasa berbau seperti logam panas, diesel, dan barbeque. Sumber bau mayoritas adalah bintang sekarat yang tersebar di semesta.

Luois Allamandola, pendiri dan direktur Astrophysics and Astrochemistry Lab di Ames Research Center di NASA, seperti dikutip Popular Science, 19 Juli 2013, mengatakan, molekul yang menentukan bau luar angkasa adalah hidrokarbon aromatik, sisa dari banyak reaksi pembakaran di semesta.

Molekul sumber bau tersebut terus berada di luar angkasa, terdapat di komet, meteor, dan debu kosmik. Hidrokarbon tersebut bahkan termasuk dalam materi yang berperan memantik kehidupan di Bumi. Molekul serupa juga ada di batu bara, minyak, hingga makanan.

Pengungkapan bau luar angkasa ini dimulai dari pengalaman astronot di International Space Station (ISS). Bau memang tak bisa dicium di luar angkasa yang hampa. Namun, setelah melakukan misi spacewalk, astronot melaporkan, mereka mencium bau sesuatu yang dibakar atau digoreng pada kostumnya.

Bau yang dicium astronot begitu khas. Beberapa tahun lalu, NASA menghubungi Steven Pearce, seorang pakar pembuat wewangian Omega Ingredients. NASA memintanya menciptakan bau yang sama. Bukan cuma pada luar angkasa, tetapi juga bau Bulan. Terungkap, luar angkasa punya bau dari hidrokarbon aromatik itu.

Allamandola menjelaskan, Tata Surya kita memiliki bau yang tajam karena kaya dengan unsur karbon dan miskin oksigen. Seperti mobil, jika minim atau haus oksigen, maka jelaga hitam akan terlihat dan tercium bau terbakar.

Bintang yang kaya oksigen, sebaliknya, memiliki aroma seperti panggangan arang. Sudut-sudut alam semesta tertentu memiliki bau yang beragam, mulai dari manis seperti gula, hingga telur busuk dan belerang.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

3 Bulan Berlayar, Kapal Tenaga Surya \"Buang Sauh\" di Sungai Seine

PARIS, KOMPAS.com - Kapal bertenaga matahari terbesar di dunia, sukses melintasi Samudera Atlantik, setelah berlayar selama tiga bulan. Kapal ini merapat di tepian Sungai Seine, Paris, Perancis, Selasa (10/9/2013).

Kapal Turanor PlanetSolar memiliki panjang 31 meter, bertolak dari Miami, Amerika Serikat pada Juni 2013. Martin Beniston, ahli klimatologi dan kepala Institut Universitas Geneva untuk Ilmu Lingkungan, memimpin ekspedisi ini.

Pelayaran menempuh rute ke arah timur, melintasi Samudera Atlantik. Selama perjalanan mereka mengambil sampel air dan mengukur perkembangan udara. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui lebih banyak tentang interaksi kompleks antara samudra dan atmosfer.

Kapal bernilai 20 juta dollar AS tersebut dipenuhi panel photovioltaic yang menghimpun energi panas dari matahari untuk kemudian disimpan dalam baterai lithium raksasa yang menggerakkan kapal. Tidak ada rincian lebih lanjut tentang kecepatan kapal selama berlayar yang menjelaskan waktu berlayar selama tiga bulan.

Kapal PlanetSolar senilai 20 juta dollar AS ini dipenuhi dengan panel photovioltaic yang menghimpun energy panas dari matahari untuk menambah tenaga pada baterai lithium raksasa yang menggerakan mesin kapal ini. Tidak dirinci berapa kecepatan dari kapal bertenaga matahari ini sehingga memerlukan waktu tiga bulan melintasi Samudera Atlantik .

Editor : Palupi Annisa Auliani


10.47 | 0 komentar | Read More

Benarkah Kerangka Ini Milik Vampir dari Bulgaria?

Written By Unknown on Selasa, 10 September 2013 | 10.47


KOMPAS.com — Arkeolog menemukan kerangka pria berusia antara 35 - 40 di wilayah selatan kota Sozopol, Bulgaria, tepatnya di situs Perperikon yang ada di timur Bulgaria. Kerangka ditemukan oleh arkeolog bernama Nikolai Ovcharov. Pada bagian dada kerangka, terdapat batang lanjam.

Kerangka ini merupakan kerangka kedua yang ditemukan dengan kondisi tertancap lanjam.Tahun lalu, Ovcharov menemukan kerangka berusia 700 tahun di sebuah gereja di wilayah Black Sea, Sozopol, Bulgaria.

Ovcharov menyebut dua temuannya sebagai "vampir kembar Sozopol". Namun, benarkah bahwa kerangka yang ditemukannya adalah kerangka vampir yang berhasil dicegah untuk tidak bangkit?

Di masa lalu, manusia memang percaya pada keberadaan vampir. Kepercayaan terhadap vampir terus bertahan bahkan hingga agama Katolik dan Kristen dipeluk oleh masyarakat Eropa. Masyarakat dahulu percaya bahwa vampir menyebabkan wabah dan malapetaka.

Sebagai wujud dari kepercayaan itu, masyarakat di Bulgaria punya tradisi dalam mengubur mayat. Mereka berupaya mencegah agar orang yang baru saja dikuburkan tidak bangkit menjadi vampir, gentayangan memicu malapetaka.

Ada beragam cara pencegahan, salah satunya adalah dengan menancapkan lanjam di bagian dada mayat. Kerangka yang ditemukan bukan merupakan vampir, tetapi bukti kepercayaan pada adanya vampir itu.

Ovcharov menuturkan, ia telah menemukan beberapa kerangka "vampir". Umumnya, masyarakat menancapkan lanjam pada kaki atau tangan mayat. Lanjam yang ditancapkan pada bagian dada, tepat pada jantung, baru ditemukan pada dua penemuan terakhir di Sozopol.

"Lanjam itu punya berat sekitar 2 pound (0,9 kg) dan ditancapkan pada mayat untuk menghancurkan tulang bahu. Anda bisa melihat bahwa tulang selangka kerangka itu benar-benar keluar," kata Ovcharov seperti dikutip Daily Mail, Jumat (6/9/2013).

Kepercayaan pada adanya vampir di Eropa masa lalu dipicu oleh adanya wabah antara tahun 1300 hingga 1700.

Hal yang turut memicu kepercayaan pada adanya vampir adalah adanya mayat-mayat yang ketika kuburnya dibuka diketahui mengeluarkan darah, memiliki rambut yang masih tumbuh, serta kain kafan pembungkusnya tampak habis dimakan. Gigi mayat tampak jelas.

Apakah ada vampir atau tidak? Jika hanya berdasarkan keyakinan masyarakat Eropa masa lalu, jawabannya tentu saja tidak. Fenomena wabah tak berhubungan sama sekali dengan vampir. Demikian juga soal mayat yang mengeluarkan darah. Hal itu hanya ketidaktahuan masyarakat saat itu tentang proses pembusukan mayat.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Jepang Jadwalkan Lagi Peluncuran Roket Epsilon

TOKYO, KOMPAS.com — Badan Luar Angkasa Jepang (JAXA), Senin (9/9/2013), mengumumkan akan meluncurkan roket berbahan bakar padat generasi terbaru. Rencananya, roket akan diluncurkan pada 14 September 2013.

Sebelumnya, peluncuran roket sempat dijadwalkan pada 27 Agustus 2013. Peluncuran tersebut batal karena deteksi palsu, hanya beberapa detik sebelum roket diluncurkan. Mengutip Jiji, pembatalan dilakukan 19 detik dari waktu peluncuran yang dijadwalkan.

Dikutip dari kantor berita AP, JAXA menegaskan, peluncuran roket Epsilon akan dilakukan dari Pusat Luar Angkasa Uchinoura di Kagoshima, barat daya Jepang.

Pembatalan peluncuran pada akhir Agustus lalu terjadi setelah komputer pengendali di pusat peluncuran mendeteksi posisi tak normal roket. Dikutip dari Jiji, JAXA menyatakan telah memperbaiki perangkat lunak yang memunculkan pendeteksian palsu tersebut.

Jepang berharap roket tersebut dapat diluncurkan dengan cukup bermodalkan dua komputer jinjing di pusat kendali peluncuran. Mereka juga berharap peluncuran ini akan menjadikan Negeri Matahari Terbit sebagai pesaing utama bisnis luar angkasa bagi Amerika Serikat, Perancis, Rusia, China, dan India.

Roket Epsilon memiliki struktur tiga tingkat dengan tinggi 24 meter dan berat 91 ton. Roket mengangkut satelit teleskop SRINT-A dan akan menempatkannya di ketinggian 1.000 kilometer dari permukaan Bumi.

Satelit teleskop ini merupakan teleskop pertama di dunia yang pengendaliannya dilakukan dari jarak jauh. Keberadaannya di luar angkasa untuk mengobservasi planet-planet seperti Venus, Mars, dan Jupiter dari orbit di seputar Bumi.

Editor : Palupi Annisa Auliani


10.47 | 0 komentar | Read More

Belut Ungu Berwajah Alien Dijumpai di China


KOMPAS.com - Spesies belut langka dijumpai di China. Belut tersebut memiliki wajah mirip dengan gambaran alien di film fiksi ilmiah.

Hewan berjawah mengerikan tersebut ditemukan di Danau Taihu di Yixing, Provinsi Jiangshu, wilayah timur China.

Dalam pemberitaan di situs Daily Mail, Senin (9/9/2013), tidak dijelaskan siapa dan kapan waktu tepatnya fauna itu ditemukan.

Belut yang ditemukan bukan jenis baru. Belut ini dikenal sebagai pemakan ikan kecil, crustacea, dan invertebrata lainnya.

Dalam hidupnya, belut ungu goby tersebut bisa berenang sejauh 100 kilometer. Belut ini juga mampu hidup di luar lingkungan perairan selama beberapa saat dengan bantuan organ bernama rongga bronkus.

Ukuran fauna ini bisa mencapai 30 cm. Belut ini merupakan golongan hewan amphidromous, bereproduksi di air tawar namun menghabiskan waktu hidupnya di laut. Umur Hewan ini cuma beberapa bulan.

Penemuan hewan ini di wilayah danau sebenarnya tak biasa. Pasalnya, belut ungu ini biasanya ditemukan di muara atau laut.

Satwa ini tak cuma bisa ditemukan di China, tetapi juga tersebar di Afrika bagian timur, India, Australia, Jepang, Bangladesh, Papua Niugini dan Kaledonia Baru.

Belut goby merupakan golongan hewan yang disebut Amblyopinae. Golongan ini terdiri atas 23 spesies. Tidak disebutkan spesies apa yang ditemukan di China.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Semburan Lumpur Disertai Api Muncul di Purworejo

Written By Unknown on Minggu, 08 September 2013 | 10.48


PURWOREJO, KOMPAS.com — Semburan lumpur terjadi di Desa Lubang Kidul, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada Kamis (5/9/2013).

Camat Butuh, Wahyu JS, seperti dilaporkan Tribun Jogja, menyatakan bahwa semburan muncul dari pukul 12.00 WIB kemarin. Semburan berasal dari galian sumur bor yang sedang dikerjakan tiga orang pekerja di salah satu halaman rumah warga. Lumpur berair asin memancar hingga ketinggian 8-10 meter.

Semburan membuat warga setempat heboh. Terlebih lagi, pada Kamis sore kemarin, api muncul dari tempat semburan lumpur tersebut.

Wakil Ketua DPRD Purworejo, Angko Setiyarso Widodo, kepada Tribun Jogja lewat pesan singkat, mengatakan, "Ini di Desa Lubang Kidul yang menyemprotkan lumpur tadi, sekarang menyala. Keluar gas bumi," jelas Angko melalui pesan singkat.

Kepala Desa Lubang Kidul, Fahmi Aji, mengungkapkan bahwa api diketahui mulai menyala sekitar pukul 18.30 WIB, Kamis kemarin.

"Awal menyala saya tidak tahu. Tapi, dikabarkan warga jam 18.30 WIB. Karena itu, lokasi sekitar kini dipagari bambu. Saya dan puluhan warga berjaga, mengantisipasi segala kemungkinan. Selain itu, ada puluhan petugas keamanan juga standby," jelas Fahmi ketika dihubungi melalui sambungan telepon.

Fahmi mengungkapkan, ketika menyala, ia segera menghubungi petugas pemadam kebakaran. Tidak lama kemudian, satu mobil damkar mendatangi lokasi. Namun, tidak lama kemudian, mobil segera ditarik.

"Menurut petugas, nyala api malah akan membesar kalau disiram. Karena itu, mobil ditarik. Untuk langkah selanjutnya, kami masih bermusyawarah," jelasnya.

Mengenai nyala api ini, Angko menambahkan, sebaiknya pemerintah daerah segera mendatangkan tenaga ahli.

"Ya undang ahli, untuk menyimpulkan apa di sana kandungannya banyak atau sedikit. Selain itu, perlu juga untuk mengamankan lingkungan dan mengendalikan api atau gas tersebut. Dengan demikian, api menyala lebih aman," kata Angko lagi.

Angko menegaskan, langkah terpenting yang harus diambil adalah bagaimana mengendalikan nyala api tersebut. (Tribun Jogja)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.48 | 0 komentar | Read More

Semburan Lumpur di Purworejo, Ini Sebabnya


JAKARTA, KOMPAS.com — Fenomena semburan lumpur disertai dengan gas dan api muncul di wilayah Butuh, Purworejo, pada Kamis (5/9/2013). Semburan tersebut membuat warga panik, khawatir jika api meluas.

Lumpur menyembur setelah adanya pengeboran untuk membuat sumur. Saat pengeboran mencapai kedalaman 15 meter, tiba-tiba lumpur keluar disertai dengan air asin. Beberapa jam kemudian, gas keluar, semburan lumpur disertai api.

Apa sebenarnya penyebab semburan lumpur itu? Apakah, seperti kepanikan warga, lumpur dan api berpotensi meluas?

Geolog dari BP Migas, Awang Harun Satyana, mengatakan bahwa semburan itu muncul karena pengeboran menembus kantong-kantong gas yang berada di bawah tanah. Di kantong gas tersebut, terdapat pula air asin yang berasal dari laut.

Dihubungi Kompas.com, Jumat (5/9/2013), Awang mengungkapkan bahwa daerah Desa Butuh adalah wilayah rendah yang dikelilingi pegunungan.

Di sebelah utara, wilayah desa itu dibatasi oleh Pegunungan Serayu Selatan. Di bagian barat, pembatasnya adalah pegunungan Karangbolong. Sementara, di sebelah timur, wilayah desa tersebut dibatasi oleh Pegunungan Menoreh di Kulon Progo, Yogyakarta.

"Wilayah desa itu adalah tempat sedimentasi. Ada zat-zat organik yang dulu tertimbun lalu diurai oleh mikroorganisme," kata Awang.

"Gas itu sampai sekarang tersimpan di kantong gas di bawah tanah. Ada tekanan tinggi di sana. Pengeboran menembus kantong gas itu. Karena menemukan jalan keluar setelah pengeboran, gas pun keluar," papar Awang.

Sementara soal air asin, Awang mengungkapkan bahwa air tersebut mungkin merupakan air laut purba yang terjebak.

Purworejo, Kebumen, dan sekitarnya merupakan wilayah yang dahulu lautan lalu berubah menjadi daratan akibat sedimen dari pegunungan yang dibawa ke wilayah itu. Zat organik yang tertimbun sendiri mungkin berasal dari tumbuhan dan hewan yang hidup di wilayah itu dan telah terurai.

Mungkinkah semburan lumpur dan api di Purworejo ini akan meluas? Awang mengatakan, skenarionya tak akan seburuk itu.

"Semburan akan berhenti ketika tekanan yang ada di dalam kantong gas dan di luar sama. Ini masih di kedalaman 15 meter, masih dangkal. Jadi, dalam beberapa hari, semburan lumpur dan gas akan berhenti, tidak akan meluas," kata Awang.

Jadi, warga tak perlu panik akan semburan lumpur ini.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.48 | 0 komentar | Read More

Apakah Semburan Lumpur Purworejo Sama dengan Sidoarjo?


JAKARTA, KOMPAS.com — Fenomena semburan lumpur disertai air asin dan gas terjadi di Desa Butuh, Purworejo. Warga desa panik karena khawatir lumpur akan meluas seperti yang ada di Sidoarjo. Nah, apakah memang dua fenomena semburan lumpur tersebut sama?

Geolog dari BP Migas, Awang Harun Satyana, mengungkapkan bahwa mekanisme lumpur atau gas keluar dari dalam tanah dari dua semburan lumpur itu memang sama. Namun, sebab dasar dan dampak kedua semburan tersebut berbeda.

Awang menuturkan, semburan lumpur di Purworejo terjadi ketika pengeboran dilakukan hingga kedalaman masih dangkal, 15 meter. Pengeboran menembus kantung gas. Gas itu sendiri berasal dari hasil samping bakteri yang mengolah sedimen yang terpendam di tanah.

Sementara, di Sidoarjo, sebab semburan lumpur jauh lebih kompleks. Semburan sendiri terjadi ketika pengeboran dilakukan hingga kedalaman ribuan meter. Selain itu, sebabnya juga tak sekadar kantung gas yang ditembus lewat pengeboran.

Awang mengatakan, wilayah Sidoarjo sekitar 5-10 juta tahun lalu merupakan wilayah yang sangat dalam. Di sana, berlangsung pula proses pengendapan. Hanya, pengendapan berlangsung dalam waktu yang cepat.

"Pengendapan yang cepat ini membuat hasil endapannya belum menjadi batuan yang sempurna. Tetap dalam bentuk batuan, namun tidak tegar, masih dengan mudah bergerak," kata Awang saat dihubungi Kompas.com, Jumat (6/9/2013).

Wilayah endapan di Sidoarjo sendiri mencakup daerah yang sangat luas, mencapai Selat Madura dan Purwodadi. Lapisan sedimen dengan batuan tak tegar itu dilapisi oleh batuan yang lebih keras di bagian atasnya, membuat tekanan di lapisan itu tinggi.

Saat pengeboran dilakukan dan menembus wilayah endapan itu, terjadi kontak antara lapisan itu dengan yang di permukaan. Karena tekanan di lapisan sedimen tinggi, ada dorongan untuk melepaskan, yang akhirnya mendorong terjadinya semburan lumpur.

"Yang menyembur adalah lumpur karena adanya perbedaan tekanan dan temperatur. Di lapisan sedimen, tekanan dan temperatur tinggi. Perbedaan tekanan kemudian mengubah fase batuan, keluar menjadi lumpur," jelas Awang.

Dibanding dengan semburan lumpur Sidoarjo, semburan lumpur Purworejo tak ada apa-apanya dan bisa dikatakan sering terjadi. Semburan lumpur Purworejo takkan berlangsung lama seperti semburan lumpur Sidoarjo.

Menurut Awang, semburan lumpur dan gas akan berhenti bila terjadi kesamaan tekanan antara di dalam tanah dan di permukaan. Lumpur Sidoarjo tak berhenti menyembur sejak 2006, sementara semburan di Purworejo akan berhenti dalam beberapa hari.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.48 | 0 komentar | Read More

Universitas Bengkulu Lepas Varietas Jagung Tahan Banting

Written By Unknown on Rabu, 04 September 2013 | 10.47


BENGKULU, KOMPAS.com — Universitas Bengkulu melepas varietas jagung hibrida yang dinamai SP1, SP2, dan Supra 1 ke publik setelah mendapatkan surat keputusan (SK) dari Menteri Pertanian pada bulan Juli 2013.

Varietas hibrida ini merupakan hasil dari riset yang dilakukan selama tujuh tahun oleh Suprapto, PhD, dosen pertanian pengasuh mata kuliah genetika dan pemuliaan Universitas Bengkulu.

Ditemui Kompas.com, Selasa (3/9/2013), Suprapto mengklaim bahwa keunggulan dari varietas jagung SP1, SP2, dan Supra 1 adalah mampu menghasilkan rata-rata 9 ton per hektar. Jumlah ini jauh di atas hasil rata-rata produktivitas nasional jagung, yakni hanya 4,6 ton per tahun dan 3,2 ton per hektar untuk Provinsi Bengkulu.

Selain itu, keunggulan varietas ini adalah sangat tahan terhadap penyakit bulai, karat daun, hawar daun, dan beradaptasi baik di lingkungan asam.

Sejauh ini, setelah mendapatkan SK dari Menteri Pertanian, varietas ini mulai banyak dilirik perusahaan benih nasional.

Selama ini, menurut Suprapto, kebutuhan akan benih jagung di Indonesia mencapai 50.000 hingga 100.000 ton per tahun. Hampir 80 persen pasokan benih itu didapatkan dari impor atau perusahaan-perusahaan benih internasional.

"Dengan ditemukan dan dilepaskan varietas ini ke pasaran, saya berharap ketergantungan akan benih jagung nasional terhadap asing semakin berkurang dan dapat diisi oleh benih-benih lokal," kata Suprapto.

Ia menambahkan, ada tiga karakterisitik jagung yang harus terpenuhi agar hasil maksimal, yakni pada tanah subur, perawatan intensif, dan input pupuk yang tinggi. Namun, dengan SP1, SP 2, dan Supra 1 ketiga karakterisitk tersebut dapat ditekan, terutama pada penggunaan pupuk dan perawatan yang intensif.

"Benih ini tahan banting, tidak perlu pupuk secara berlebihan sehingga biaya perawatan dan modal petani dapat ditekan," tambahnya.

Riset yang dilakukan selama tujuh tahun ini didanai oleh Dikti dan Kementerian Riset dan Teknologi.

Varietas yang dihasilkan dilepas berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4543/kpts/SR.120/7/2013 untuk SP1, 4544/kpts/SR.120/7/2013 untuk SP2, dan 4545/kpts/SR.120/7/2013 untuk Supra 1.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger