Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Universitas Bengkulu Lepas Varietas Jagung Tahan Banting

Written By Unknown on Rabu, 04 September 2013 | 10.47


BENGKULU, KOMPAS.com — Universitas Bengkulu melepas varietas jagung hibrida yang dinamai SP1, SP2, dan Supra 1 ke publik setelah mendapatkan surat keputusan (SK) dari Menteri Pertanian pada bulan Juli 2013.

Varietas hibrida ini merupakan hasil dari riset yang dilakukan selama tujuh tahun oleh Suprapto, PhD, dosen pertanian pengasuh mata kuliah genetika dan pemuliaan Universitas Bengkulu.

Ditemui Kompas.com, Selasa (3/9/2013), Suprapto mengklaim bahwa keunggulan dari varietas jagung SP1, SP2, dan Supra 1 adalah mampu menghasilkan rata-rata 9 ton per hektar. Jumlah ini jauh di atas hasil rata-rata produktivitas nasional jagung, yakni hanya 4,6 ton per tahun dan 3,2 ton per hektar untuk Provinsi Bengkulu.

Selain itu, keunggulan varietas ini adalah sangat tahan terhadap penyakit bulai, karat daun, hawar daun, dan beradaptasi baik di lingkungan asam.

Sejauh ini, setelah mendapatkan SK dari Menteri Pertanian, varietas ini mulai banyak dilirik perusahaan benih nasional.

Selama ini, menurut Suprapto, kebutuhan akan benih jagung di Indonesia mencapai 50.000 hingga 100.000 ton per tahun. Hampir 80 persen pasokan benih itu didapatkan dari impor atau perusahaan-perusahaan benih internasional.

"Dengan ditemukan dan dilepaskan varietas ini ke pasaran, saya berharap ketergantungan akan benih jagung nasional terhadap asing semakin berkurang dan dapat diisi oleh benih-benih lokal," kata Suprapto.

Ia menambahkan, ada tiga karakterisitik jagung yang harus terpenuhi agar hasil maksimal, yakni pada tanah subur, perawatan intensif, dan input pupuk yang tinggi. Namun, dengan SP1, SP 2, dan Supra 1 ketiga karakterisitk tersebut dapat ditekan, terutama pada penggunaan pupuk dan perawatan yang intensif.

"Benih ini tahan banting, tidak perlu pupuk secara berlebihan sehingga biaya perawatan dan modal petani dapat ditekan," tambahnya.

Riset yang dilakukan selama tujuh tahun ini didanai oleh Dikti dan Kementerian Riset dan Teknologi.

Varietas yang dihasilkan dilepas berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4543/kpts/SR.120/7/2013 untuk SP1, 4544/kpts/SR.120/7/2013 untuk SP2, dan 4545/kpts/SR.120/7/2013 untuk Supra 1.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Hiu \"Berjalan\" Indonesia Beri Petunjuk Evolusi Satwa Darat Dunia


KOMPAS.com — Beberapa waktu lalu, spesies hiu "berjalan" baru ditemukan di perairan Halmahera. Jenis baru itu dinamai Hemiscyllum halmahera.

Spesies hiu "berjalan" tersebut merupakan spesies keenam yang ditemukan di Indonesia. Total spesies hiu "berjalan" genus Hemiscyllum yang ada di dunia hanya sembilan.

Para ilmuwan mengatakan, spesies hiu "berjalan" bisa memberi petunjuk untuk menjelaskan evolusi hewan bertulang belakang yang hidup di darat.

Salah satu teori menyatakan bahwa hewan darat berkaki empat merupakan hasil evolusi hewan laut yang bermigrasi beradaptasi hidup di darat.

Riset ReefQuest Centre for Shark Research di Vancouver, Kanada, dikutip New Scientist, Jumat (30/8/2013), menyatakan, hiu "berjalan" merupakan model baik untuk menjelaskan pergerakan vertebrata berkaki empat darat purba.

Jenis hiu "berjalan" bergerak dengan menggunakan siripnya. Hiu ini menggeliat di permukaan karang kala mencari makan. Jenis ini hanya berenang bila ingin melarikan diri dari predator.

Gerakan dengan menggunakan sirip ini diduga dipakai oleh hewan-hewan laut purba yang mulai bermigrasi ke daratan pada masa lalu.

Adaptasi kemudian menyebabkan hewan-hewan tersebut mengembangkan kemampuan bergerak di daratan dan memiliki kaki.

Peneliti hiu dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Fahmi, yang dihubungi beberapa waktu lalu mengatakan bahwa hiu berjalan lebih modern dari hiu buas dan besar yang umumnya dikenal.

Hiu berjalan ini hidup di perairan laut dangkal. "Semakin ke darat maka semakin modern. Jadi, hiu berjalan ini lebih modern dari hiu umumnya," kata Fahmi.

Rainer Froese dari GEOMAR Helmholtz Centre for Ocean Research di Jerman mengatakan bahwa hiu "berjalan" sangat kontras dengan ikan coealcanth, ikan purba yang pernah ditemukan di Sulawesi.

"Coelacanth tidak menunjukkan perilaku berjalan. H halmahera jelas merupakan fosil hidup, tetapi merupakan salah satu hiu modern," kata Froese.

Spesies hiu berjalan H halmahera ditemukan oleh ilmuwan dari Conservation International. Informasi lebih detail tentang penemuan itu bisa dilihat dalam berita "Spesies Hiu 'Berjalan' Ditemukan di Halmahera".

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Ada Cacing Gelang di Sisa Jasad Raja Richard III

LONDON, KOMPAS.com - "Imanmu yang rusak akan akan menjadi mangsa untuk cacing," menjadi salah satu dialog yang dilontarkan seorang penuntut pada Richard III dalam drama klasik Shakespeare.

Pada hari ini tuduhan yang diungkapkan dengan penuh emosi itu dalam cara yang berbeda muncul kembali sebagai fakta yang mungkin tak terbayangkan oleh penulis drama itu.

Para ilmuwan menemukan raja berpostur bongkok tersebut ternyata memang punya parasit di ususnya, diduga terkait dengan buruknya standar kebersihan pada abad pertengahan.

Sisa-sisa jenazah Richard III yang memerintah Inggris pada 1483 sampai 1485, ditemukan di bawah lapangan parkir di Leicester, Inggris, pada tahun lalu.

Sejak ditemukan, para ilmuwan forensik telah menemukan rincian lebih mendalam soal kehidupan raja yang kontroversial ini.

Dengan m

emilah sedimen, para peneliti dari University of Cambridge mengatakan mereka telah menemukan "beberapa" telur mikroskopis parasit di daerah yang lebih rendah dari tulang belakang , di mana jeroan sang raja berada saat dia hidup."Hasil ini menunjukkan bahwa Richard telah terinfeksi cacing gelang dalam ususnya," ungkap mereka pada The Lancet, Rabu (4/9/2013). "Cacing gelang disebarkan melalui makanan yang terkontaminasi feses karena (makan menggunakan) tangan yang kotor atau penggunakan kotoran sebagai pupuk tanaman."Cacing gelang, Ascaris lumbricoides, adalah parasit yang menetas di dalam usus, kemudian dapat menyebar sampai ke paru-paru melalui peredaran darah setelah menembus dinding usus. Ketika seseorang dengan parasit cacing gelang batuk dan menelan ludahnya, parasit ini untuk kedua kalinya akan masuk kembali ke dalam lambung dan mengulang perputaran tersebut. Bila tumbuh berkembang, cacing ini dapat mencapai panjang 35 sentimeter.Pada kasus infeksi yang parah dari cacing ini dapat menyebabkan peritonitis, pembesaran hati, atau limpa, atau penyumbatan usus. Namun pada jasad Richard tak ditemukan infeksi jenis parasit cacing yang lazim ditemukan pada abad ke-15 seperti cacing cambuk, cacing hati, daging sapi dengan cacing pita, maupun cacing pita babi dan ikan.

"Temuan ini mungkin menunjukkan makanan saat itu dimasak menyeluruh, mencegah transmisi parasit tersebut," papar dia.

Richard III tewas pada pertempuran Bosworth pada 1485.

Dia tercatat dikuburkan di Leicester tanpa ada upacara pemakaman. Kematiannya mengakhiri "War of the Roses", sebuah perang saudara antara keluarga Lancaster dan York yang masing-masing kubu mengenakan simbol mawar merah dan mawar putih.

10.47 | 0 komentar | Read More

Kisah Tragis Para Kekasih Penguasa

Written By Unknown on Selasa, 03 September 2013 | 10.47


KOMPAS.com — Seorang raja kadang merasakan enaknya berkuasa. Namun, terkadang menjadi kekasih seorang raja menjadi malapetaka bagi perempuan, seperti dialami beberapa perempuan cantik yang menjalin cinta dengan seorang penguasa.

Bukanlah kebahagiaan yang didapat, justru nyawa hilang di ujung senapan hingga kematian menjemputnya. Nasib tragis teranyar (tetapi masih simpang siur) dialami oleh mantan kekasih pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, yaitu Hyon Song Wol, yang dieksekusi mati oleh regu tembak pada Selasa (20/8/2013).

Hyon Song Wol diketahui adalah seorang penyanyi populer dengan lagunya yang berjudul "Excellent Horse-Like Lady". Song Wol yang juga diketahui sebagai salah satu anggota kelompok Unhasu Orchestra dan Wangjaesan Light Music Band ditangkap dan dieksekusi oleh polisi negara karena tuduhan melanggar undang-undang pornografi.

Meski demikian, sulit mengetahui secara persis apakah pembunuhan itu benar-benar terjadi karena laporan media Korea Selatan, Chosun Ilbo, menampilkan narasumber anonim dan tidak ada media lain yang secara independen menguatkan. Chosun Ilbo menulis bahwa "Kim Jong Un telah kejam menghilangkan siapa saja yang dianggap sebagai hambatan bagi kekuasaannya".

Hubungan berbahaya

Kisah tragis asmara antara penguasa dan sang kekasih memang kerap kali terjadi. Nero, Kaisar Romawi (54-68 Masehi), dilaporkan pernah memerintahkan untuk membunuh ibunya, meracuni saudara tirinya, membuang istri pertamanya, dan membuat istri keduanya meninggal dunia.

Claudius, pendahulu Nero, pernah menikah sebanyak empat kali. Ia membunuh istri ketiganya, Valeria Messalina. Messalina ia sebut sebagai istri yang kejam, ganas, dan tidak pernah puas secara seksual. Namun, reputasi buruk mengenai Messalina telah ditentang oleh sejarawan modern, yang menyatakan tuduhan tersebut dibuat-dibuat untuk memuluskan jalan anak-anak Claudius dalam memegang tampuk kekaisaran.

Nasib naas menjadi kekasih penguasa tak hanya berlaku bagi perempuan, sebaliknya terjadi juga pada laki-laki. Cleopatra, Ratu Mesir, menikahi beberapa saudara laki-lakinya, termasuk Ptolemy XIV. Kemudian, Cleopatra meracuni Ptolemy XIV agar keponakannya dan saudara laki-lakinya, Ptolemy XV Caesarion, dapat naik takhta.

Paling fenomenal merupakan kisah asmara Raja Henry VIII, yang memiliki enam istri. Kisah cinta Henry VIII dari keenam istri tersebut layaknya alur cerita sinetron, mulai dari istri pertama hingga keenam: bercerai, dipenggal, meninggal, bercerai, dipenggal, selamat. Anne Boleyn dan Catherine Howard, yang merupakan istri kedua dan kelima dari Raja Henry VIII, mengakhiri hidup mereka di ujung sebilah pisau guillotine karena dituduh melakukan perselingkuhan. (Melody Kramer/National Geographic Indonesia)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Dikaji, Aplikasi Teknologi Antariksa untuk Mitigasi Perubahan Iklim


JAKARTA, KOMPAS.com — Potensi aplikasi teknologi keantariksaan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim didiskusikan dalam konferensi internasional "Integrated Space Technology Application to Climate Change" yang diadakan di Jakarta, Senin (2/9/2013).

Seminar diselenggarakan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bersama United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA). Konferensi akan berlangsung hingga 4 September 2013 mendatang.

Juan Carlos Villagran dari UNOOSA mengatakan bahwa perubahan iklim telah memengaruhi berbagai segi kehidupan. Ia mengatakan, teknologi antariksa memiliki peluang untuk membantu mitigasi dan adaptasi dari perubahan iklim.

"Dengan teknologi antariksa, kita bisa mengetahui wilayah mana yang paling rawan terdampak perubahan iklim. Misalnya, dengan kenaikan air laut, mana yang akan paling terpengaruh," ungkap Villigran dalam konferensi pers.

"Dalam konferensi ini, kita akan mencoba mengidentifikasi apa saja yang mungkin dibantu dengan teknologi antariksa. Kita akan coba jajaki juga kemungkinan pilot project yang bisa dibuat nantinya," imbuh Villagran.

Kepala Lapan, bambang S Tejasukmana, mengungkapkan bahwa teknologi antariksa, seperti penggunaan satelit, sebenarnya telah dipakai untuk memantau beberapa parameter terkait perubahan iklim, misalnya kekeringan, kandungan gas rumah kaca di atmosfer, serta curah hujan.

"Kita memantau kekeringan dan curah hujan. Ini sangat berpengaruh juga dalam pertanian sehingga dari data yang dihasilkan kita bisa bicara tentang ketahanan pangan," kata Bambang. Hal lain seperti kenaikan muka air laut, suhu air laut, juga bisa dipantau.

Salah satu hal yang bisa dieksplorasi adalah pemantaan teknologi antariksa untuk mengukur stok karbon. Dipadukan dengan pengukuran kedalaman gambut, misalnya, teknologi antariksa mampu menganalisis luas lahan gambut dengan akurat dan memperkirakan stok karbon di wilayah itu.

Ke depan, yang bisa dijajaki adalah kerja sama pemakaian teknologi antariksa antarnegara. Indonesia sendiri akan terus meningkatkan kapasitas dalam teknologi antariksa. Tahun 2019, direncanakan Indonesia punya satelit nasional yang pengembangannya memakan dana Rp 2 triliun.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Aneh, Katak Ini Mendengar dengan Mulutnya


KOMPAS.com — Satu keanehan lagi dari dunia amfibi terkuak. Spesies katak Sechellophryne gardineri atau katak Gardiner, salah satu katak terkecil di dunia, ternyata mendengar dengan mulutnya!

Bagaimana bisa?

Katak tersebut telah diketahui tak memiliki telinga bagian tengah yang artinya tak memiliki gendang telinga.

Karenanya, spesies katak yang banyak tersebar di wilayah Syechelles itu diduga tak memiliki cara untuk mengamplifikasi suara dan mengirimkannya ke telinga bagian dalam dan otak. Katak itu diduga tuli.

Namun, penelitian terbaru membantah dugaan tersebut.

Ilmuwan melakukan eksperimen dengan memutar suara katak spesies tersebut untuk melihat responsnya. Ternyata, ketika suara diputar, katak merespons. Artinya, kata tidak tuli.

"Jika Anda memutar, dia merespons. Mereka mengubah posisi, memalingkan wajah ke sumber suara, atau sering pula membalasnya dengan suara panggilannya," kata Justin Gerlach dari Nature Protection Trust di Syechelles, salah satu peneliti yang terlibat.

"Sangat lucu sebenarnya, katak itu bahkan kadang menyerang speaker sumber suara," kata Renaud Boistel dari French National Center for Scientific Research, pemimpin tim peneliti.

Ilmuwan kemudian melakukan pengamatan anatomi dengan bantuan sinar X di fasilitas penelitian European Synchrotron Research Facility (ESRF) di Grenoble, Perancis.

Dari pengamatan tersebut, ilmuwan mengetahui bahwa katak ini memiliki celah mulut yang berfungsi untuk mengamplifikasi suara, seperti badan gitar.

Katak ini terungkap juga memiliki jaringan yang tipis antara mulut dan telinganya sehingga bunyi bisa dikirim ke labirin cairan di kepala serta sel saraf pendengar secara lebih efektif.

"Kombinasi celah telinga yang mampu meresonansi dan konduksi dengan tulang memampukan katak Gardiner ini untuk mendengar suara tanpa perlu punya telinga tengah," ungkap Boistel seperti dikutip BBC, Selasa (3/9/2013).

Katak Gardiner hanya bisa ditemukan di Seychellles, terisolasi di wilayah itu. Katak ini eksis sejak 65 juta tahun lalu. Kini, jenis katak ini terancam oleh spesies invasif, pembakaran, dan aktivitas manusia. Jika katak ini punah, dunia kehilangan salah satu makhluk hidup kecil berharga yang punya cerita dan adaptasi evolusi yang sangat menarik.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Ngarai Raksasa Ditemukan di Bawah Lapisan Es Greenland

Written By Unknown on Minggu, 01 September 2013 | 10.47


KOMPAS.com — Ngarai raksasa ditemukan di bawah lapisan es yang menyelimuti wilayah Greenland.

Ngarai raksasa itu ditemukan secara tak sengaja kala ilmuwan melakukan survei untuk memetakan dasar Greenland menggunakan radar.

Anggota tim British Antartic Survey, misi yang menemukan fitur geografis ini, mengungkapkan bahwa sangat mengagumkan bisa menemukan struktur yang semula tak pernah dilihat.

Ngarai itu panjang, mengular dari wilayah tengah Greenland ke pantai di utara wilayah tersebut. Sebelum es ada di wilayah itu, ngarai ini merupakan bagian dari sungai besar yang mengalir ke Laut Arktik.

Kini, wilayah ngarai itu ditutupi es. Es yang menutupinya begitu tebal, mencapai 3 kilometer. Dengan ketebalan lapisan es tersebut, diketahui bahwa wilayah tengah Greenland sebenarnya jeblok hingga 200 meter di bawah permukaan laut.

Para pakar mengungkapkan, ngarai berperan mengalirkan air yang meleleh ke laut di bagian utara Greenland.

Ngarai ini ditemukan saat para ilmuwan tengah melakukan penyelidikan guna menjawab pertanyaan penting: berapa banyak kontribusi es di Greenland pada kenaikan permukaan air laut bila meleleh?

Para peneliti menggunakan radar yang memancarkan gelombang radio untuk menemukan ngarai tersebut. Ketika menemukan, peneliti sangat terkejut.

"Dengan citra satelit yang sudah ada di smartphone, kita mengasumsikan bahwa seluruh bagian Bumi telah terpetakan, tapi ternyata ada banyak yang belum ditemukan. Kami terkesan dengan penemuan ini. Sungguh, penemuan dengan skala ini adalah sekali seumur hidup," kata David Vaughan dari British Antarctic Survey, seperti dikutip BBC, Kamis (29/8/2013).

"lapisan es Greenland dan Antartika menyembunyikan banyak hal. Sangat mengejutkan menemukan ngarai ini. Greenland bukan tempat yang sangat besar untuk ngarai macam ini. Ngarai yang bertahan dari masa grasial juga merupakan sesuatu yang berarti," tambah Vaughan.

Sebagian ngarai ini mungkin pernah tak tertutup es selama 10.000 tahun. Mungkin ada bakteri di ngarai itu. Belum pernah ada manusia yang melihat ngarai ini. Sementara itu, bila es di ngarai meleleh, konsekuensinya adalah kenaikan permukaan laut hingga 7 meter.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Apakah Sains Membuat Manusia Bermoral?


KOMPAS.com — Tuhan dan agama diyakini mampu memberi tuntutan. Ajaran agama mengajak orang untuk tidak menghakimi orang lain, peduli kepada orang lain, dan tidak membunuh dan mencuri, walau tidak selalu dilakukan oleh yang memercayainya.

Di sisi lain, sains memberi banyak pencerahan, misalnya tentang alam semesta, sebab penyakit, dan sebagainya. Pencerahan dalam sains membantu manusia bersikap. Contoh, tak perlu mendiskriminasi dan menjauhi penderita HIV/AIDS karena toh penyakit itu tak ditularkan dengan mudah tanpa kontak darah.

Sementara itu, Tuhan dan agama diakui berpengaruh terhadap moralitas, bagaimana dengan sains? Apakah memang benar bahwa selain mampu menguak banyak hal di alam dan membantu kehidupan manusia, sains juga membuat manusia lebih bermoral?

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal PLoS ONE, 6 Maret 2013 lalu, tim ilmuwan dari University of California Santa Barbara yang dipimpin oleh C Ma-Kellams menyatakan bahwa keyakinan pada sains juga memengaruhi moralitas.

Kesimpulan tersebut diambil setelah tim peneliti melakukan empat studi. Pada studi pertama, ilmuwan menyuguhkan sebuah skenario tentang pasangan, John dan Sally, yang berkencan dan terlibat seks non-konsensual, kepada sukarelawan yang terlibat studi.

Ilmuwan meminta sukarelawan untuk menilai perbuatan John. Kemudian, ilmuwan menanyakan seberapa percaya sukarelawan terhadap sains. Keyakinan sukarelawan terhadap sains dinilai dari skala angka 1 hingga 7.

Dalam studi kedua, ilmuwan meminta membaca skema dalam studi pertama dan memberi judgement lagi. Sementara dalam studi ketiga, ilmuwan menanyakan niat sukarelawan untuk mendonorkan darah, menyumbang, serta melakukan perbuatan sosial lainnya.

Terakhir, dalam studi keempat, ilmuwan menyuguhkan sebuah permainan ekonomi. Sukarelawan diberi uang 5 dollar AS dan diminta membagi antara dirinya dengan orang lain. Dalam akhir permainan, uang itu diberikan sebagai hadiah.

Untuk studi kedua hingga keempat, ilmuwan membagi sukarelawan dalam dua grup, kontrol dan sains. Sebelum menjadi sukarelawan dalam studi itu, ilmuwan "memengaruhi" pikiran masing-masing grup. Untuk grup sains, ilmuwan memperkenalkan beberapa kata terkait sains, seperti laboratorium, hipotesis, dan teori.

Dalam seluruh studi, terungkap bahwa jender tidak memberi pengaruh. Namun, derajat keyakinan terhadap sains berkorelasi secara positif dengan moralitas yang diukur berdasarkan parameter yang diujikan, seperti judgement dan niat berbuat sosial.

Terungkap bahwa bahkan hanya berpikir tentang sains saja mampu memengaruhi moralitas dan tindakan seseorang. Di sini, dibuktikan bahwa sains tidak hanya bisa memberi pengetahuan tetapi juga mampu memengaruhi sikap seseorang.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

5 Hewan dengan Kemampuan Regenerasi Mengagumkan


KOMPAS.com — Hewan dapat saja kehilangan anggota tubuhnya, tetapi beberapa spesies mampu meregenerasi bagian tubuh tersebut. Saking mudahnya hewan-hewan ini meregenerasi, tidak jarang spesies tersebut dijuluki ahli regenerasi, kemampuan inilah yang tak dapat ditandingi oleh manusia.

Axolotl (salamander meksiko)

Sekilas mungkin Anda pernah melihat hewan ini, tapi memang namanya belum terlalu populer. Axolotl merupakan hewan pekerja keras, ia mampu meregenerasi anggota tubuh yang hilang mulai dari ekor, otak, jantung, hingga rahang bawah. Kemampuan regnerasi axolotl menjadikannya subyek penelitian favorit bagi para ilmuwan.

James Monaghan, seorang ahli biologi di Boston Northeastern University, mengungkapkan, jika axolotl mengalami kelumpuhan di bagian belakang, mereka dapat mengembalikan fungsi kakinya.

"Mereka mampu menciptakan seluruh neuron baru dan penghubung baru yang memungkinkannya menggunakan kaki mereka kembali. Ini benar-benar salah satu contoh pemulihan yang sangat luar biasa," kata Monaghan.

Rusa

Seekor rusa dapat membuang kemudian menumbuhkan kembali tanduk mereka dengan besar dan teratur. "Tanduk yang dapat tumbuh kembali merupakan salah satu regenarasi yang paling ekstrem," jelas Monaghan. Rusa dapat menumbuhkan kembali tanduknya yang seberat 27 kilogram dalam kurun waktu tiga bulan saja.

Monaghan menjelaskan bahwa mamalia memilki kemampuan regenerasi yang lebih baik dari apa yang kita kira sebelumnya. Contoh lainnya terjadi pada kelinci yang dapat meregenerasi cuping teliganya, kelelawar yang dapat meregenerasi bagian sayap mereka, tikus berduri dengan cepat meregenerasi kulit dan memperbarui lubang di telinga mereka.

Sea squirt (Tunicate)

Sea squirt atau tunicate bereproduksi dengan dua cara, jenis soliter bereproduksi secara seksual dan jenis sea squirts kolonial bereproduksi dengan cara aseksual dengan membangun tunas satu sama lain.

Otto Guedelhoefer, seorang peneliti di University of California, Santa Barbara, menjelaskan bahwa anggota dari jenis koloni berbagi sistem peredaran darah dan mampu meregenerasi seluruh tubuh mereka. Tim penelitian internasional baru-baru ini mengurutkan genom dari tunicate dan menemukan bahwa 77 persen dari gen manusia hadir. Ini jelas memberikan harapan untuk mengembangkan obat-obatan regeneratif bagi masyarakat.

Bintang laut

Makhluk berkaki lima juga memiliki kemampuan untuk meregenerasi lengan mereka bahkan terkadang mampu meregenarasi seluruh tubuh mereka.

Hebatnya lagi, jika bintang laut tersebut hanya memiliki satu lengan sekalipun, selama masih memiliki cincin saraf pusat yang masih utuh, maka dapat tumbuh kembali menjadi bintang laut yang sama sekali baru.

Cacing pipih

Jika Anda memotong cacing menjadi dua bagian bukanlah kematian yang ia dapat, malahan justru ia berkembang menjadi dua ekor cacing." Itulah yang menarik," kata Monaghan. Tahun ini, peneliti dari Max Planck Institute of Molecular Cell Biology and Genetics di Jerman menemukan molekul pada cacing pipih yang memungkinkannya untuk mengembangkan kepala baru. (Liz Langley/National Geographic Indonesia)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Piala \"Ajaib\" Bukti Kemahiran Romawi Kuno dalam Nanoteknologi

Written By Unknown on Rabu, 28 Agustus 2013 | 10.47


KOMPAS.com — Siapa bilang nanoteknologi hanya milik manusia yang hidup pasca-era industri? Sebuah piala yang tersimpan di British Museum membuktikan bahwa Romawi Kuno juga sudah mengenal nanoteknologi.

Piala berbahan gelas tersebut bernama Lycurgus Cup, memiliki hiasan figur Raja Lycurgus dari Thrace, Romawi Kuno. Piala ini menyimpan teka-teki yang baru terpecahkan pada tahun 1990.

Teka-teki pada piala itu adalah kemampuannya berubah warna sesuai dengan arah sumber cahaya yang diterima. Bila cahaya diarahkan dari depan, piala berkilau hijau. Bila cahaya diarahkan dari belakang, piala berkilau merah.

Tahun 1990, terungkap bahwa perbedaan kilau cahaya berdasarkan arah sumber cahaya tersebut disebabkan oleh komponen perak dan emas penyusunnya.

Ilmuwan mengungkap, orang Romawi saat itu menghaluskan partikel emas dan perak hingga berukuran 50 nanometer, lebih kecil dari seperseribu ukuran butiran garam.

Penghalusan emas dan perak tersebut yang merupakan bentuk nanoteknologi dan merupakan kunci mengapa piala bisa berkilau berbeda saat arah sumber cahaya berbeda.

Saat cahaya datang, elektron emas dan peran bergetar. Getaran ini menciptakan warna yang kemudian ditangkap berbeda tergantung posisi pengamat.

Gang Lohgan Liu dari University of Illinois di Urbana-Campaign mengatakan, piala ini memberi inspirasi pada banyak hal, misalnya deteksi penyakit.

"Orang-orang Romawi tahu bagaimana menggunakan partikel nano untuk membuat karya seni yang bagus. Kami mencoba mencari aplikasinya," kata Liu seperti dikutip Smithsonian Magazine edisi September 2013.

Lewat eksperimen, Liu mengetahui bahwa susunan partikel emas dan perak akan bergetar dan mampu memengaruhi perubahan warna bila berinteraksi dengan beragam cairan.

Karena piala tak bisa langsung dipakai untuk percobaan, Liu membuat prototipe alat yang punya susunan sama dengan piala itu. Ia membuatnya dengan piringan plastik yang disemprot dengan partikel nano emas dan perak.

Saat air dan minyak dituang pada alat tersebut, warnanya berubah dan dengan mudah dikenal. Bila air dituang, warnanya akan menjadi hijau. Sementara itu, bila minyak dituang, warnanya menjadi merah.

Prototipe ini 100 kali lebih sensitif untuk mendeteksi kandungan garam pada suatu larutan dibanding sensor yang dipakai saat ini dipakai untuk tujuan sama.

Liu terus mengeksplorasi penggunaan alat ini. Ia membayangkan, di masa depan, deteksi patogen pada ludah dan urine atau deteksi cairan berbahaya bisa dilakukan dengan nanoteknologi.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger