Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Alat Ini Bisa Bikin Manusia \"Hilang\" dari Radar Nyamuk

Written By Unknown on Senin, 05 Agustus 2013 | 10.47


KOMPAS.com — Nyamuk memiliki cara unik untuk mendeteksi kehadiran "calon mangsanya". Mereka memiliki radar yang mampu mencium aroma karbon dioksida (CO2) yang dikeluarkan melalui napas, kulit, serta keringat. Bahkan, nyamuk bisa mencium aroma ini dari jarak ratusan meter.

Terdapat banyak cara yang digunakan manusia untuk mengusir nyamuk, mulai dari penggunaan kelambu hingga obat nyamuk. Namun, cara-cara tersebut sering kali dinilai kurang efektif dan berpotensi meracuni tubuh.

Para peneliti kini tengah mengembangkan sebuah alat yang lebih efektif dan aman untuk mengusir nyamuk. Alat ini bernama Kite Patch, sebuah benda berbentuk persegi kecil yang dapat ditempelkan ke baju.

Kite Patch bekerja dengan cara yang unik. Benda ini mampu menyamarkan "bau" CO2 yang dikeluarkan oleh tubuh manusia.

Kite Patch dikembangkan oleh Grey Frandsen, Michelle Brown, dan Torrey Tayanaka dari Olfactor Laboratories. Mereka terinspirasi menciptakan alat ini setelah membaca hasil penelitian Anandasankar Ray dan rekannya dari University of California Riverside yang dipublikasikan di Nature pada Juni 2011. Penelitian ini mengungkapkan tiga bahan kimia yang bisa mengganggu "radar penerima CO2" nyamuk.

Ketiga bahan kimia ini bekerja dengan cara yang berbeda untuk mengusir nyamuk. Bahan kimia pertama meniru karbon dioksida dan mampu digunakan untuk menjauhkan nyamuk dari manusia dan perangkap serangga.

Bahan kimia kedua menjadikan nyamuk tidak dapat mendeteksi CO2 sama sekali. Dan yang ketiga justru mengubah kemampuan radar nyamuk yang sensitif terhadap CO2 sehingga membuat nyamuk tersebut merasa bingung.

Frandsen dan timnya kini tengah menggalang dana melalui situs web "indiegogo" untuk melakukan uji lapangan di Uganda. Jika pengujian ini berhasil, mereka akan mulai memproduksi Kite Patch secara massal dan mendistribusikan secara global dimulai dari AS.

Di dunia epidemiologi, Kite Patch dikenal sebagai pembasmi spasial. Dalam tinjauan yang dimuat dalam Malaria Journal, peneliti mencatat bahwa pembasmi spasial dapat diharapkan untuk membasmi penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hewan perantara seperti nyamuk. Sayangnya pembasmi spasial belum dimasukkan ke dalam program pengendalian penyakit multi-lateral karena kurangnya data epidemiologi yang mendukung keberhasilannya.

Pengujian sangat penting untuk dapat diintegrasikan dengan pemantauan secara terus-menerus. Pemantauan ini mencakup seberapa besar pengaruh Kite Patch terhadap jumlah nyamuk yang terdapat baik di dalam maupun di luar ruangan serta seberapa banyak dari nyamuk tersebut yang tetap menggigit manusia. Jumlah ini tentunya akan berpengaruh pula pada jumlah patogen yang mungkin akan masuk ke dalam tubuh manusia melalui perantara nyamuk. (Dyah Arum Narwastu)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

\"Crop Circle\" di Dasar Laut, Buatan Siapa?


KOMPAS.com — Tahun 1995, struktur geometris mirip crop circle ditemukan di dasar laut wilayah Pulau Amami-Oshima, Jepang. Struktur tampak rapi, terdiri atas lembah dan puncak, tetapi belum diketahui asal usulnya. Apakah struktur itu buatan atau alami? Mungkinkah buatan alien seperti kebanyakan crop circle sering diidentikkan?

Penelitian pada tahun 2011 akhirnya mengungkap bahwa struktur tersebut alami, dibuat oleh pejantan ikan buntal (Torquigener sp). Terungkap pula bahwa struktur tersebut berperan penting dalam proses perkawinan ikan jenis ini. Pejantan ikan buntal akan berupaya sebaik mungkin untuk membuat "crop circle" terbaik agar betina tertarik kepadanya.

Dalam publikasi di jurnal Scientific Report, 1 Juli 2013, ilmuwan Jepang yang terdiri dari Hiroshi Kawase, Yoji Okata, dan Kimiaki Ito menjelaskan bahwa bukan saja "crop circle" buatan ikan buntal itu yang unik. Proses pembuatannya pun mengejutkan, membuktikan bahwa ikan buntal cukup cerdas dalam membuat struktur rumit ini.

Kawase dan rekannya menguraikan, pada tahap awal, ikan buntal akan membuat bentuk lingkaran dasar terlebih dahulu. Untuk membuatnya, ikan buntal menggunakan sirip dada, sirip anal, dan sirip ekor. Setelah lingkaran dasar terbentuk, ikan buntal jantan baru mulai mendekorasi struktur geometri pemikat betina itu.

Pembuatan dekorasi juga terbilang cukup rumit. Dari lingkaran bagian luar, ikan buntal akan bergerak ke dalam, membentuk struktur radial dengan puncak dan lembah yang terhubung dengan lingkaran dasar yang telah dibuat. Ikan buntal akan membuat struktur ini satu per satu hingga keseluruhan sudut lingkaran dasar terpenuhi.

Pada tahap menengah, ikan buntal akan mengulangi gerakan ini sehingga struktur radial makin jelas. Kemudian, ikan buntal akan berenang memutar di bagian tengah lingkaran sehingga seluruh pasir teraduk. Kemudian, ikan buntal akan mengibaskan sirip ekornya di bagian tengah lingkaran hingga terbentuk pola yang tak beraturan di bagian tersebut.

Butuh energi besar dan waktu lama bagi ikan buntal untuk membuat struktur ini. Setidaknya, ikan buntal membutuhkan 7-9 hari untuk membuatnya. Uniknya, pejantan takkan menggunakan struktur yang sama di lokasi yang sama untuk memikat betina. Bisa dibilang, ikan buntal memakai satu "ranjang" untuk satu perkawinan saja.

"Crop circle" ini tak hanya indah tetapi juga fungsional. Betina akan datang ke struktur ini. Lalu, pejantan akan mengejar dan pada akhirnya proses perkaiwnan terjadi, betina meletakkan telur di bagian tengah struktur geometris ini. Pejantan akan bertahan di struktur ini selama paling tidak 6 hari. Betina akan tinggal satu menit lalu pergi dan beberapa kali akan menjenguk. "Crop circle", pembuatan dan proses penggunaannya begitu mengagumkan.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Gerhana Planet Alien Mirip Bumi Berhasil Diobservasi


KOMPAS.com — Peristiwa gerhana planet alien atau transit planet ekstrasolar di muka bintang induknya berhasil diabadikan dengan sinar X. Ini adalah yang pertama kali dilakukan sejak astronom menemukan planet ekstrasolar pertama lebih dari 20 tahun yang lalu.

Posisi planet dan bintang induknya, HD 189733, ini menguntungkan astronom karena memungkinkan Chandra X-ray Observatory milik NASA dan XMM Newton Observatory milik European Space Agency untuk melakukan observasi lebih mendalam terhadap kedipan cahaya bintang berbasis sinar X.

"Ribuan kandidat planet yang singgah biasanya hanya mampu dideteksi berdasar sinar optik," kata Katja Poppenhaeger dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CfA) in Cambridge, Mass, yang sekaligus memimpin studi ini.

"Kemampuan untuk mendeteksi dengan sinar X ini penting karena mengungkap informasi baru tentang planet ekstrasolar," ujar Poppenhaeger dalam keterangan pers di situs web NASA, Senin (29/7/2013) lalu.

Studi yang telah dipublikasikan pada bulan Agustus dalam edisi kesepuluh The Astrophysical Journal ini menggunakan Chandra untuk mengobservasi enam data transit serta menggunakan XMM Newton untuk mengobservasi satu data transit.

HD 189733b ternasuk Jupiter panas, ukurannya sebanding dengan Jupiter, tetapi berjarak lebih dekat dengan bintangnya. Jarak HD 189733b dengan bintang induknya 30 kali lebih dekat dari jarak Bumi ke Matahari. HD 189733b cuma butuh waktu 2,2 hari untuk mengelilingi bintangnya.

HD 189733b merupakan Jupiter panas terdekat dari bumi. Maka planet ini kerap menjadi target riset. Astronom telah melakukan pengamatan berbasis cahaya tampak dengan wahana Kepler. Penelitian dengan teleskop Hubble juga telah mengungkap warna biru planet ini.

Studi menggunakan Chandra dan XMM Newton kali ini mengungkap rahasia atmosfer planet ini. Wahana antariksa melihat cahaya sinar X meredup selama masa transit. Penurunan intensitas cahaya ini tiga kali lebih banyak dari cahaya optik.

"Data menunjukkan adanya lapisan tambahan atmosfer planet yang tembus pandang pada observasi cahaya tampak namun buram pada sinar X. Bagaimanapun, kita masih memerlukan data untuk mengonfirmasinya," ujar Jurgen Schmitt, penulis pendamping dari Hamburger Sternwarte di Hamburg, Jerman.

Astronom juga berhasil mengungkap interkasi antarplanet dan bintangnya. Sejak satu dekade lalu, para astronom telah mengetahui bahwa ultraviolet dan radiasi sinar X bintang HD 189733 menguapkan atmosfer HD 189733b.

Dalam penelitian ini, astronom mengungkap bahwa ada 100 juta hingga 600 juta kilogram massa atmosfer yang diuapkan tiap detiknya. Atmosfer HD 189733b tampaknya akan semakin kurus 25-65 persen lebih cepat daripada yang terjadi saat ini jika ukuran atmosfernya semakin mengecil.

Dengan observasi Chandra X-Ray, astronom mengetahui bahwa HD 189733 juga punya bintang pasangan. Namun, HD 189733 tampaknya berusia 3-3,5 miliar tahun lebih muda dari pasangannya sehingga membuatnya menghasilkan sinar X 30 kali lebih besar. (Dyah Arum Narwastu)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Yuk Berkemah di Bawah Bintang, Menata Ulang Jam Biologis

Written By Unknown on Minggu, 04 Agustus 2013 | 10.47

KOMPAS.COM — Para peneliti mengatakan bahwa berkemah selama seminggu dapat menata ulang jam biologis yang mengatur pola tidur kita. Para ilmuwan berpendapat bahwa kehidupan modern mengganggu tidur kita melalui paparan sinar listrik dan berkurangnya akses terhadap sinar matahari.

Namun setelah menghabiskan waktu di luar ruang, para peneliti mengatakan bahwa jam tubuh dari delapan relawan yang diuji telah berhasil sinkron dengan matahari terbit dan terbenam.

Penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Current Biology. Disebutkan bahwa semua bentuk kehidupan di bumi yang ritme biologisnya berevolusi telah mengantisipasi matahari terbit dan terbenam.

Para peneliti telah menemukan bahwa ketersediaan penerangan listrik sejak tahun 1930-an dan seterusnya telah memengaruhi jam sirkadian internal kita, memungkinkan kita jauh lebih lambat dalam proses evolusi.

Ritme sirkadian adalah siklus 24 jam dalam proses fisiologis makhluk hidup. Ritme ini penting untuk menentukan pola tidur dan pola makan.

Para ilmuwan dalam penelitian ini pertama-tama menganalisis sekelompok orang relawan di kehidupan normal mereka. Intensitas mereka terpapar cahaya alami dan buatan diukur oleh peneliti.

Dengan melihat kadar hormon, melatonin, mereka menyimpulkan bahwa pencahayaan lingkungan modern menyebabkan sekitar dua jam penundaan waktu sirkadian.

Melatonin naik tepat sebelum kita pergi tidur dan berkurang sepanjang malam sampai kita bangun. Para peserta penelitian cenderung untuk tetap tinggal sampai tengah malam dan bangun sekitar pukul delapan pagi.

Tingkat melatonin mereka masih tetap tinggi selama beberapa jam setelah mereka bangun, menunjukkan mereka tidak selaras dengan irama alami.

Riset di dalam tenda

Para ilmuwan kemudian membawa relawan berkemah selama seminggu di Colorado. Senter dan perangkat elektronik dilarang, satu-satunya sumber cahaya malam adalah api unggun.

Hasilnya adalah bahwa pola tidur dan bangun dari delapan relawan, selaras atau sinkron dengan dengan terbit dan terbenamnya matahari. "Waktu mereka semua bergeser lebih awal," kata Profesor Kenneth Wright dari University of Colorado di Boulder.

Apa yang mengejutkan tim ilmiah adalah peningkatan jumlah sinar matahari relawan dialami melalui pengalaman berkemah mereka, sekitar 400 persen lebih banyak dibanding waktu mereka sebelumnya.

"Kami berpikir bahwa pola penerangan listrik modern dan pengurangan paparan sinar matahari berkontribusi untuk memperlambat jadwal tidur dan kesulitan bangun di pagi hari," kata Profesor Wright.

"Setelah paparan siklus cahaya gelap alami, tingkat melatonin tetap rendah sebelum para relawan bangun, menunjukkan otak kita mulai terjaga setelah kita terkena isyarat alam."

Sementara pola tidur para relawan bergeser kembali sekitar dua jam, jumlah total waktu yang mereka habiskan untuk tidur tetap sama.

Penelitian lanjutan

Studi kecil masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab: akankah efek yang sama ditemukan pada orang yang biasanya tinggal dengan eksposure lebih atau kurang cahaya misalnya? Profesor Wright mengakui bahwa ada banyak pekerjaan yang masih harus diselesaikan.

"Kami akan senang melihat hasil penelitian ini ditindaklanjuti di berbagai belahan dunia. Kami sedang mempelajari orang sehat. Kami ingin melihat orang-orang yang memiliki masalah tidur yang nyata. Ini hanya langkah pertama," katanya.

Sementara itu, tidak mungkin setiap orang pergi berkemah sepanjang waktu. Para ilmuwan mengatakan bahwa beberapa perubahan kecil yang sederhana pada cara kita menjalani hidup bisa membantu kita mencapai beberapa manfaat, seperti tidur di bawah bintang-bintang.

"Mulailah hari Anda dengan berjalan-jalan di luar," katanya.

"Pada malam hari mengurangi lampu di rumah, matikan komputer dan perangkat elektronik. Kita sensitif terhadap tingkat cahaya redup, bahkan cahaya dari ponsel di malam hari adalah isyarat yang mendorong jam tubuh kita terlambat."

Editor : Fikria Hidayat


10.47 | 0 komentar | Read More

Fakta Mengejutkan tentang Tipe Perempuan Pujaan Hitler


KOMPAS.com — Pada 2 Agustus 1934, Adolf Hilter resmi menjadi diktator absolut dari Jerman dengan titel fuhrer atau pemimpin. Sayangnya, pemimpin Nazi Jerman ini tidak menyukai perempuan yang cerdas dan bisa memimpin bangsa.

Di matanya, perempuan ideal adalah mereka yang "mungil, manis, menyenangkan untuk disayang, sedikit lugu, lembut, dan tolol". Sikap merendahkan inilah yang kemudian dijalankan Nazi terhadap kaum perempuan Jerman.

Gerakan kaum perempuan di bawah rezim Nazi dipimpin oleh Gertrud Schlotz-Klink, seorang wanita bertipe "Arya". Berperawakan tinggi dan berambut pirang. Motonya yang ternama adalah "wanita Jerman kembali menyulam".

Di balik berbagai organisasi dan aktivitas perempuan, kaum lelakilah yang sebenarnya mengarahkan dan mengontrol. Sementara Schlotz-Klink lebih berperan sebagai bantalan. Kaum Nazi menilai pentingnya wanita terutama dalam peran reproduksinya guna penyediaan dan regenerasi kaum Nazi serta prajurit bagi Reich Ketiga.

Meskipun pandangan itu tidak dinyatakan secara terbuka, tampak dari usaha kaum Nazi membangun citra perempuan ideal, yaitu yang tradisional dan hidup dalam lingkungan keluarga. Bahkan, karena khawatir kekurangan sumber daya manusia, rezim Nazi mendorong kaum wanita melahirkan lebih banyak anak.

Kontrasepsi dan aborsi ditutup pintunya bagi wanita Jerman. Sebaliknya, mereka yang punya banyak anak akan memperoleh tunjangan dan subsidi.

Magda Goebbels, istri Menteri Propaganda Joseph Goebbels, dijadikan model wanita ideal. Dia tinggi, cantik, pirang, punya enam anak (yang kesemuanya ia bunuh dengan racun di bungker Hitler menjelang runtuhnya Reich Ketiga).

Selain itu, kaum perempuan dibatasi aksesnya untuk memasuki profesi yang secara tradisi banyak dikuasai kaum pria. Mereka juga dilarang menjadi juri, "Karena perempuan tidak dapat berpikir logis dan obyektif, hanya dikuasai dan dituntun emosi saja."

Akan tetapi, pada akhirnya peran perempuan ditinggikan tatkala perang sudah di ambang pintu. Perempuan didorong masuk ke pabrik dan akhirnya bertentangan dengan prinsip awal mereka. Akibatnya, usaha pengerahan itu gagal apabila dibandingkan dengan negara-negara Sekutu yang berhasil memobilisasi tenaga kerja perempuan dalam industri perangnya. (Zika Zakiya/National Geographic Indonesia)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Tembikar Kuno Buktikan Kebenaran Kisah dalam Perjanjian Lama


KOMPAS.com — Sebuah pecahan kecil dari tembikar kuno yang ditemukan di Israel modern diyakini dapat mengungkap kehidupan masyarakat pada masa pewahyuan Alkitab. Temuan ini sekaligus menjadi bukti bahwa pemerintahan era raja Daud dan Salomo benar-benar ada.

Prasasti Ophel, yang diyakini berasal dari abad 10 SM, ditemukan pada bulan Desember 2012. Penemuan ini sempat membingungkan para ahli karena adanya tulisan dengan bahasa yang aneh.

Awalnya para ahli menyangka prasasti itu berisi tulisan dari bahasa Kanaan, kota tempat orang-orang yang dideskripsikan dalam Alkitab hidup yang kini telah menjelma menjadi Israel modern.

Namun, Dr Douglas Petrovich, seorang ahli sejarah Near Eastern dan studi Alkitab, meyakini bahwa tulisan tersebut merupakan bentuk asli dan tertua dari bahasa Ibrani.

Temuan ini menunjukkan jika masyarakat Israel kuno telah berada di Yerusalem jauh lebih awal daripada yang diduga sebelumnya.

"Penutur Ibrani berkuasa atas Yerusalem pada abad 10 SM. Masa ini bertepatan dengan masa pemerintahan Daud dan Salomo seperti yang tertulis dalam Alkitab. Siapa pun mereka, yang pasti mereka telah menuliskan bahasa Ibrani seperti mereka hidup di wilayahnya sendiri," ujar Dr Petrovich seperti yang dikutip oleh Daily Mail, Kamis (1/8/2013).

Jika dugaan Dr Petrovich benar, temuan ini dapat menjadi bukti atas kebenaran Perjanjian Lama dalam Alkitab. Artinya, kisah-kisah dalam Perjanjian Lama merupakan sebuah bentuk catatan sejarah dari kejadian-kejadian nyata dalam kehidupan umat manusia. Temuan ini sekaligus menjatuhkan dugaan bahwa masyarakat kuno Israel baru menuliskan kisah kehidupan mereka beberapa ratus tahun lebih akhir dari usia prasasti.

Penyataan Dr Petrovich menimbulkan kontroversi di kalangan komunitas arkeolog. Israel Finkelstein, seorang arkeolog dari Tel Aviv University, menyatakan jika prasasti Ophel penting untuk mengetahui sejarah awal Israel. Namun, "gagasan romantis" dari Alkitab seharusnya tidak mengaburkan metode ilmiah.

Pada tahun 2008, para arkeolog menemukan sebuah prasasti yang mirip dengan prasasti Ophel di sebuah situs yang kini diyakini sebagai istana Raja Daud. Temuan ini membangkitkan keyakinan bahwa apa yang tertulis di Alkitab ternyata akurat seperti berbagai hal yang tertulis dalam koran. (Dyah Arum Narwastu)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Yuk Berkemah di Bawah Bintang, Menata Ulang Jam Biologis

Written By Unknown on Sabtu, 03 Agustus 2013 | 10.47

KOMPAS.COM — Para peneliti mengatakan bahwa berkemah selama seminggu dapat menata ulang jam biologis yang mengatur pola tidur kita. Para ilmuwan berpendapat bahwa kehidupan modern mengganggu tidur kita melalui paparan sinar listrik dan berkurangnya akses terhadap sinar matahari.

Namun setelah menghabiskan waktu di luar ruang, para peneliti mengatakan bahwa jam tubuh dari delapan relawan yang diuji telah berhasil sinkron dengan matahari terbit dan terbenam.

Penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Current Biology. Disebutkan bahwa semua bentuk kehidupan di bumi yang ritme biologisnya berevolusi telah mengantisipasi matahari terbit dan terbenam.

Para peneliti telah menemukan bahwa ketersediaan penerangan listrik sejak tahun 1930-an dan seterusnya telah memengaruhi jam sirkadian internal kita, memungkinkan kita jauh lebih lambat dalam proses evolusi.

Ritme sirkadian adalah siklus 24 jam dalam proses fisiologis makhluk hidup. Ritme ini penting untuk menentukan pola tidur dan pola makan.

Para ilmuwan dalam penelitian ini pertama-tama menganalisis sekelompok orang relawan di kehidupan normal mereka. Intensitas mereka terpapar cahaya alami dan buatan diukur oleh peneliti.

Dengan melihat kadar hormon, melatonin, mereka menyimpulkan bahwa pencahayaan lingkungan modern menyebabkan sekitar dua jam penundaan waktu sirkadian.

Melatonin naik tepat sebelum kita pergi tidur dan berkurang sepanjang malam sampai kita bangun. Para peserta penelitian cenderung untuk tetap tinggal sampai tengah malam dan bangun sekitar pukul delapan pagi.

Tingkat melatonin mereka masih tetap tinggi selama beberapa jam setelah mereka bangun, menunjukkan mereka tidak selaras dengan irama alami.

Riset di dalam tenda

Para ilmuwan kemudian membawa relawan berkemah selama seminggu di Colorado. Senter dan perangkat elektronik dilarang, satu-satunya sumber cahaya malam adalah api unggun.

Hasilnya adalah bahwa pola tidur dan bangun dari delapan relawan, selaras atau sinkron dengan dengan terbit dan terbenamnya matahari. "Waktu mereka semua bergeser lebih awal," kata Profesor Kenneth Wright dari University of Colorado di Boulder.

Apa yang mengejutkan tim ilmiah adalah peningkatan jumlah sinar matahari relawan dialami melalui pengalaman berkemah mereka, sekitar 400 persen lebih banyak dibanding waktu mereka sebelumnya.

"Kami berpikir bahwa pola penerangan listrik modern dan pengurangan paparan sinar matahari berkontribusi untuk memperlambat jadwal tidur dan kesulitan bangun di pagi hari," kata Profesor Wright.

"Setelah paparan siklus cahaya gelap alami, tingkat melatonin tetap rendah sebelum para relawan bangun, menunjukkan otak kita mulai terjaga setelah kita terkena isyarat alam."

Sementara pola tidur para relawan bergeser kembali sekitar dua jam, jumlah total waktu yang mereka habiskan untuk tidur tetap sama.

Penelitian lanjutan

Studi kecil masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab: akankah efek yang sama ditemukan pada orang yang biasanya tinggal dengan eksposure lebih atau kurang cahaya misalnya? Profesor Wright mengakui bahwa ada banyak pekerjaan yang masih harus diselesaikan.

"Kami akan senang melihat hasil penelitian ini ditindaklanjuti di berbagai belahan dunia. Kami sedang mempelajari orang sehat. Kami ingin melihat orang-orang yang memiliki masalah tidur yang nyata. Ini hanya langkah pertama," katanya.

Sementara itu, tidak mungkin setiap orang pergi berkemah sepanjang waktu. Para ilmuwan mengatakan bahwa beberapa perubahan kecil yang sederhana pada cara kita menjalani hidup bisa membantu kita mencapai beberapa manfaat, seperti tidur di bawah bintang-bintang.

"Mulailah hari Anda dengan berjalan-jalan di luar," katanya.

"Pada malam hari mengurangi lampu di rumah, matikan komputer dan perangkat elektronik. Kita sensitif terhadap tingkat cahaya redup, bahkan cahaya dari ponsel di malam hari adalah isyarat yang mendorong jam tubuh kita terlambat."

Editor : Fikria Hidayat


10.47 | 0 komentar | Read More

Fakta Mengejutkan tentang Tipe Perempuan Pujaan Hitler


KOMPAS.com — Pada 2 Agustus 1934, Adolf Hilter resmi menjadi diktator absolut dari Jerman dengan titel fuhrer atau pemimpin. Sayangnya, pemimpin Nazi Jerman ini tidak menyukai perempuan yang cerdas dan bisa memimpin bangsa.

Di matanya, perempuan ideal adalah mereka yang "mungil, manis, menyenangkan untuk disayang, sedikit lugu, lembut, dan tolol". Sikap merendahkan inilah yang kemudian dijalankan Nazi terhadap kaum perempuan Jerman.

Gerakan kaum perempuan di bawah rezim Nazi dipimpin oleh Gertrud Schlotz-Klink, seorang wanita bertipe "Arya". Berperawakan tinggi dan berambut pirang. Motonya yang ternama adalah "wanita Jerman kembali menyulam".

Di balik berbagai organisasi dan aktivitas perempuan, kaum lelakilah yang sebenarnya mengarahkan dan mengontrol. Sementara Schlotz-Klink lebih berperan sebagai bantalan. Kaum Nazi menilai pentingnya wanita terutama dalam peran reproduksinya guna penyediaan dan regenerasi kaum Nazi serta prajurit bagi Reich Ketiga.

Meskipun pandangan itu tidak dinyatakan secara terbuka, tampak dari usaha kaum Nazi membangun citra perempuan ideal, yaitu yang tradisional dan hidup dalam lingkungan keluarga. Bahkan, karena khawatir kekurangan sumber daya manusia, rezim Nazi mendorong kaum wanita melahirkan lebih banyak anak.

Kontrasepsi dan aborsi ditutup pintunya bagi wanita Jerman. Sebaliknya, mereka yang punya banyak anak akan memperoleh tunjangan dan subsidi.

Magda Goebbels, istri Menteri Propaganda Joseph Goebbels, dijadikan model wanita ideal. Dia tinggi, cantik, pirang, punya enam anak (yang kesemuanya ia bunuh dengan racun di bungker Hitler menjelang runtuhnya Reich Ketiga).

Selain itu, kaum perempuan dibatasi aksesnya untuk memasuki profesi yang secara tradisi banyak dikuasai kaum pria. Mereka juga dilarang menjadi juri, "Karena perempuan tidak dapat berpikir logis dan obyektif, hanya dikuasai dan dituntun emosi saja."

Akan tetapi, pada akhirnya peran perempuan ditinggikan tatkala perang sudah di ambang pintu. Perempuan didorong masuk ke pabrik dan akhirnya bertentangan dengan prinsip awal mereka. Akibatnya, usaha pengerahan itu gagal apabila dibandingkan dengan negara-negara Sekutu yang berhasil memobilisasi tenaga kerja perempuan dalam industri perangnya. (Zika Zakiya/National Geographic Indonesia)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Tembikar Kuno Buktikan Kebenaran Kisah dalam Perjanjian Lama


KOMPAS.com — Sebuah pecahan kecil dari tembikar kuno yang ditemukan di Israel modern diyakini dapat mengungkap kehidupan masyarakat pada masa pewahyuan Alkitab. Temuan ini sekaligus menjadi bukti bahwa pemerintahan era raja Daud dan Salomo benar-benar ada.

Prasasti Ophel, yang diyakini berasal dari abad 10 SM, ditemukan pada bulan Desember 2012. Penemuan ini sempat membingungkan para ahli karena adanya tulisan dengan bahasa yang aneh.

Awalnya para ahli menyangka prasasti itu berisi tulisan dari bahasa Kanaan, kota tempat orang-orang yang dideskripsikan dalam Alkitab hidup yang kini telah menjelma menjadi Israel modern.

Namun, Dr Douglas Petrovich, seorang ahli sejarah Near Eastern dan studi Alkitab, meyakini bahwa tulisan tersebut merupakan bentuk asli dan tertua dari bahasa Ibrani.

Temuan ini menunjukkan jika masyarakat Israel kuno telah berada di Yerusalem jauh lebih awal daripada yang diduga sebelumnya.

"Penutur Ibrani berkuasa atas Yerusalem pada abad 10 SM. Masa ini bertepatan dengan masa pemerintahan Daud dan Salomo seperti yang tertulis dalam Alkitab. Siapa pun mereka, yang pasti mereka telah menuliskan bahasa Ibrani seperti mereka hidup di wilayahnya sendiri," ujar Dr Petrovich seperti yang dikutip oleh Daily Mail, Kamis (1/8/2013).

Jika dugaan Dr Petrovich benar, temuan ini dapat menjadi bukti atas kebenaran Perjanjian Lama dalam Alkitab. Artinya, kisah-kisah dalam Perjanjian Lama merupakan sebuah bentuk catatan sejarah dari kejadian-kejadian nyata dalam kehidupan umat manusia. Temuan ini sekaligus menjatuhkan dugaan bahwa masyarakat kuno Israel baru menuliskan kisah kehidupan mereka beberapa ratus tahun lebih akhir dari usia prasasti.

Penyataan Dr Petrovich menimbulkan kontroversi di kalangan komunitas arkeolog. Israel Finkelstein, seorang arkeolog dari Tel Aviv University, menyatakan jika prasasti Ophel penting untuk mengetahui sejarah awal Israel. Namun, "gagasan romantis" dari Alkitab seharusnya tidak mengaburkan metode ilmiah.

Pada tahun 2008, para arkeolog menemukan sebuah prasasti yang mirip dengan prasasti Ophel di sebuah situs yang kini diyakini sebagai istana Raja Daud. Temuan ini membangkitkan keyakinan bahwa apa yang tertulis di Alkitab ternyata akurat seperti berbagai hal yang tertulis dalam koran. (Dyah Arum Narwastu)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Bagaimana bila Ternyata Alam Semesta Tidak Mengembang?

Written By Unknown on Rabu, 31 Juli 2013 | 10.47


KOMPAS.com — Selama ini, pemahaman kita akan asal mula alam semesta telah didasarkan pada konsep bahwa alam semesta lahir melalui sebuah proses "dentuman besar" pada suatu ketika di masa lampau.

Tetapi, apakah benar demikian adanya? Sains selalu didasarkan pada justifikasi yang didasarkan fakta pengamatan. Akan tetapi, untuk mendapatkan justifikasi itu, sains selalu terbuka akan interpretasi yang bisa berbeda sama sekali.

Sebagaimana yang telah dipahami saat ini, bagaimana astronomi menjelaskan tentang alam semesta diperoleh dari cahaya yang dipancarkan/diserap dari atom-atom dari benda-benda langit, yang ditampilkan dalam warna, atau frekuensi, secara populer disebut sebagai pergeseran merah.

Apabila ada materi yang bergerak menjauh, dari Prinsip Doppler, warnanya akan cenderung menjadi lebih merah atau frekuensi yang lebih rendah dari spektrum elektromagnetik.

Prinsip dasar ini yang dipergunakan oleh para perintis teori "dentuman besar", seperti Georges Lemaitre yang merumuskan matematikanya, sementara Edwin Hubble mengamati bahwa memang galaksi-galaksi mengalami pergeseran merah, semakin jauh galaksinya, semakin mengalami pemerahan spektrumnya.

Dari hal tersebut dideduksikan bahwa alam semesta mengalami pengembangan sebagaimana yang telah kita terima saat ini.

Bagaimana jika alih-alih alam semesta mengembang—sebagaimana yang telah kita terima saat ini tidak terjadi, tetapi massa semua yang ada di alam semesta mengalami peningkatan?

Interpretasi seperti itu dapat membantu memberikan pemahaman yang lebih baik pada permasalahan yang dihadapi oleh Kosmologi saat ini. Walaupun masih perlu dukungan bukit yang dapat diamati dari teori tersebut, tetapi teori yang disampaikan oleh Christof Wetterich, ahli fisika teoritis dari Universitas Heidelberg, tampaknya cukup menarik perhatian karena teori fisikanya cukup sahih.

Sebagaimana yang telah diutarakan, bahwa cahaya itu adalah hasil interaksi atom-atom penyusun materi, hal ini dipergunakan oleh Wetterich untuk menyusun teorinya. Karakteristik cahaya yang dipancarkan atom juga dipengaruhi massa, serta juga denan elektron-elektron dalam atom tersebut.

Bayangkan apabila atom mengalami peningkatan massa, maka foton yang dipancarkan menjadi lebih berenergi dan karena energi berkorespondensi dengan frekuensi, semakin besar massa, semakin mengalami pergeseran ke biru dari spektrum yang teramati, dibandingkan dari keadaan yang sebelumnya telah diketahui, yaitu sebelum massa meningkat, demikian juga sebaliknya.

kKarena laju cahaya adalah terbatas, kita melihat galaksi-galaksi jauh sebagaimana kita melihat pada suat kala di masa lampau, kala cahaya mulai dipancarkan dari sumbernya.

Apabila massa kala itu rendah, dan kemudian mengalami peningkatan, warna galaksi tua akan mengalami pergeseran merah dibanding frekuensi-nya saat ini, dan jumlah pergeseran merahnya akan berbanding terhadap jaraknya ke Bumi. Dengan demikian, pergeseran merah galaksi akan menampilkan fenomena seolah-olah mereka mengalami pergeseran menjauh (padahal belum tentu demikian).

Pekerjaan yang dilakukan oleh Wetterich adalah murni konsep matematika guna menginterpretasi pergeseran merah, tetapi makna fisis-nya akan sama sekali berbeda dibanding yang kita pahami dari model "dentuman besar".

Bayangkan apabila ternyata alih-alih alam semeta berawal dari dentuman besar, hal itu tidak terjadi sama sekali, tetapi tidak ada awal alam semesta, bahkan alam semesta cenderung untuk menjadi statis, bahkan mengalami keruntuhan.

Tetapi, bagaimana kita dapat menguji model ini? Bagaimana kita dapat mengukur bahwa massa itu mengembang? Satu kilogram adalah massa yang sudah disepakati, diukur, dan ditera berdasarkan satuan standar yang telah ditentukan, di mana pun di seluruh alam semesta itu akan berlaku tetap. Bagaimana kita mengatakan satu kilogram mengalami peningkatan? Walaupun secara matematis itu boleh-boleh saja, akan tetapi tidak akan mudah untuk diuji.

Kendati demikian, teori yang disampaikan Wetterich tidaklah serta-merta ditolak karena teori-nya cukup sahih, dan demikian bisa menjadi pijakan apabila ada model-model alam semesta lain yang hendak diajukan, bahkan lebih lanjut lagi, membuka wawasan, dan mengantar kita mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang ada, yang kita belum pahami, dan keluar dari zona nyaman kemapanan pengetahuan kita, yang masih menyisakan banyak pertanyaan. (Nggieng/Langitselatan)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger