Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Ditemukan, Mineral Baru Sepadat Berlian

Written By Unknown on Kamis, 08 Agustus 2013 | 10.47


KOMPAS.com — Geolog asal University of California (UC), Riverside, Amerika Serikat, telah menemukan satu jenis mineral baru, yakni cubic boron nitride, yang mereka beri nama "qingsongite". Sebenarnya, mineral tersebut pertama kali ditemukan pada tahun 2009, tetapi baru mendapatkan pengakuan sebagai sebuah mineral baru dari International Mineralogical Association, pekan ini.

Larissa Dobrzhinetskaya dan Harry Green, keduanya geolog dari UC Riverside, dibantu oleh ilmuwan asal Lawrence Livermore National Laboratory, University of Maine, dan berbagai institusi asal China dan Jerman saat menemukan mineral tersebut.

"Keunikan dari qingsongite adalah bahwa ia merupakan mineral boraks pertama yang didapati terbentuk pada kondisi ekstrem jauh di perut bumi," kata Dobrzhinetskaya. "Mineral boraks jenis lainnya biasanya ditemukan di permukaan Bumi," ucapnya.

Mineral baru ini sendiri ditemukan di selatan Tibet pegunungan kawasan China di dalam batu-batuan yang kaya akan chromium yang berasal dari kerak paleooceanic. Lapisan ini pernah terimpit hingga kedalaman 300 kilometer, direkristalisasi di sana dengan temperatur sekitar 1.300 derajat celsius, serta tekanan hingga 118.430 atmosfer.

"Sekitar 180 juta tahun lalu, bebatuan tersebut kembali ke permukaan Bumi akibat proses tektonik yang mengakibatkan penutupan Samudra Paleo-Thethys, sebuah samudra purba di masa Paleozoic, dan bertumbuknya India dengan lempeng Asia," jelas Dobrzhinetskaya.

Cubic boron nitride, yang pertama kali dibuat di laboratorium pada tahun 1957, dikenal sebagai material penting untuk teknologi. Alasannya adalah karena struktur atomnya memiliki kesamaan dengan ikatan karbon pada berlian. Ia punya kepadatan yang sangat tinggi dan bisa memiliki kekuatan yang sama dengan berlian.

Sampai saat ini, sudah lebih dari 4.700 jenis mineral yang diketahui dan sekitar 100 proposal untuk mineral baru diajukan ke International Mineralogical Association untuk mendapatkan pengakuan.

Qingsongite sendiri berasal dari nama Qingsong Fang (1939-2010), seorang profesor dari Institute of Geology, the Chinese Academy of Geological Sciences, yang pertama kali menemukan berlian di bebatuan kaya chromium di Tibet, akhir 1970-an. Ia juga berkontribusi atas empat temuan mineral baru. (Abiyu Pradipa/National Geographic Indonesia)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

354 Sol Curiosity di Mars dalam Satu Fitur Interaktif


KOMPAS.com
 — Kendaraan antariksa Curiosity hari ini, Selasa 96/8/2013), telah setahun berada di Mars. Apa saja yang telah dicapai kendaraan tersebut dalam menunaikan tugasnya? Apa saja momen-momen penting dalam setahun Bumi Curiosity di Mars?

Situs web New York Times membuat fitur interaktif perjalanan Curiosity selama setahun di Mars. Rekam jejak menyuguhkan kegiatan Curiosity sol (istilah untuk hari di Mars yang 40 menit lebih lama dari hari di Bumi) per sol di Mars.

Dalam fitur interaktif itu, kegiatan Curiosity dibagi menjadi sembilan bagian, di tempat pendaratan, analisis batu Jake, memasuki wilayah Rocknest, berada di Yellowknife Bay, pengeboran batu John Klein, mengalami masalah, saat mars berada di balik Matahari, Comberland, dan Shaler.

Beberapa momen penting Curiosity adalah pada sol 0 di mana kendaraan antariksa berbiaya 2,5 miliar dollar AS tersebut mendarat di Kawah Gale selebar 153,6 km setelah proses 7 menit yang disebut "7 Minutes Terror".

Momen berikutnya adalah pada sol 46 di mana Curiosity membuat kontak pertama dengan batuan Mars, yaitu Jake. Hasil penelitian kemudian mengungkap bahwa batu jake memiliki kesamaan dengan batuan di Bumi.

Pada sol 63, Curiosity mendeteksi obyek terang di Mars. Sempat ada berbagai spekulasi terkait obyek terang tersebut. Namun, akhirnya ditemukan bahwa obyek terang itu tak lain adalah bagian dari Curiosity itu sendiri, bukan obyek yang memang asli Mars.

Sol 183, Curiosity melakukan pengeboran pertama pada batu John Klein. Hasil pengeboran mengungkap bahwa Mars memiliki tanah liat dan mineral pendukung kehidupan serta mungkin juga air yang bisa diminum.

Fitur interaktif tersebut bisa dilihat pada link berikut. Curiosity kini masih harus berjalan menuju kaki Gunung Sharp, tujuan utamanya. Tujuan utama Curiosity adalah meneliti kemungkinan Mars mendukung kehidupan di masa lalu serta peluang astronot mendarat di Mars.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Indonesia Gondol Emas dalam Olimpiade Astronomi Internasional


JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa dalam ilmu pengetahuan. Mereka menggondol medali emas dan penghargaan lain dalam International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) yang diselenggarakan di Volos, 27 Juli - 5 Agustus 2013.

Penghargaan yang berhasil diraih adalah medali emas (David Orlando Kurniawan), perak (Marcelina Viana), perunggu (M Imam Adli), 2 Honorable Mention (Rizki Wahyu Pangestu dan R Aryo Tri Adhimukti), dan 1 medali perunggu untuk team competition.

M Ikbal Arifyanto dari Departemen Astronomi, Institut Teknologi Bandung (ITB) yang ikut mendampingi siswa menuturkan, Indonesia hanya mengirimkan satu tim dalam lomba ini. Anggota tim harus mengikuti sekian perlombaan, baik pengerjaan soal maupun pengamatan astronomi, secara perseorangan dan tim.

Untuk tes perorangan, ada tiga jenis. Pertama, mengerjakan 15 soal teori yang seluruhnya esai. Ronde kedua, peserta mengerjakan soal analisis, terdiri dari 3 soal yang dikerjakan dengan kertas grafik dan 1 soal dengan komputer. Untuk tes observasi, siswa diminta mengamati langit malam.

"Untuk kompetisi tim tugasnya adalah menjawab 180 soal astronomi dalam bentuk teka-teki silang. Yang dinilai adalah lengkapnya jawaban dan waktu," kata Ikbal dalam percakapan lewat Facebook dengan Kompas.com, Selasa (6/8/2013).

Penghargaan dalam IOAA bukan baru sekali ini didapatkan. Tahun 2008, Indonesia berhasil meraih 2 medali emas. Beberapa tahun kemudian, walau absen tak meraih emas, Indonesia tetap meraih medali perak dan perunggu. Prestasi kali ini mengulang kejayaan pada tahun 2008.

Ikbal mengungkapkan bahwa penghargaan ini menunjukkan bahwa siswa-siswa Indonesia punya potensi dalam bidang astronomi dan astrifisika, walaupun mata pelajaran tersebut secara khusus tidak ada di level SMA. Jumlah siswa yang punya kegiatan astronomi juga relatif sedikit.

Ikbal mengharapkan, astronomi kembali mendapatkan perhatian di sekolah menengah. "Kami ingin ada pelajaran bumi dan antariksa lagi di SMA, yang dulu sebenarnya sempat ada namun lalu hilang," kata Ikbal.

Ikbal berharap, anak-anak muda di Indonesia bisa menyenangi astronomi. Astronomi penting bukan cuma lantaran Indonesia perlu punya astronom melainkan juga karena astronomi mampu mengajak generasi muda untuk berpikir ilmiah.

"Yang penting cara berpikir sainsnya yang utama jadi terwarisi ke generasi muda. Cara berpikirnya, imajinasinya, cara memandang alam dengan sains, bukan dengan doktrin," pungkas Ikbal.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Lima Makhluk Hidup Paling Ekstrem di Dunia

Written By Unknown on Selasa, 06 Agustus 2013 | 10.47


KOMPAS.com — Selama ini, manusia mungkin merasa sebagai makhluk hidup paling kuat yang ada di bumi. Tetapi, ternyata terdapat beberapa makhluk hidup lain yang terbukti jauh lebih kuat daripada manusia.

Makhluk-makhluk hidup ini dijuluki "extremophiles". Mereka mampu bertahan hidup di lingkungan yang sangat panas, dingin, kering, asin, asam, basa, bertekanan tinggi, atau mengandung radioaktif.

Berikut ini adalah lima makhluk extremophiles seperti dirangkum NationalGeographic.com.

Tardigrade dan tiaras

Berukuran sekitar 1 milimeter, tardigrade termasuk dalam jenis polyextremophile dan mampu hidup dalam berbagai kondisi ekstrem.

Tardigrade dapat bertahan dalam rentang suhu -200 derajat celsius hingga 151 derajat celsius, bertahan di lingkungan kurang air dan oksigen serta dalam kondisi alkohol yang mendidih. Makhluk ini juga ribuan kali lebih tahan terhadap paparan radiasi dibandingkan manusia.

Tardigrade bertahan hidup dengan berubah menjadi cryptobiosis ketika berada di lingkungan yang tidak mendukung. Bentuk ini membuatnya "mati suri" karena beberapa sistem tubuhnya, seperti metabolisme, mati sementara. Kondisi ini bisa berlangsung puluhan tahun.

Udang Air Asin


Udang air asin adalah halofil makhluk yang hidup di The Great Salk Lake, Utah. Tempat hidup makhluk ini memiliki kandungan garam sepuluh kali lipat lebih banyak daripada samudra.

Kemampuan udang air asin untuk bertahan hidup di tempat ekstrem ditunjang oleh tubuhnya. Udang ini memiliki bagian luar tubuh yang kedap air sehingga menguntungkan karena air asin hanya bisa masuk melalui mulutnya.

Makhluk ini bahkan memiliki dua "pompa", insang dan kelenjar khusus pada leher, yang mampu menyaring garam dan membuat kandungan garam di tubuhya tetap seimbang.

Udang air asin juga memiliki tiga jenis hemoglobin, protein yang berguna untuk mengikat oksigen dalam darah, yang jumlahnya akan meningkat seiring dengan peningkatan kandungan garam di dalam air.

Cacing Es Metana


Cacing es metana sekilas mirip dengan alien. Makhluk ini ditemukan pada tahun 1997 di dasar laut Teluk Meksiko.

Makhluk datar, berwarna merah muda, dan sepanjang dua inci ini ditemukan bersembunyi dalam gundukan metana. Mereka diduga juga hidup pada bakteri yang tumbuh pada metana.

Dalam sebuah penelitian, diketahui bahwa cacing ini memiliki rambut tipis yang tumbuh di sekitar tubuhnya.

Cacing es metana bertahan hidup dengan ganggang dan mirip cacing. Namun, sistem reproduksi, metabolisme, dan pertumbuhannya seakan sudah "dirancang" untuk dapat bertahan hidup dalam lingkungan yang beku.

Ia dapat bertahan hidup dalam suhu nol derajat celsius, tetapi bisa mencair dan mati ketika suhu meningkat menjadi empat derajat celsius.

Mikroba Rushing Fireball


Mikroba rushing fireball adalah makhluk yang mampu bertahan dalam kondisi panas ekstrem. Makhluk ini masih mampu hidup meskipun berada dalam panas 100 derajat celsius.

Makhluk bernama Pyrococcus furiosus ini pertama kali ditemukan oleh Karl Stetter di geotermal panas sedimen laut di Vulcano Island, Italia.

Russell mcLendon dalam Mother Earth News melaporkan bahwa para peneliti kini tengah mengembangkan jenis mikroba rushing fireball yang mampu bertahan di kondisi lebih dingin serta memiliki "selera" terhadap karbondioksida. Makhluk tiruan ini nantinya akan dimanfaatkan untuk menjadi bahan bakar.

Bakteri Tahan Radiasi


Bakteri tahan radiasi itu adalah Dienococcus radiodurans. Bakteri ini ditemukan hampir lima puluh tahun yang lalu dalam sebuah daging yang sudah disterilkan dengan radiasi.

Ketika terpapar radiasi, tubuh Dienococcus radiodurans akan pecah, tetapi ia akan mampu kembali lagi ke bentuk semula.

Guiness World Record mencatat bakteri yang juga disebut mikroba Lazurus ini sebagai makhluk hidup paling tahan radiasi. Makhluk ini mampu menahan paparan radiasi 3.000 kali lebih banyak dari yang mampu diterima manusia.

Bakteri tahan radiasi ini kini tengah dikembangkan oleh para peneliti. Mereka memikirkan kemungkinan memanfaatkan bakteri ini untuk melindungi manusia dari paparan radiasi yang berasal dari kemoterapi dan sinar Matahari. (Dyah Arum Narwastu)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Hari Ini, Satu Tahun Sudah Curiosity Berada di Mars


KOMPAS.com
 — Hari ini, Selasa (6/8/2013), tepat setahun sudah robot antariksa Curiosity berada di planet Mars. Setahun lalu pada tanggal yang sama, Curiosity mendarat di Mars lewat proses 7 menit yang saat itu diistilahkan "7 Minute Terror".

Curiosity mendarat di Kawah Gale dengan tujuan utama kaki Gunung Sharp, gunung yang berketinggian sekitar 5 km. Kini, Curiosity masih harus menempuh perjalanan jauh. Jarak yang masih harus ditempuh untuk mencapai kaki Gunung Sharp sekitar 7 km.

Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kaki gunung tersebut pun masih lama. Karena Curiosity bergerak dengan kecepatan 92 meter per hari, maka kaki Gunung Sharp baru bisa dicapai dalam waktu 8 hingga 9 bulan lagi.

Dalam beberapa waktu ke depan, ilmu pengetahuan menjadi agenda kedua. Sebabnya, Curiosity akan melewati wilayah yang tidak menarik. "Kebanyakan akan berjalan, mengayuh pedal," kata John P Grotzinger, pimpinan misi Curiosity, dikutip New York Times, Senin (5/8/2013).

Situs web New York Times mengembangkan infografis interaktif yang menyuguhkan timeline perjalanan serta pencapaian Curiosity sejak hari pertama di Mars. Hari di Mars disebut dengan istilah sol, 40 menit lebih lama dari hari di Bumi.

Sol pertama, Curiosity berhasil mendarat di Kawah Gale, sebuah kawah selebar 153,6 km yang terbentuk oleh tumbukan asteroid pada 3,5 miliar tahun yang lalu. Sol-sol berikutnya, Curiosity menghasilkan penemuan dan foto-foto menarik.

Berdasarkan data Badan Penerbangan dan Antariksa Anerika Serikat (NASA), selama setahun, Curiosity telah menghasilkan 36.700 foto serta melakukan tembak laser sebanyak 75.000 kali untuk menganalisis tanah dan batuan Mars.

Pada sol 182, Curisoity melakukan pengeboran pertama pada batu bernama "John Klein" yang berada di wilayah bernama Yellowknife Bay. Hasil analisis mengungkap bahwa Mars punya material tanah liat, sulfat, mineral pendukung kehidupan, serta mungkin punya air yang bisa diminum.

"Tak usah dipertanyakan lagi, Mars merupakan lingkungan yang bisa dihuni pada masa lalu," kata Grotzinger. hanya saja, sulit untuk menemukan jejak kehidupan yang mungkin ada sebab Curiosity tak dibekali perangkat yang mendukung.

Curiosity juga mengungkap bahwa air pernah mengalir di Mars. Baru-baru ini, analisis menguak bahwa Mars mungkin juga punya samudera. Untuk foto, Curiosity menghasilkan foto-foto "narsis" di Mars serta foto panorama Mars.

Misi Curiosity direncanakan berjalan dua tahun. Namun, waktu misi bisa diperpanjang. Curiosity merupakan misi berbiaya 2,5 miliar dollar AS. Tujuan misi ini salah satunya adalah menguak tanda bahwa Mars merupakan lingkungan layak huni serta apakah astronot bisa mendarat di Mars suatu hari.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Setahun di Mars, Ini Fakta Baru yang Diungkap Curiosity


KOMPAS.com — Menjalankan misi selama setahun di Mars, kendaraan antariksa Curiosity berhasil mengungkap fakta-fakta. Fakta baru itu beragam, mulai dari yang memberikan tanda pernah adanya kehidupan, memaparkan bahaya hidup di Mars, hingga kemiripan Mars dengan Bumi.

Apa saja fakta-fakta baru yang diungkap Curiosity tersebut? Berikut pemaparannya seperti dirangkum Discovery, Senin (5/8/2013), dan terus diikuti oleh Kompas.com sepanjang misi Curiosity selama setahun terakhir.

Pemandangan Mars Mirip Bumi

Segera setelah mendarat, Curiosity segera mengirimkan foto-foto pertamanya. Salah satu yang mengagumkan diambil pada 8 Agustus 2012, menggambarkan betapa Mars mirip dengan wilayah gurun di Bumi. Melihat foto itu, mungkin saja ada yang berpikir bahwa pendaratan Mars adalah palsu.

Selain foto itu, Curiosity lewat akun Twitter-nya yang dikelola pihak Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) juga memublikasikan foto pertama yang dijepret, foto berwarna pertama, dan foto pertama Mars pada malam hari. NASA mengembangkan panorama 360 derajat Mars.

Simak artikel :

Inilah Foto Pertama Robot Curiosity di Mars

Inilah Foto Pertama Mars pada Malam Hari

Ini Dia Foto Berwarna Pertama Jejak Curiosity di Mars

Batu Jake Mirip Batu di Bumi

Setelah beberapa minggu berada di Mars, Curiosity mulai menganalisis batu Jake. Hasil analisis mengungkap bahwa batu Jake memiliki kemiripan dengan batu di Bumi, terbentuk lewat peristiwa vulkanik serta memiliki mineral yang juga dimiliki batu di Bumi.

Simak artikel :

Batu "Jake" Mars Serupa Batuan di Bumi

Tanah Mars Sama dengan Tanah di Hawaii

Pada November 2012, Curiosity telah sampai di wilayah Mars yang disebut Rocknest. Di wilayah itu, Curiosity menganalisis tanah Mars. Diketahui kemudian, tanah Mars memiliki komposisi mineral mirip dengan tanah di Hawaii.

Simak artikel :

Tanah Mars Sama dengan Tanah di Hawaii

Bukti Adanya Air di Mars

Curiosity mengungkap adanya kerikil Mars yang berbentuk melingkar. Ilmuwan yang terlibat proyek Curiosity mengatakan, kerikil tersebut merupakan bukti terkuat adanya air di Mars.

Simak artikel :

Bukti Terkuat Adanya Air di Mars

Mineral Mars

Analisis pada batu "John Klein" mengungkap bahwa Mars memiliki mineral yang terbentuk dengan keberadaan air. Batu tersebut mengandung mineral tanah liat dan sulfat. Diduga, Mars juga pernah punya sumber air minum.

Riset lain yang dilakukan oleh wahana antariksa Opportunity juga mengungkap bahwa Mars punya air yang bisa diminum. Opportunity dalam observasi di Kawah Endeavour menemukan adanya tanda bahwa Mars punya air dengan pH netral.

Simak artikel :

Mars Diduga Pernah Punya Sumber Air Minum

Adakah Air yang Bisa Diminum di Mars?

Atmosfer Planet Mars

Curiosity mengungkap bahwa dahulu Mars pernah memiliki atmosfer tebal. Namun, karena tak mampu mempertahankan gasnya dari radiasi Matahari, atmosfer planet merah itu perlahan menipis. Hal ini kemudian berpengaruh pada kemampuan Mars mendukung kehidupan.

Sisi Bahaya Mars

Mars memang terkonfirmasi punya air. Namun, Mars juga punya senyawa beracun seperti sulfat yang bila terhirup akan sangat berbahaya, serta perklorat. Belum lagi, radiasi Matahari di Mars yang sangat berisiko bagi manusia.

Fenomena Astronomi

Di samping mengungkap fakta baru, Curiosity juga mengungkap fenomena astronomi menarik di Mars. Misalnya, Curiosity menangkap citra gerhana yang muncul karena Phobos menghalangi Matahari serta terbitnya bulan tersebut.

Simak artikel :

Gerhana Bulan Mars "Menggigit" Matahari

Video Ini Suguhkan Pemandangan Bulan Terbit di Mars

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Alat Ini Bisa Bikin Manusia \"Hilang\" dari Radar Nyamuk

Written By Unknown on Senin, 05 Agustus 2013 | 10.47


KOMPAS.com — Nyamuk memiliki cara unik untuk mendeteksi kehadiran "calon mangsanya". Mereka memiliki radar yang mampu mencium aroma karbon dioksida (CO2) yang dikeluarkan melalui napas, kulit, serta keringat. Bahkan, nyamuk bisa mencium aroma ini dari jarak ratusan meter.

Terdapat banyak cara yang digunakan manusia untuk mengusir nyamuk, mulai dari penggunaan kelambu hingga obat nyamuk. Namun, cara-cara tersebut sering kali dinilai kurang efektif dan berpotensi meracuni tubuh.

Para peneliti kini tengah mengembangkan sebuah alat yang lebih efektif dan aman untuk mengusir nyamuk. Alat ini bernama Kite Patch, sebuah benda berbentuk persegi kecil yang dapat ditempelkan ke baju.

Kite Patch bekerja dengan cara yang unik. Benda ini mampu menyamarkan "bau" CO2 yang dikeluarkan oleh tubuh manusia.

Kite Patch dikembangkan oleh Grey Frandsen, Michelle Brown, dan Torrey Tayanaka dari Olfactor Laboratories. Mereka terinspirasi menciptakan alat ini setelah membaca hasil penelitian Anandasankar Ray dan rekannya dari University of California Riverside yang dipublikasikan di Nature pada Juni 2011. Penelitian ini mengungkapkan tiga bahan kimia yang bisa mengganggu "radar penerima CO2" nyamuk.

Ketiga bahan kimia ini bekerja dengan cara yang berbeda untuk mengusir nyamuk. Bahan kimia pertama meniru karbon dioksida dan mampu digunakan untuk menjauhkan nyamuk dari manusia dan perangkap serangga.

Bahan kimia kedua menjadikan nyamuk tidak dapat mendeteksi CO2 sama sekali. Dan yang ketiga justru mengubah kemampuan radar nyamuk yang sensitif terhadap CO2 sehingga membuat nyamuk tersebut merasa bingung.

Frandsen dan timnya kini tengah menggalang dana melalui situs web "indiegogo" untuk melakukan uji lapangan di Uganda. Jika pengujian ini berhasil, mereka akan mulai memproduksi Kite Patch secara massal dan mendistribusikan secara global dimulai dari AS.

Di dunia epidemiologi, Kite Patch dikenal sebagai pembasmi spasial. Dalam tinjauan yang dimuat dalam Malaria Journal, peneliti mencatat bahwa pembasmi spasial dapat diharapkan untuk membasmi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hewan perantara seperti nyamuk. Sayangnya pembasmi spasial belum dimasukkan ke dalam program pengendalian penyakit multi-lateral karena kurangnya data epidemiologi yang mendukung keberhasilannya.

Pengujian sangat penting untuk dapat diintegrasikan dengan pemantauan secara terus-menerus. Pemantauan ini mencakup seberapa besar pengaruh Kite Patch terhadap jumlah nyamuk yang terdapat baik di dalam maupun di luar ruangan serta seberapa banyak dari nyamuk tersebut yang tetap menggigit manusia. Jumlah ini tentunya akan berpengaruh pula pada jumlah patogen yang mungkin akan masuk ke dalam tubuh manusia melalui perantara nyamuk. (Dyah Arum Narwastu)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

\"Crop Circle\" di Dasar Laut, Buatan Siapa?


KOMPAS.com — Tahun 1995, struktur geometris mirip crop circle ditemukan di dasar laut wilayah Pulau Amami-Oshima, Jepang. Struktur tampak rapi, terdiri atas lembah dan puncak, tetapi belum diketahui asal usulnya. Apakah struktur itu buatan atau alami? Mungkinkah buatan alien seperti kebanyakan crop circle sering diidentikkan?

Penelitian pada tahun 2011 akhirnya mengungkap bahwa struktur tersebut alami, dibuat oleh pejantan ikan buntal (Torquigener sp). Terungkap pula bahwa struktur tersebut berperan penting dalam proses perkawinan ikan jenis ini. Pejantan ikan buntal akan berupaya sebaik mungkin untuk membuat "crop circle" terbaik agar betina tertarik kepadanya.

Dalam publikasi di jurnal Scientific Report, 1 Juli 2013, ilmuwan Jepang yang terdiri dari Hiroshi Kawase, Yoji Okata, dan Kimiaki Ito menjelaskan bahwa bukan saja "crop circle" buatan ikan buntal itu yang unik. Proses pembuatannya pun mengejutkan, membuktikan bahwa ikan buntal cukup cerdas dalam membuat struktur rumit ini.

Kawase dan rekannya menguraikan, pada tahap awal, ikan buntal akan membuat bentuk lingkaran dasar terlebih dahulu. Untuk membuatnya, ikan buntal menggunakan sirip dada, sirip anal, dan sirip ekor. Setelah lingkaran dasar terbentuk, ikan buntal jantan baru mulai mendekorasi struktur geometri pemikat betina itu.

Pembuatan dekorasi juga terbilang cukup rumit. Dari lingkaran bagian luar, ikan buntal akan bergerak ke dalam, membentuk struktur radial dengan puncak dan lembah yang terhubung dengan lingkaran dasar yang telah dibuat. Ikan buntal akan membuat struktur ini satu per satu hingga keseluruhan sudut lingkaran dasar terpenuhi.

Pada tahap menengah, ikan buntal akan mengulangi gerakan ini sehingga struktur radial makin jelas. Kemudian, ikan buntal akan berenang memutar di bagian tengah lingkaran sehingga seluruh pasir teraduk. Kemudian, ikan buntal akan mengibaskan sirip ekornya di bagian tengah lingkaran hingga terbentuk pola yang tak beraturan di bagian tersebut.

Butuh energi besar dan waktu lama bagi ikan buntal untuk membuat struktur ini. Setidaknya, ikan buntal membutuhkan 7-9 hari untuk membuatnya. Uniknya, pejantan takkan menggunakan struktur yang sama di lokasi yang sama untuk memikat betina. Bisa dibilang, ikan buntal memakai satu "ranjang" untuk satu perkawinan saja.

"Crop circle" ini tak hanya indah tetapi juga fungsional. Betina akan datang ke struktur ini. Lalu, pejantan akan mengejar dan pada akhirnya proses perkaiwnan terjadi, betina meletakkan telur di bagian tengah struktur geometris ini. Pejantan akan bertahan di struktur ini selama paling tidak 6 hari. Betina akan tinggal satu menit lalu pergi dan beberapa kali akan menjenguk. "Crop circle", pembuatan dan proses penggunaannya begitu mengagumkan.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Gerhana Planet Alien Mirip Bumi Berhasil Diobservasi


KOMPAS.com — Peristiwa gerhana planet alien atau transit planet ekstrasolar di muka bintang induknya berhasil diabadikan dengan sinar X. Ini adalah yang pertama kali dilakukan sejak astronom menemukan planet ekstrasolar pertama lebih dari 20 tahun yang lalu.

Posisi planet dan bintang induknya, HD 189733, ini menguntungkan astronom karena memungkinkan Chandra X-ray Observatory milik NASA dan XMM Newton Observatory milik European Space Agency untuk melakukan observasi lebih mendalam terhadap kedipan cahaya bintang berbasis sinar X.

"Ribuan kandidat planet yang singgah biasanya hanya mampu dideteksi berdasar sinar optik," kata Katja Poppenhaeger dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CfA) in Cambridge, Mass, yang sekaligus memimpin studi ini.

"Kemampuan untuk mendeteksi dengan sinar X ini penting karena mengungkap informasi baru tentang planet ekstrasolar," ujar Poppenhaeger dalam keterangan pers di situs web NASA, Senin (29/7/2013) lalu.

Studi yang telah dipublikasikan pada bulan Agustus dalam edisi kesepuluh The Astrophysical Journal ini menggunakan Chandra untuk mengobservasi enam data transit serta menggunakan XMM Newton untuk mengobservasi satu data transit.

HD 189733b ternasuk Jupiter panas, ukurannya sebanding dengan Jupiter, tetapi berjarak lebih dekat dengan bintangnya. Jarak HD 189733b dengan bintang induknya 30 kali lebih dekat dari jarak Bumi ke Matahari. HD 189733b cuma butuh waktu 2,2 hari untuk mengelilingi bintangnya.

HD 189733b merupakan Jupiter panas terdekat dari bumi. Maka planet ini kerap menjadi target riset. Astronom telah melakukan pengamatan berbasis cahaya tampak dengan wahana Kepler. Penelitian dengan teleskop Hubble juga telah mengungkap warna biru planet ini.

Studi menggunakan Chandra dan XMM Newton kali ini mengungkap rahasia atmosfer planet ini. Wahana antariksa melihat cahaya sinar X meredup selama masa transit. Penurunan intensitas cahaya ini tiga kali lebih banyak dari cahaya optik.

"Data menunjukkan adanya lapisan tambahan atmosfer planet yang tembus pandang pada observasi cahaya tampak namun buram pada sinar X. Bagaimanapun, kita masih memerlukan data untuk mengonfirmasinya," ujar Jurgen Schmitt, penulis pendamping dari Hamburger Sternwarte di Hamburg, Jerman.

Astronom juga berhasil mengungkap interkasi antarplanet dan bintangnya. Sejak satu dekade lalu, para astronom telah mengetahui bahwa ultraviolet dan radiasi sinar X bintang HD 189733 menguapkan atmosfer HD 189733b.

Dalam penelitian ini, astronom mengungkap bahwa ada 100 juta hingga 600 juta kilogram massa atmosfer yang diuapkan tiap detiknya. Atmosfer HD 189733b tampaknya akan semakin kurus 25-65 persen lebih cepat daripada yang terjadi saat ini jika ukuran atmosfernya semakin mengecil.

Dengan observasi Chandra X-Ray, astronom mengetahui bahwa HD 189733 juga punya bintang pasangan. Namun, HD 189733 tampaknya berusia 3-3,5 miliar tahun lebih muda dari pasangannya sehingga membuatnya menghasilkan sinar X 30 kali lebih besar. (Dyah Arum Narwastu)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Yuk Berkemah di Bawah Bintang, Menata Ulang Jam Biologis

Written By Unknown on Minggu, 04 Agustus 2013 | 10.47

KOMPAS.COM — Para peneliti mengatakan bahwa berkemah selama seminggu dapat menata ulang jam biologis yang mengatur pola tidur kita. Para ilmuwan berpendapat bahwa kehidupan modern mengganggu tidur kita melalui paparan sinar listrik dan berkurangnya akses terhadap sinar matahari.

Namun setelah menghabiskan waktu di luar ruang, para peneliti mengatakan bahwa jam tubuh dari delapan relawan yang diuji telah berhasil sinkron dengan matahari terbit dan terbenam.

Penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Current Biology. Disebutkan bahwa semua bentuk kehidupan di bumi yang ritme biologisnya berevolusi telah mengantisipasi matahari terbit dan terbenam.

Para peneliti telah menemukan bahwa ketersediaan penerangan listrik sejak tahun 1930-an dan seterusnya telah memengaruhi jam sirkadian internal kita, memungkinkan kita jauh lebih lambat dalam proses evolusi.

Ritme sirkadian adalah siklus 24 jam dalam proses fisiologis makhluk hidup. Ritme ini penting untuk menentukan pola tidur dan pola makan.

Para ilmuwan dalam penelitian ini pertama-tama menganalisis sekelompok orang relawan di kehidupan normal mereka. Intensitas mereka terpapar cahaya alami dan buatan diukur oleh peneliti.

Dengan melihat kadar hormon, melatonin, mereka menyimpulkan bahwa pencahayaan lingkungan modern menyebabkan sekitar dua jam penundaan waktu sirkadian.

Melatonin naik tepat sebelum kita pergi tidur dan berkurang sepanjang malam sampai kita bangun. Para peserta penelitian cenderung untuk tetap tinggal sampai tengah malam dan bangun sekitar pukul delapan pagi.

Tingkat melatonin mereka masih tetap tinggi selama beberapa jam setelah mereka bangun, menunjukkan mereka tidak selaras dengan irama alami.

Riset di dalam tenda

Para ilmuwan kemudian membawa relawan berkemah selama seminggu di Colorado. Senter dan perangkat elektronik dilarang, satu-satunya sumber cahaya malam adalah api unggun.

Hasilnya adalah bahwa pola tidur dan bangun dari delapan relawan, selaras atau sinkron dengan dengan terbit dan terbenamnya matahari. "Waktu mereka semua bergeser lebih awal," kata Profesor Kenneth Wright dari University of Colorado di Boulder.

Apa yang mengejutkan tim ilmiah adalah peningkatan jumlah sinar matahari relawan dialami melalui pengalaman berkemah mereka, sekitar 400 persen lebih banyak dibanding waktu mereka sebelumnya.

"Kami berpikir bahwa pola penerangan listrik modern dan pengurangan paparan sinar matahari berkontribusi untuk memperlambat jadwal tidur dan kesulitan bangun di pagi hari," kata Profesor Wright.

"Setelah paparan siklus cahaya gelap alami, tingkat melatonin tetap rendah sebelum para relawan bangun, menunjukkan otak kita mulai terjaga setelah kita terkena isyarat alam."

Sementara pola tidur para relawan bergeser kembali sekitar dua jam, jumlah total waktu yang mereka habiskan untuk tidur tetap sama.

Penelitian lanjutan

Studi kecil masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab: akankah efek yang sama ditemukan pada orang yang biasanya tinggal dengan eksposure lebih atau kurang cahaya misalnya? Profesor Wright mengakui bahwa ada banyak pekerjaan yang masih harus diselesaikan.

"Kami akan senang melihat hasil penelitian ini ditindaklanjuti di berbagai belahan dunia. Kami sedang mempelajari orang sehat. Kami ingin melihat orang-orang yang memiliki masalah tidur yang nyata. Ini hanya langkah pertama," katanya.

Sementara itu, tidak mungkin setiap orang pergi berkemah sepanjang waktu. Para ilmuwan mengatakan bahwa beberapa perubahan kecil yang sederhana pada cara kita menjalani hidup bisa membantu kita mencapai beberapa manfaat, seperti tidur di bawah bintang-bintang.

"Mulailah hari Anda dengan berjalan-jalan di luar," katanya.

"Pada malam hari mengurangi lampu di rumah, matikan komputer dan perangkat elektronik. Kita sensitif terhadap tingkat cahaya redup, bahkan cahaya dari ponsel di malam hari adalah isyarat yang mendorong jam tubuh kita terlambat."

Editor : Fikria Hidayat


10.47 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger