Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Selalu Dibuang, Ampas Teh Ternyata Punya Manfaat Lingkungan

Written By Unknown on Senin, 15 Juli 2013 | 10.47

JAKARTA, KOMPAS.com - Teh amat akrab dengan manusia Indonesia. Mayoritas masyarakat Indonesia setidaknya meminum satu cangkir teh setiap hari.

Meski demikian, tak banyak yang tahu bahwa ampas teh yang biasa dibuang sebenarnya punya manfaat bagi lingkungan. Ampas teh mengandung senyawa flavonoid yang terbukti mampu menurunkan kadar besi yang mencemari air.

Reza Radiyatul Jannah (20), Mayliga Nor Permana (21), dan Erwin Nur Cahyanto (21), mahasiswa dari Universitas Diponegoro, Semarang memanfaatkan sifat tes tersebut, mengolahnya menjadi produk absorben (penyerap).

Ketiganya terinspirasi dari pemanfaatan ketapang sebagai absorben. Mereka menyadari bahwa ternyata ampas teh lebih potensial. Terlebih, banyak ampas teh dari perusahaan teh di Semarang yang tak dimanfaatkan.

Dihubungi Kompas.com, Sabtu (13/7/2013), Reza mengatakan bahwa untuk mengolah teh menjadi absorben, prosesnya dikatakan sederhana.

"Kami mengambil ampas teh dari salah satu perusahaan teh, lalu kami uji skala laboratoriumnya. Setelah ampas teh dicuci untuk menghilangkan warnanya, ampas teh tinggal dikeringkan dan dihaluskan," jelas Reza.

Absorben berbahan teh yang telah dibuat kemudian diuji. Reza dan rekannya membuat dua macam absorben, yang terbuat dari ampas teh murni dan yang ditambah senyawa asam, basa dam etanol.

Hasil pengujian yang dilakukan mengungkap bahwa ampas teh murni ternyata lebih efektif dalam menyerap kandungan besi dalam limbah.

Kini, Reza dan timnya menamapakn  produk absorben berbahan teh mereka dengan nama "Teasorbent". Produk tersebut akan segera dipatenkan.

Kansungan besi dalam air yang tinggi akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Jika berlebihan, besi dapat menyebabkan hemokromatosis yang dapat berakibat pada kanker hati, diabetes, dan gagal jantung.

Kandungan Fe yang ada dalam air biasanya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, namun dapat dikenali dengan adanya bau karat dan efek kekuningan pada baju yang dicuci menggunakan air tersebut.

Teabsorbent dapat menurunkan kadar besi hingga 98,2 persen. Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/Men.Kes/Per/IX/1990 menyatakan, batas maksimum kandungan besi yang diizinkan untuk air minum adalah 0,3 ppm dan 1 ppm untuk air bersih.

Ketiga mahasiswa yang berhasil memanfaatkan ampas teh sebagai adsorben ini adalah salah satu peserta Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang biasanya dilaksanakan setiap tahun oleh DIKTI dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ketiganya lolos dalam PKM kategori penelitian dan rencananya akan segera mengikuti langkah selanjutnya dari program ini, yakni Monitoring dan Evaluasi (MONEV) serta Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIMNAS). (Dyah Arum Narwastu)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Bulan Mungkin Terbentuk Lewat Peristiwa \"Tabrak Lari\"

KOMPAS.com - Empat dekade lalu, sebuah teori pembentukan Bulan -satelit milik Bumi- muncul. Teori itu menyebut tabrakan dahsyat dialami Bumi sekitar 4,5 miliar tahun lalu dengan benda langit yang kira-kira sebesar Planet Mars.

Tumbukan itu menyebabkan menyebarnya puing-puing besar ke angkasa luar. Hingga akhirnya membentuk Bulan, satelit bagi planet kita yang menciptakan gelombang pasang-surut di laut.

Ketika teori tabrakan besar ini muncul pada 1970-an, ia sesuai dengan pandangan bagaimana sistem tata surya terbentuk. Dalam pandangan ini, protoplanet-protoplanet yang penuh gas dan berbatu, tumbuh dalam piringan di sekitar Matahari muda. Selama puluhan juta tahun, protoplanet ini bersaing untuk ruang di antariksa. Sehingga tumbukan tidaklah terelakkan.

Saat Bumi semakin besar, ia menyerap beberapa objek yang kira-kira sebesar Planet Merkurius atau Mars. Dan, masih menurut teori tabrakan besar, Bulan terjadi berkat mayoritas puing-puing dari planet penabrak --protoplanet berbatu mirip Bumi. Karena si penabrak ini memiliki inti besi yang akhirnya tenggelam ke inti Bumi. Bulan sendiri terdiri dari batu keseluruhan.

Meski demikian, teori ini ternyata tidak sepenuhnya diterima oleh para astronom. Erik Asphaug, peneliti planet dari Arizona State University, Amerika Serikat, miliki pandangan berbeda. Dijelaskannya terdapat bukti-bukti baru yang menampik teori tabrakan besar.

Sebagai contoh, analisa terbaru dari batu Bulan menunjukkan bahwa mantel Bulan dan Bumi tidaklah sama. Elemen macam oksigen, silikon, dan titanium berasal dari beberapa varietas atau isotop. Campuran dari para isotop ini sedemikian rupa sangat mirip sehingga Bulan nampak terbentuk sepenuhnya dari pecahan Bumi, bukan dari si planet penabrak.

Kemungkinan lain yang bisa jadi teori adalah "tabrak-lari". Di mana terjadi tabrakan besar, tapi si penabrak yang berkecepatan tinggi tetap melaju setelah menyebabkan bongkahan besar mantel Bumi ke luar angkasa. Bongkahan ini bisa jadi pembentuk utama Bulan.

Atau mungkin juga Bulan memang terbentuk dari si planet penabrak. Namun kemudian ia terselimuti dengan lapisan tipis dari material Bumi yang bertahan di orbit paling tidak satu abad pasca-tabrakan.

Tantangan berikutnya bagi teori tabrakan besar adalah bagaimana menjelaskan kenapa sisi lain dari Bulan lebih bergunung-gunung dan berkulit tipis. Asphaug berteori bahwa Bumi mempunyai Bulan kedua yang menempelkan dirinya di saudaranya yang lebih besar.

"Pintu sudah terbuka dan kini kita punya banyak sekali pemikiran. Mungkin akan ada lagi momen 'aha!' pada lima tahun mendatang," kata Asphaug. Tapi untuk sekarang, Bulan masih menyimpan misterinya. (Robert Irion/National Geographic Indonesia)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Minggu Ini, Langit Fajar Ramai Planet dan Bintang

KOMPAS.com - Seminggu lalu, ada International Space Station (ISS) yang melewati langit Indonesia meramaikan acara selepas santap sahur. Minggu ini, ada apa?

Simulasi perangkat lunak astronomi Stellarium menunjukkan, ada tiga planet dan dua bintang terang yang akan mewarnai langit selepas santap sahur alias menjelang fajar. Tiga planet itu adalah Mars, Jupiter, dan Merkurius. Dua bintang yang akan tampak adalah Betelgeuse dan Sirius.

Mars dan Jupiter sebenarnya sudah tampak sejak Senin (15/7/2013) menjelang fajar, mulai sekitar pukul 04.30 WIB. Dua planet ini tampak sangat berdekatan, bisa diamati bersamaan.

Bila kedekatan dua planet hari ini terlewatkan, tak perlu khawatir. Duo planet ini masih akan tampak sepanjang minggu ini setiap menjelang fajar. Setiap kali setelah santap sahur atau menunaikan ibadah shalat Subuh, dua planet ini bisa dilihat.

Jupiter akan tampak lebih cerlang dengan magnitud -1,47, sementara Mars 1,79. Magnitud menyatakan kecerlangan benda langit, semakin kecil nilainya berarti benda langit itu akan tampak makin cerlang.

Sementara, mulai Jumat (19/7/2013) nanti, duo planet tersebut akan ditemani oleh Merkurius. Planet terdekat dengan Matahari ini akan tampak dengan magnitud 1,77 mulai sekitar pukul 05.00 WIB. Karena bertepatan dengan fajar, mungkin kenampakan planet ini akan sulit diidentifikasi.

Bersamaan dengan tampaknya ketiga planet tersebut, akan tampak pula dua bintang terang, yaitu Sirius si bintang paling terang dilihat dari Bumi dan Betelgeuse. Sirius akan tampil dengan magnitud -1,45, mudah diamati.

Tiga planet dan dua bintang yang akan tampil minggu ini bisa diamati di langit timur menjelang fajar. Untuk bisa mengamati maksimal, dibutuhkan binokuler atau teleskop, walaupun pengamatan dengan mata telanjang juga dimungkinkan bila jeli. Perlu mencari tempat lapang dan jangan lupa baju hangat.

Semua benda langit itu akan tampak dengan satu syarat, tak ada mendung dan hujan yang menghalangi. Bila mendung dan hujan terjadi seperti beberapa waktu belakangan, maka harus menyampaikan wassalam pada semua benda langit itu.

Selain pemandangan menjelang fajar, malam hari pada minggu ini juga menarik. Bulan si satelit Bumi juga akan tampak berdekatan dengan Saturnus. Selasa (16/7/2013), Bulan akan berada di bawah Saturnus sedangkan pada Rabu (17/7/2013) Bulan akan tampak di sebelah kiri planet bercincin itu.

Untuk para penggemar astrofotografi, kenampakan banyak benda langit ini adalah saat menarik untuk memotret. Bila mendapatkan foto bagus, jangan sungkan untuk berbagi dengan Kompas.com lewat email redaksikcm@kompas.com.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Kristal Memori Superman Kini Jadi Kenyataan

Written By Unknown on Minggu, 14 Juli 2013 | 10.47

KOMPAS.com — Sekelompok peneliti asal University of Southampton, Inggris, yang diketuai oleh Jingyu Zhang, bekerja sama dengan peneliti asal Eindhoven University of Technology, Belanda, untuk pertama kalinya bereksperimen dan mendemonstrasikan proses penyimpanan dan pengambilan data digital lima dimensi dengan metode penulisan femtosecond laser.

Adapun media penyimpanan model ini mampu menyimpan data dengan kapasitas yang belum pernah ada sebelumnya, yakni sebesar 360 terabyte per cakram dan mampu menyimpan data dengan aman meski suhu mencapai 1.000 derajat celsius. Menurut peneliti, media penyimpanan ini digadang-gadang mampu menyimpan data selama-lamanya.

Disebut juga sebagai "kristal memori Superman" karena memori kaca tersebut mirip dengan "kristal memori" yang biasa digunakan di film-film Superman. Data disimpan di dalam struktur nano yang dibuat dalam kuarsa padat yang mampu menyimpan data berukuran raksasa selama lebih dari satu juta tahun.

Informasi yang disimpan di sana juga disusun secara lima dimensi, yakni berdasarkan ukuran dan orientasi, di luar posisi tiga dimensi dari struktur nano memori tersebut. "Kami mengembangkan memori portabel dalam bentuk yang sangat stabil dan aman menggunakan kaca, dan akan sangat bermanfaat bagi organisasi yang menyimpan data sangat besar," kata Jingyu.

"Saat ini, perusahaan harus mem-back up arsip data mereka setiap lima sampai sepuluh tahun sekali karena memori berbasis hard disk memiliki masa pakai yang relatif pendek," ucapnya.

Selain itu, kata Jingyu, museum yang ingin menyimpan informasi atau instansi seperti arsip nasional di mana mereka menyimpan dokumen dalam jumlah yang sangat banyak akan terbantu dengan teknologi ini.

Dalam uji coba, sebuah file teks sebesar 300 Kb berhasil disimpan dalam bentuk 5D menggunakan laser ultracepat yang memproduksi denyut cahaya yang sangat pendek dan deras. File itu ditulis dalam tiga lapis titik-titik nanostructure yang terpisah dengan jarak lima mikrometer.

Struktur nano tersebut mengubah cara sinar bergerak melalui kaca, memodifikasi polarisasi cahaya yang bisa dibaca oleh kombinasi mikroskop optik dan sebuah polariser, serupa dengan yang biasa ditemukan di kacamata Polaroid.

Temuan tersebut sendiri telah dipublikasikan dalam laporan berjudul 5D Data Storage by Ultrafast Laser Nanostructuring in Glass dan dipresentasikan dalam konferensi terkemuka yakni, Conference on Lasers and Electro-Optics di San Jose, Amerika Serikat. Saat ini para peneliti tengah mencari partner di industri untuk mengomersialisasikan teknologi evolusioner ini. (Abiyu Pradipa/National Geographic Indonesia)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Mengapa Matahari di Atas Kiblat?


Muh. Ma'rufin Sudibyo*

KOMPAS.com — Mari lanjutkan perbincangan akan fenomena Matahari yang bisa menempati posisi tepat di atas kiblat. Salah satunya bakal terjadi pada 14 hingga 16 Juli 2013 pukul 16.27 WIB. Cendekiawan falak menyebut peristiwa langka ini sebagai istiwa' azzam, yakni saat Matahari berkedudukan di titik istiwa' utama (zenith). Namun, fenomena tersebut juga populer dengan sebutan rashdul qiblat. (Baca: Matahari Tepat di Atas Mekkah, Cek Arah Kiblat 14-16 Juli!)

Nah, pertanyaannya, bagaimana Matahari bisa mengalami situasi seperti itu?

Kuncinya terletak pada Bumi sendiri. Sebagai imbas dari masa lalunya yang demikian menakjubkan, terutama setelah terjadinya hantaman protobumi dengan prototheia di masa bayi tata surya, poros Bumi kita tak lagi tegak lurus, tetapi termiringkan.

Cepatnya rotasi Bumi yang membuat area di sekeliling khatulistiwa menggelembung, sementara kawasan kutub-kutubnya memepat membuat Bumi turut diganggu oleh gravitasi planet-planet tetangga, khususnya si terang Venus dan si raksasa gas Jupiter. Akibatnya, kemiringan sumbu rotasi Bumi pun berubah-ubah secara gradual, yakni antara 22,1 hingga 24,5 derajat terhadap bidang tegak lurus ekliptika.

Perubahan ini memiliki periodisitas 45.000 tahun dan menjadi bagian siklus Milankovitch yang turut mengontrol perubahan iklim Bumi hingga ke titik ekstremnya.

Besarnya kemiringan sumbu Bumi saat ini adalah 23,44 derajat dan dalam 9.800 tahun ke depan akan terus menurun hingga mencapai nilai terendahnya, yakni 22,1 derajat. Saat ini, kutub utara langit, yakni proyeksi sumbu rotasi bumi di langit bagian utara, mengarah tepat ke bintang Polaris di gugusan bintang Ursa Minor sehingga Polaris pun mendapat kehormatan menyandang status bintang kutub.

Namun, dalam 10.000 tahun mendatang kutub utara langit akan bergeser sedemikian rupa sehingga bakal sangat berdekatan dengan bintang al-Fawaris atau Rukh (delta Cygni) di gugusan bintang Cygnus. Pergeseran bintang kutub ini merupakan konsekuensi dari miringnya sumbu Bumi yang masih ditambah dengan gangguan gravitasi Venus dan Jupiter.

Penjaga waktu

Miringnya sumbu rotasi Bumi berimplikasi pada banyak hal. Salah satunya adalah berubah-ubahnya posisi semu Matahari saat dilihat dari Bumi. Hal ini merupakan efek yang muncul dari kombinasi kemiringan sumbu rotasi Bumi dengan gerak Bumi mengelilingi Matahari. Maka,  sepanjang tahun Masehi (Tarikh Umum) kita akan menyaksikan proyeksi posisi Matahari di muka Bumi senantiasa bergeser dan bersifat siklik, yakni mulai dari garis khatulistiwa (pada 20/21 Maret) beringsut ke utara hingga menempati garis lintang 23,44 LU (20/21 Juni), lantas kembali lagi ke khatulistiwa (22/23 September). Kemudian, ke selatan hingga mencapai garis lintang 23,44 LS (21/22 Desember) untuk kemudian kembali lagi ke khatulistiwa.

Jika sepanjang waktu tersebut posisi Matahari diabadikan pada jam yang sama untuk tanggal-tanggal yang berbeda dengan selisih tanggal tetap, kita akan menjumpai pola khas menyerupai angka delapan yang bernama analemma.


Siklus gerak semu Matahari ini menjadi penjaga waktu (time-keeping) untuk sistem penanggalan berbasis Matahari seperti kalender Masehi (Tarikh Umum). Siklus ini juga menjadikan setiap titik mana pun di muka Bumi yang terletak di antara garis lintang 23,44 LU hingga 23,44 LS akan mengalami situasi di mana Matahari dapat menempati titik zenith-nya dalam bola langit horizon setempat.

Dengan kata lain, di mana pun kita berdiri, sepanjang masih berada di antara garis lintang 23,44 LU hingga 23,44 LS,  akan terjadi situasi di mana Matahari bakal tepat berada di atas kepala kita dalam dua kesempatan berbeda setiap tahun Masehi (Tarikh Umum). Jika hal ini terjadi, tak ada benda yang berdiri tegak lurus muka Bumi atau paras air laut rata-rata yang memiliki bayangannya saat Matahari mencapai puncak kulminasinya.

Jadi, "hari tanpa bayangan" tak hanya sekedar terjadi di garis khatulistiwa saja. Bagi Jakarta, misalnya, fenomena hari tanpa bayangan akan terjadi setiap tanggal 4/5 Maret dan 8/9 Oktober.
Kabah sebagai pusat kota suci Mekkah terletak pada garis lintang 21,427 LU sehingga juga mengalami fenomena hari tanpa bayangan yang sama, yakni pada tanggal 27/28 Mei pukul 12.17 dan 14/15 Juli pukul 12.27 waktu Mekkah setiap tahunnya.

Namun, dengan konsepsi kiblat sebagai lingkaran berdiameter 45 km yang berpusat di Kabah,  fenomena tersebut bakal terjadi pada 26-28/27-29 Mei dan 13-15/14-16 Juli, bergantung apakah tahun Matahari yang sedang dijalani merupakan tahun kabisat atau bukan. Rentang waktu ini merupakan konsekuensi dari bergesernya proyeksi posisi Matahari di muka Bumi sebesar rata-rata 20 km/hari ke arah utara/selatan dari suatu tempat dalam kulminasi atasnya.

Penjaga kiblat

Inilah waktu di mana Matahari memerankan dirinya sebagai penjaga kiblat (qibla-keeping) sehingga setiap titik di muka Bumi yang tersinarinya dapat menyejajarkan arah kiblat setempatnya dengan leluasa. Peran ini sebenarnya juga bisa dilakukan oleh Bulan mau pun benda langit lainnya seperti planet-planet dan bintang-bintang tertentu. Namun, dengan dominasi Matahari sebagai pusat tata surya sekaligus benda langit terbenderang bagi Bumi,  kedudukan Matahari sebagai penjaga kiblat jauh lebih menonjol.

Segenap umat Islam memahami bahwa ibadah shalat belum memenuhi syarat sahnya bila tidak menghadap kiblat. Namun, shalat tidaklah bertujuan menyembah kiblat, tetapi tetap tertuju kepada Allah SWT karena Allah SWT menitahkan untuk menjadikan Kabah sebagai kiblat, umat Islam mendudukkan Kabah sebagai titik fokus yang menjadi bagian ketaatan, baik dalam hal shalat dan ibadah lainnya maupun untuk kepentingan non-ibadah yang menjadi bagian kehidupan manusia sehari-hari ataupun pasca-kehidupan.

Oleh karena itu, arah kiblat tak sekadar terbatas pada masjid/mushala saja. Tak kalah pentingnya bagi kedudukan toilet maupun permakaman Muslim.

Pentingnya ketaatan dalam berkiblat dan bukan pada sosok bangunannya, nampak pada peristiwa penting menjelang bulan suci Ramadhan yang pertama dijumpai Nabi SAW dan para sahabat pasca-peristiwa hijrah, yakni saat kiblat dipindahkan dari yang semula berada di Baitul Maqdis di Yerusalem menjadi Baitullah (Kabah) di Mekkah.

Ketaatan pada Allah SWT merupakan hal utama bagi Nabi SAW dan para sahabat sehingga tidak menjadi masalah meski harus mengubah arah hadap shalat dengan begitu radikal, yakni dari arah utara-barat laut menjadi selatan, senyampang shalat masih berlangsung.

Peristiwa ini menyuguhkan banyak makna. Salah satunya adalah bahwa hanya dengan perpindahan kiblat inilah di hari-hari ini kita dapat menikmati peranan Matahari sebagai penjaga kiblat yang berkesinambungan. Hal ini takkan terjadi jika kiblat masih ada di Baitul Maqdis. Sebab, dengan lokasinya di garis lintang 31,78 LU,  tempat ini takkan pernah mengalami situasi hari tanpa bayangan sepanjang masa.

* Muh Ma'rufin Sudibyo, Koordinator Riset Jejaring Rukyatul Hilal Indonesia & Ketua Tim Ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah Kebumen

Editor : Farid Assifa

Ada 14 Komentar untuk artikel ini