Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Suatu Hari, Manusia Bisa Berubah Menjadi Makhluk Berparuh

Written By Unknown on Jumat, 05 Juli 2013 | 10.47


KOM

PAS.com — Gareth Fraser, seorang dokter dari Shefferd University, mengatakan bahwa manusia bisa berevolusi sehingga suatu hari nanti dapat saja memiliki paruh.

Perubahan tersebut membutuhkan waktu lama. Manusia saat ini takkan melihat dalam rentang waktu hidupnya sebab evolusi gigi menjadi struktur yang kuat, dan kehadiran moncong memerlukan waktu beberapa juta tahun.

"Bisa saja manusia berevolusi menjadi punya paruh, seperti ikan buntal, yang mungkin lebih kuat dan praktis," kata Fraser seperti dikutip Daily Mail, Rabu (2/7/2013).

Ikan buntal pada awal hidupnya punya gigi. Namun, ikan ini secara terus menerus memproduksi bahan penyusun gigi hingga gigi berubah menjadi paruh. Perubahan ini perlu karena ikan tersebut membutuhkan struktur kuat untuk menghancurkan cangkang hewan mangsa dan memotong ikan lain.

Fraser menuturkan, "Dengan umur yang makin panjang dan diet modern, suplai gigi yang terbatas sudah tidak cocok."

Menurutnya, evolusi bisa memberikan jawaban untuk mengatasi tantangan ini. Misalnya, manusia bisa saja berubah menjadi memiliki paruh, seperti pada ikan buntal, untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidupnya. Ini tentu masih kemungkinan.

Fraser sendiri sebenarnya tengah meneliti alasan mengapa manusia hanya memiliki suplai gigi dua kali dalam hidupnya, sementara hiu bisa menumbuhkan gigi sekali dalam dua minggu.

Fraser kemudian menemukan adanya sel yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan gigi, bernama "tooth fairy" (peri gigi). Menurut Fraser, sel yang sama pada manusia bisa dipacu sehingga akan bisa menyuplai gigi lebih banyak, memungkinkan manusia ganti gigi lebih dari dua kali.

Jalan ke sana masih panjang. Jadi, Fraser mengatakan bahwa manusia masih harus menjaga giginya saat ini.

Dalam jangka pendek, kata Fraser, bisa dikembangkan, gel atau krim yang bisa memperbaiki gigi yang membusuk atau rusak sehingga manusia tak perlu menggantinya dengan gigi baru atau gigi palsu.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Vulcan \"Star Trek\" Gagal Jadi Nama Bulan Pluto

KOMPAS.com — Dua bulan Pluto yang baru saja ditemukan kini resmi dinamai oleh International Astronomical Union (IAU), organisasi dunia yang bertugas menamai sebuah benda langit.

Sebelumnya, dua bulan tersebut hanya disebut P4 dan P5. Kini, keduanya dinamai masing-masing Kerberos dan Styx.

IAU menamai dua bulan Pluto tersebut berdasarkan hasil pengumpulan suara lewat internet yang didukung oleh proyek Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI).

Ada beberapa nama yang sempat muncul sebagai calon nama bulan Pluto. Aktor William Shatner yang memerankan Kapten James T Kirk di serial Star Trek mengusulkan nama "Vulcan".

Dari sekian calon nama, sebenarnya "Vulcan" menjadi juaranya. Dari 500.000 pemilih, nama "Vulcan" didukung oleh 170.000 pemilih. Posisi kedua dan ketiga ialah "Cerberus" dan "Styx".

Namun, para penggemar Star Trek yang mendambakan penggunaan nama "Vulcan" harus kecewa. IAU memutuskan untuk tidak memakainya.

"IAU benar-benar mempertimbangkan nama ini, yang juga merupakan nama Dewa Gunung dalam mitologi Romawi," demikian pernyataan SETI yang dikutip Space, Selasa (2/7/2013).

"Namun, karena nama ini telah digunakan dalam astronomi dan karena dewa Romawi ini tidak berasosiasi secara dekat dengan Pluto, proposal ini ditolak," tambah SETI.

Berdasarkan kesepakatan IAU, bulan Pluto harus dinamai berdasarkan nama-nama dalam mitologi Romawi atau Yunani. Pluto adalah penguasa dunia dalam mitos masa lalu.

Cerberus adalah anjing berkepala tiga dalam mitologi Yunani. IAU memutuskan untuk memplesetkan nama ini sedikit menjadi Kerberos saat dipakai sebagai nama bulan Pluto.

Styx sendiri adalah sungai yang memisahkan yang hidup dan yang mati dalam mitologi kuno. Cerberus dan Styx masing-masing mendapat dukungan dari 100.000 dan 88.000 pemilih.

Styx dan Kerberos ditemukan dengan Teleskop Antariksa Hubble. Styx ditemukan tahun 2012, sementara Kerberos 2011. Keduanya adalah bulan mini, dengan diameter 20-30 kilometer.

Pluto memiliki beberapa bulan lain, di antaranya Charon, Nyx, dan Hydra. Charon adalah bulan terbesar Pluto, ditemukan tahun 1978.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Temuan-temuan yang Tak Menghasilkan Uang untuk Penemunya

(tetikus) adalah perlengkapan komputer yang sudah sangat jamak dipakai. Tetapi, Douglas Engelbart, peneliti sekaligus penemu tetikus ini, yang

dari paten tetikus. Engelbart tak sendirian soal karya yang tak mendatangkan uang meski dipakai di segala penjuru bumi.

Setidaknya, ada 10 karya yang tak kalah jamak dikenal di dunia laiknya tetikus, tetapi tak menjadi sumber uang bagi para penemunya. Apa sajakah karya itu? Juga siapakah penemunya?

Pertama, lampu LED. Ini adalah lampu kecil yang banyak dipakai di piranti elektronik meskipun dalam perkembangannya juga sudah mulai dipakai sebagai lampu penerangan karena kecilnya konsumsi listrik yang dibutuhkan. Penemu lampu LED adalah Nick Holonyak Jr pada 1962.

Holonyak jauh hari telah meramalkan lampu ini akan menggantikan bola lampu karya Edison. Rekan Holonyak berpendapat ia layak mendapat hadiah Nobel untuk penemuannya. Tetapi, Holonyak hanya menjawab dengan sederhana: "Ini konyol untuk berpikir bahwa seseorang berutang sesuatu (kepada saya). Saya beruntung masih hidup ketika datang ke sana."

Dua, Post-it notes. Para pekerja perkantoran atau mereka yang kerap berurusan dengan dokumen dan pesan pada umumnya mengenal benda ini. Sepotong kertas dengan perekat di satu bagiannya, yang memudahkan pesan atau catatan ditempel, tetapi bisa dipindah atau dilepaskan sama mudahnya kemudian.

3M menjual miliaran post-it notes per tahun, tetapi para penemunya sama sekali tidak kaya dari itu. Mereka

adalah Spencer Silver, yang pada 1968 mengembangkan perekat dengan karakteristik "dapat dipindahkan" dan Art Fry, yang punya gagasan tentang "catatan penunjuk" yang dapat ditempel di buku nyanyiannya.Tiga, senapan AK-47. Senapan legendaris dan diduga paling banyak digunakan di dunia ini adalah rancangan Mikhail Kalashnikov. Dia yang juga baru saja meninggal pekan lalu merancang senapan ini setelah selesai menjalani perawatan akibat luka di Perang Dunia II. Kabar terakhir, kesehatannya sedang dalam pantauan intensif.

Empat,

sapphire stylus. Mungkin ini karya yang tak lagi banyak dijumpai hari ini. Tetapi, pada masanya, alat temuan Marie Killick ini sangat bermanfaat untuk memutar piringan hitam. Pada 1958, dia pernah memenangkan gugatan untuk mendapatkan lisensi karyanya ini dari Pye, tetapi pada tahun berikutnya mengalami kebangkrutan. Lima, hovercraft. Ini adalah kapal dengan semacam pelampung ban udara sebagai dasarnya. Sir Christopher Cockerell menggunakan vacuum cleaner dan kaleng untuk menguji teori saat ia mengembangkan hovercraft. Kapal hasil teori ini melintas pertama kali pada 1959 dari Calais ke Dover. Cockerell mendapatkan penghargaan, tetapi sempat selama bertahun-tahun harus berjuang keras sekadar untuk mendapatkan lump sum dari National Research Development Corporation.
Enam, permainan tetris. Meski sudah masuk kategori "permainan lawas", tetris masih dapat dijumpai sampai hari ini. Programer Rusia mengembangkan permainan ini bersama teman-temannya di pusat penelitian yang didanai Pemerintah Rusia pada 1985. Ia baru mulai mendapatkan royalti 10 tahun kemudian ketika ia mendirikan The Tetris Company.

Tujuh, t

he wind-up radio. Penemu peralatan ini, Trevor Baylis, baru-baru ini mengatakan dia tak lagi bisa tinggal di rumahnya di London, Inggris. Meski karyanya terjual jutaan unit ke seluruh dunia, ia tak punya kontrol, apalagi keuntungan dari produk itu. Dia berkilah tak selalu sesuatu dibuat untuk uang.

Delapan, mesin karaoke. Alat yang masih populer sampai sekarang ini dibuat oleh

Daisuke Inoue. Bermula dari dia yang berhalangan datang bermain drum untuk sebuah band yang biasanya mengiringi pengunjung menyanyi. Dia buatlah apa yang sekarang disebut dengan alat karaoke itu agar para pengunjung bar itu tetap bisa bernyanyi dengan iringan musik yang sudah dia rekam terlebih dahulu. Inou tak mematenkan temuannya itu dan nyaris tak mendapatkan yen dari alat itu.

Sembilan, mp3. Bagi pengguna internet dan peralatan komputer, format mp3 sangat familiar untuk mendengarkan musik dan rekaman suara. Penemu format file suara ini adalah

Karlheinz Brandenburg, yang pada 1980 merupakan mahasiswa doktoral di Jerman. Karena tak punya uang untuk mendistribusikan karyanya, dia menyebarkan format mp3 sebagai shareware, alias nyaris gratis dengan mengharap atau mematok sumbangan dari pengguna.

Sepuluh, www alias world wide web. Semua pengguna internet hari ini sangat mengenal deretan tiga huruf yang mengawali alamat sebuah situs meski kini bukan satu-satunya. Penemu prosedur internet tersebut adalah

Sir Tim Berners-Lee, yang membuatnya untuk mempermudah pekerjaan para peneliti di laboratorium CERN di Eropa. Dia berpendapat, keberhasilan penyebaran temuannya ini dengan tepat adalah karena prosedur itu tersedia bebas dan gratis.

Dari karya-karya di atas, pernyataan Dr Tilly Blyth, Keeper of Engineering and Technology at the Science Museum, sepertinya mewakili. "

Tidak semua penemu terdorong untuk membuat uang, tetapi beberapa ingin membuat kontribusi untuk kebaikan bersama."

Menurut Blyth, orang-orang cenderung melihat sebuah riset dan produk sebagai pengembangan komersial. Tetapi, pada kenyataannya, ujar dia, masyarakat dan pemerintahlah yang mengantarkan sebuah penemuan sampai tahap tertentu.

"

Jika melihat iPhone, Anda pikir itu sebuah penemuan besar dari Steve Jobs dan Apple. Tetapi, komponen vital seperti layar, cip, prosesor, dan asal usul mereka semua adalah dalam penelitian yang didanai pemerintah," tutur Blyth. Banyak penelitian, tegas dia, berasal dari pikiran yang murni dan "berlangit biru", yang dilakukan di fasilitas penelitian publik dengan tujuan kebaikan umat manusia, bukan untuk menghasilkan uang.

10.47 | 0 komentar | Read More

Lembuswana, Satwa Mitologi Sang Kota Raja

Written By Unknown on Kamis, 04 Juli 2013 | 10.47

KOMPAS.com — Berbelalai bukan gajah, bertaring bukan harimau, bertaji bukan ayam. Legenda kemunculannya di Sungai Mahakam ratusan tahun silam menjadikannya simbol Kerajaan Kutai Kartanegara.

Sosok berwarna keemasan nan berkilau ditempa matahari itu menjadi ikon penanda di halaman depan Museum Mulawarman, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Patung satwa itu berbadan kuda yang berisisik dan bertaji.

Taringnya yang menghunus ganas yang mengapit belalai itu muncul dalam legenda masyarakat setempat. Namanya Lembuswana, sang penguasa Sungai Mahakam yang bersemayam di palung sungai itu.

Patung Lembuswana tersebut merupakan karya seniman Burma pada pertengahan abad ke-19, tetapi baru menghias pelataran kedaton Kutai Kartanegara sejak awal abad ke-20.

Kemunculan Lembuswana ini kerap dihubungkan dengan kisah lahirnya Putri Karang Melenu yang muncul bersama satwa mitologi itu dari dasar Sungai Mahakam. Kelak sang putri menikah dengan Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti. Dari sang putri itu dilahirkan penerus dinasti raja-raja Kutai Kartanegara.

Leluhur warga Kutai memercayai bahwa Sang Lembuswana merupakan tunggangan Mulawarman, yang bertakhta sebagai raja Kutai sekitar 1.500 tahun silam.

Tampaknya mirip dengan sebagian besar penganut Shiwa di Nusantara bahwa lembu merupakan kendaraan Dewa Shiwa: Raja Majapahit pun dilambangkan sebagai Shiwa pula.

Satwa mitologi ini telah menjadi simbol keperkasaan dan kedaulatan seorang penguasa. Unsur belalainya menandakan bahwa satwa ini juga perlambang sosok Ganesha, Dewa Kecerdasan.

Selain di Museum Mulawarman, patung Lembuswana raksasa juga menghiasi Pulau Kumala, tempat rekreasi di tengah Sungai Mahakam. Lembuswana telah meretas masa dari zaman kerajaan Hindu tertua sampai kasultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, tetapi makna bagi warga Kutai tetap tidak berubah bahwa sosok ini mengikhtisarkan pula pemimpin yang mulia seharusnya juga mengayomi rakyat. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Gempa Susulan di Aceh Sudah Terjadi 16 Kali

JAKARTA, KOMPAS.com - Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, hingga hari ini sudah terjadi 16 kali gempa susulan yang terjadi di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, pascagempa besar yang terjadi di wilayah tersebut dengan kekuatan 6,2 SR, Selasa (2/7/2013) siang.

"Adapun gempa yang paling kuat terjadi dua kali, yaitu yang pertama (Selasa) pukul 20.55 WIB dengan kekuatan 5,5 SR. Kemudian pada pukul 22.36 WIB dengan kekuatan 5,3 SR," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Rabu (3/7/2013) di Jakarta.

Hingga saat ini, lanjut Sutopo, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berjumlah 24 orang, 2 hilang, dan 249 orang luka-luka. Jumlah tersebut bertambah 2 orang, dari sebelumnya 22 orang. Adapun jumlah 14 korban terdapat di Kabupaten Bener Meriah, dan 10 terdapat di Kabupaten Aceh Tengah.

"Adapun kerusakan bangunan berjumlah 300 rumah dan saat ini masih pendataan. Beberapa akses jalan tertutup tanah longsong. Di Takengon (Ibukota Kabupaten Aceh Tengah) sudah dikerahkan dua buldozer untuk penanganan jalan," jelas Sutopo.

Gempa yang mengguncang Aceh kemarin memiliki pusat gempa di daratan pada kedalaman 10 kilometer. Pusat gempa di daratan ini yang membuat kerusakan akibat gempa tergolong besar meski magnitudo gempa lebih rendah dari gempa Aceh 11 April 2012 lalu yang mencapai 8,5.

Pakar kegempaan Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano, mengatakan bahwa mekanisme gempa Aceh kemarin adalah sesar geser. Gempa Aceh ini mirip dengan gempa Yogyakarta tahun 2006 yang juga berpusat di sesar daratan.

Gempa ini menjadi evaluasi lagi pentingnya bangunan tahan gempa dan pembangunan kota yang berbasis wawasan kegempaan sehingga jumlah korban tewas dan kerugian akibat gempa bisa dikurangi.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Video Ini Suguhkan Pemandangan Terbitnya Bulan Mars

KOMPAS.com — Kendaraan antariksa Curiosity milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang sedang menjalankan misi di Mars menyajikan pemandangan terbitnya bulan Mars, Phobos, setelah senja di planet tersebut.

Video ini pastinya langka. Tim peneliti misi Curiosity membuat video tersebut berdasarkan 86 gambar yang ditangkap oleh kamera Curiosity yang memotret terbitnya Phobos pada senja di Mars tanggal 28 Juni 2013 lalu.

"Kau ingin Bulan. Ini dia! Lihat footage dari kamera Navcam saya yang menunjukkan terbitnya Phobos," demikian tulis NASA lewat akun Twitter Curiosity pada Senin (1/7/2013) lalu, seperti dikutip Space, Rabu (3/7/2013).

Walau video di atas hanya berdurasi 32 detik, proses terbitnya Phobos di Mars sebenarnya memakan waktu 27 menit. Pada video, lingkaran serupa cincin sebenarnya hanya pengaruh penyebaran cahaya di kamera. Sementara pada video, Phobos tampak bergerak ke atas.

Phobos adalah bulan Mars yang berukuran 22 kilometer, lebih besar dari "saudaranya", Deimos, yang lebih kecil. Banyak ilmuwan berpikir bahwa Phobos dan Deimos mulanya adalah asteroid yang kemudian tertangkap gravitasi mars.

Curiosity telah mendarat di Mars sejak Agustus 2012 lalu. Beragam penemuan telah dihasilkan, mulai dari batu Mars yang mirip batu di Bumi hingga bukti adanya air di Mars. Untuk video terbitnya Phobos, bisa dilihat di bawah ini.

Editor : Yunanto Wiji Utomo


10.47 | 0 komentar | Read More

Kompas Anugerahi Lima Cendekiawan Berdedikasi 2013

Written By Unknown on Selasa, 02 Juli 2013 | 10.47

JAKARTA, KOMPAS.com — Harian Kompas memberikan penghargaan kepada lima cendekiawan berdedikasi 2013. Penghargaan diberikan kepada Ahmad Syafii Maarif (78), Benjamin Mangkoedilaga (76), Budi Darma (76), Karlina Supelli (55), dan Salahuddin Wahid (71).

Pemberian penghargaan tersebut berlangsung di Gedung Kompas Gramedia, Jalan Palmerah Selatan, Kamis (27/6/2013). Acara itu dihadiri oleh Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama dan Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bangun.

Penghargaan tersebut disambut gembira oleh para penerima. Mereka bernostalgia bagaimana pertama kali berhubungan dengan Kompas.

Misalnya saja, mantan Hakim Agung Benjamin Mangkoedilaga. Dia menceritakan pertama kali membaca Kompas pada tahun 1967. Bahkan, dia pernah bekerja menjadi loper koran. Menurutnya, Kompas memberinya inspirasi sebagai seorang hakim.

"Kompas punya keberanian. Menginspirasi saya untuk berkata benar adalah benar, salah adalah salah. Kalau tidak ada Kompas, saya tidak merasakan apa yang saya pernah jalani," kata pria kelahiran Garut, 30 September 1937 itu.

Sementara Gus Solah, atau Salahuddin Wahid, mengibaratkan Kompas sebagai nasi. Sejak tahun 1965, dia sudah membacanya.

"Pemberitaannya tidak bombastis, menempatkan diri pada posisi yang pas dalam menyikapi masalah," puji adik Gus Dur ini.

Gus Solah menyebut penghargaan ini diberikan bukan hanya kepada dirinya, tapi juga kepada Pesantren Tebu Ireng. Menurutnya, di Tebu Ireng, dia bisa membuat hal nyata, bukan sekadar tulisan. Dia bisa mendirikan klinik kesehatan, dan bahkan rencananya akan membangun pesantren sains.

"Pesantren sains yang fokus dengan sains. Agama dan ilmu bisa berdampingan," ujarnya.

Penghargaan kepada para cendekiawan ini berasal dari Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama, yang pertama kali diberikan pada 2008. Penghargaan disampaikan sebagai ucapan terima kasih khusus kepada para kontributor artikel Kompas.

Dihitung sejak 2008 sampai 2012, setiap tahun lima orang, kelima penerima penghargaan tahun ini melengkapkan jumlah 30 orang. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada banyak penulis dan tokoh yang tak bisa masuk dalam kriteria di atas, Jakob Oetama merasa pada akhirnya "kita harus melakukan pilihan".

Editor : Ana Shofiana Syatiri


10.47 | 0 komentar | Read More

Agfor Fokus Konservasi di Kayu Loe


BANTAENG, KOMPAS.com - Beberapa wilayah di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, mengalami penurunan fungsi lahan pertanian. Penurunan fungsi lahan tersebut, diakibatkan oleh beberapa hal, terutama penggunaan lahan yang tak seharusnya untuk tanaman pertanian.

Hal itulah yang dialami oleh Desa Kayu Loe, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang menjadi salah satu wilayah garapan Agfor Sulawesi (Agroforestry and Forestry in Sulawesi). Dalam pelaksanaannya, proyek Agfor Sulawesi dilaksanakan oleh World Agroforestry Center atau dikenal dengan nama Icraf didukung oleh Center for International  Forestry Research (CIFOR), Sahabat Alam Bantaeng (Balang), Pemerintah Daerah dan mitra lokal.

Mulus Surgana dari Icraf, mengatakan penurunan fungsi lahan banyak diakibatkan oleh pola intensitas pertanian yang kurang baik. "Yang terjadi di Kayu Loe adalah intensitas penanaman holtikultura yang terus menerus tanpa memperhatikan ketahanan tanah," kata Mulus di Kantor Desa Kayu Loe, Bantaeng, Kamis (20/6/2013).

Misalnya, ujar Mulus, penanaman jagung terus menerus. Hal tersebut mengakibatkan tanah tergerus oleh air. Sehingga lapisan tanah atas yang paling subur dan mengandung unsur hara tersebut hilang, menyisakan lapisan tanah bawah yang mengandung sedikit unsur hara.

Ditambah lagi, penggunaan pupuk kimia yang berlebihan juga akan mengurangi daya dukung lahan. Maka dari itu, digelar mini workshop untuk masyarakat desa Kayu Loe mengenai rencana tata guna lahan yang ada di desa pada Kamis (20/6/2013).


Pada workshop yang dihadiri oleh masyarakat serta para pemangku kepentingan desa, didiskusikan tentang tanaman apa saja yang memungkinkan untuk ditanam pada lahan yang dimiliki desa.

Philip Manalu dari Cifor mengatakan mini workshop merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh Agfor untuk mengkonservasi lahan yang ada di desa dengan mengajak penduduk desa bersama-sama menghidupkan kembali lahan mereka. Hal tersebut akan berimbas kepada perekonomian penduduk karena sebagian masyarakat desa bermata pencaharian sebagai petani dengan memanfaatkan lahan desa yang ada.

"Karena Agfor itu berfokus pada tata guna lahan. Bagaimana caranya? yakni dengan diperkuat kelembagaannya yang mengurusi pemanfaatan lahan di daerah. Diatur mekanismenya seperti apa, dipilih jenis-jenis yang sesuai dengan kondisi lahan juga topografinya," kata Philip.

"Mulai dari benih, perlakuan terhadap benih, pengaturan jarak tanam, pemangkasan cabang hingga saat panen itu semuanya diperhatikan. Jenis tanaman yang ditanam juga dipilih yang bisa memberi penghidupan bagi masyarakat," lanjutnya.

Untuk menjalankan program ini, pihak Agfor memerlukan kerjasama dari pemerintah berupa pembinaan dan pengawasan yang melekat dan partisipatif kepada masyarakat. "Dengan memfasilitasi proses-proses yang bertujuan untuk memperbaiki lahan-lahan yang terdegradasi, memberikan kemudahan informasi sumber benih. Misalnya jenis tanaman dan cara tanam juga asas-asas keuangan bagi petani. Bagaimana mengatur keuangan yang mereka terima setelah
panen untuk menghadapi musim tanam berikutnya," katanya.

Editor : Wisnubrata


10.47 | 0 komentar | Read More

Mahasiswa ITB Menangi Kompetisi Internasional Keamanan \"Cyber\"

BANDUNG, KOMPAS.com — Polrestabes Bandung hingga saat ini masih menyelidiki penyebab kebakaran gedung Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) yang terjadi pada Sabtu (29/6/2013) dini hari. Material sisa kebakaran telah dikirim ke laboratorium forensik Mabes Polri.

"Sampai sekarang belum diketahui apa penyebab timbulnya api hingga membakar ruang dosen dan ratusan arsip serta komputer," kata Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Sutarno, di Mapolres Bandung, Senin (1/7/2013). Dia masih menunggu hasil dari laboratorium forensik Mabes Polri, untuk mengetahui penyebab kebakaran tersebut.

"Kami belum mau menyimpulkan apa penyebab dari kebakaran itu, termasuk dugaan sementara dari korsleting listrik. Jadi kita lebih baik tunggu hasil dari Mabes Polri," kata Sutarno. Ia mengatakan, Polrestabes Bandung telah mengirim material bekas terbakar di gedung tersebut untuk diinvestigasi laboratorium forensik Mabes Polri sesaat sudah kejadian.

"Kami sudah kirim material dan kita tunggu apa hasilnya. Selain itu, saksi-saksi telah dimintai keterangan," imbuh Sutarno. Kebakaran di kampus yang beralamat di Jalan Ganeca, Kota Bandung, Jawa Barat, tersebut menghanguskan lantai dua gedung Program Studi Teknik Industri ITB.

Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Akhmaloka mengatakan, kerugian material akibat terbakarnya lantai dua Gedung Program Studi Teknik Industri tersebut diperkirakan mencapai Rp 100 juta rupiah.


10.47 | 0 komentar | Read More

Agfor Fokus Konservasi di Kayu Loe

Written By Unknown on Senin, 01 Juli 2013 | 10.47


BANTAENG, KOMPAS.com - Beberapa wilayah di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, mengalami penurunan fungsi lahan pertanian. Penurunan fungsi lahan tersebut, diakibatkan oleh beberapa hal, terutama penggunaan lahan yang tak seharusnya untuk tanaman pertanian.

Hal itulah yang dialami oleh Desa Kayu Loe, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang menjadi salah satu wilayah garapan Agfor Sulawesi (Agroforestry and Forestry in Sulawesi). Dalam pelaksanaannya, proyek Agfor Sulawesi dilaksanakan oleh World Agroforestry Center atau dikenal dengan nama Icraf didukung oleh Center for International  Forestry Research (CIFOR), Sahabat Alam Bantaeng (Balang), Pemerintah Daerah dan mitra lokal.

Mulus Surgana dari Icraf, mengatakan penurunan fungsi lahan banyak diakibatkan oleh pola intensitas pertanian yang kurang baik. "Yang terjadi di Kayu Loe adalah intensitas penanaman holtikultura yang terus menerus tanpa memperhatikan ketahanan tanah," kata Mulus di Kantor Desa Kayu Loe, Bantaeng, Kamis (20/6/2013).

Misalnya, ujar Mulus, penanaman jagung terus menerus. Hal tersebut mengakibatkan tanah tergerus oleh air. Sehingga lapisan tanah atas yang paling subur dan mengandung unsur hara tersebut hilang, menyisakan lapisan tanah bawah yang mengandung sedikit unsur hara.

Ditambah lagi, penggunaan pupuk kimia yang berlebihan juga akan mengurangi daya dukung lahan. Maka dari itu, digelar mini workshop untuk masyarakat desa Kayu Loe mengenai rencana tata guna lahan yang ada di desa pada Kamis (20/6/2013).


Pada workshop yang dihadiri oleh masyarakat serta para pemangku kepentingan desa, didiskusikan tentang tanaman apa saja yang memungkinkan untuk ditanam pada lahan yang dimiliki desa.

Philip Manalu dari Cifor mengatakan mini workshop merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh Agfor untuk mengkonservasi lahan yang ada di desa dengan mengajak penduduk desa bersama-sama menghidupkan kembali lahan mereka. Hal tersebut akan berimbas kepada perekonomian penduduk karena sebagian masyarakat desa bermata pencaharian sebagai petani dengan memanfaatkan lahan desa yang ada.

"Karena Agfor itu berfokus pada tata guna lahan. Bagaimana caranya? yakni dengan diperkuat kelembagaannya yang mengurusi pemanfaatan lahan di daerah. Diatur mekanismenya seperti apa, dipilih jenis-jenis yang sesuai dengan kondisi lahan juga topografinya," kata Philip.

"Mulai dari benih, perlakuan terhadap benih, pengaturan jarak tanam, pemangkasan cabang hingga saat panen itu semuanya diperhatikan. Jenis tanaman yang ditanam juga dipilih yang bisa memberi penghidupan bagi masyarakat," lanjutnya.

Untuk menjalankan program ini, pihak Agfor memerlukan kerjasama dari pemerintah berupa pembinaan dan pengawasan yang melekat dan partisipatif kepada masyarakat. "Dengan memfasilitasi proses-proses yang bertujuan untuk memperbaiki lahan-lahan yang terdegradasi, memberikan kemudahan informasi sumber benih. Misalnya jenis tanaman dan cara tanam juga asas-asas keuangan bagi petani. Bagaimana mengatur keuangan yang mereka terima setelah
panen untuk menghadapi musim tanam berikutnya," katanya.

Editor : Wisnubrata


10.47 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger